Pikirkan Juga Nasib Kaum Marjinal

Warga Kampung Nias, Batam, memilih menginap di kantor DPRD Kota Batam, setelah rumah dan peternakan mereka digusur pemerintah.
Warga Kampung Nias, Batam, memilih menginap di kantor DPRD Kota Batam, setelah rumah dan peternakan mereka digusur pemerintah.

WARGA Kampung Nias di kawasan sekitar Bandara Hang Nadim, Batam, digusur paksa oleh 600-an petugas  Tim Gabungan dari TNI, Polri, Satpol PP, KP2, Ditpam OB, dan Dinsos Pemko Batam. Rumah dan peternakan babi milik 86 kepala keluarga diratakan dengan tanah.  Sebanyak 3.000 ekor ternak babi milik mereka, kini berkeliaran bebas di hutan.

Warga yang sudah bermukim dan berusaha di lokasi itu selama 10 tahun, harus meninggalkan lokasi tersebut. Penggusuran itu mengakibatkan lebih dari 100 orang kehilangan tempat berteduh karena rumah mereka sudah tiada. Mereka juga kehilangan sumber pendapatan. Kini mereka tak punya sumber penghidupan. Anak-anak mereka pun tak bisa sekolah. Apalagi penggusuran tersebut sempat diwarnai kekerasan oleh aparat, kendati dibantah.

Dalam hearing bersama DPRD Batam, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (KP2K) Batam, Suhartini, menyatakan bahwa penggusuran itu adalah proyek untuk menghabiskan anggaran. Sebab, jika tidak melakukan penggusuran, anggaran untuk pos tersebut akan hangus pada penutupan tahun anggaran.  Penggusuran itu sendiri menghabiskan biaya Rp 1,2 miliar.

Perwakilan warga menyesalkan sikap Dinas KP2K  yang dinilai mengorbankan masyarakat kecil hanya untuk menghabiskan anggaran. Apalagi masih banyak  contoh lokasi-lokasi lain yang merupakan kawasan hutan lindung, tetapi diberikan kepada pengusaha untuk mengembangkan properti dan sebagainya. Sebagai warga kecil, mereka merasa telah dianaktirikan.  Mereka merasa, nasib mereka sebagai rakyat kecil tidak diperhatikan. Bahkan mereka hendak disingkirkan.

Memandang dari satu sisi, warga memang salah karena menghuni lokasi yang tidak diperuntukan sebagai permukiman dan peternakan babi. Tapi dari sisi lain, mereka justru dibiarkan menempati lahan tersebut selama 10 tahun. Seandainya mereka dicegah sejak awal, peristiwa penggusuran yang menyakitkan itu tak akan terjadi.

Pemerintah menawarkan ganti rugi Rp 3 juta bagi setiap KK yang mau dipindahkan tanpa kavling pengganti dan Rp 1 juta bagi warga yang mau menempati kavling pengganti. Persoalannya, mereka adalah peternak babi dan tidak punya pilihan usaha yang lain untuk mencari nafkah.

Maka warga Kampung Nias mengadukan nasib mereka kepada para wakil rakyat di DPRD Kota Batam. Mereka juga menempati gedung DPRD sampai diberikan jalan keluar terbaik bagi kelanjutan kehidupan mereka.

Dewan telah menjawab harapan warga melalui keputusan rapat pada Kamis ( 5/12/2008 ) lalu. Sayangnya poin-poin yang dihasilkan hanya merupakan penyelesaian jangka pendek, seperti penyediaan makanan bagi korban gusuran dan antar jemput bagi anak-anak mereka yang sekolah selama dua hari.

Tidak ada solusi terhadap substansi persoalan yang dihadapi warga korban gusuran.  Padahal, yang mereka butuhkan adalah bagaimana  bisa melanjutkan hidupnya setelah kehilangan sumber mata pencaharian utama. Di sini dibutuhkan good governance.  Bagaimana pemerintah dan DPR memikirkan jalan keluarnya. Misalkan memberikan sebuah tempat khusus bagi mereka untuk bisa melanjutkan usahanya.  Karena hanya itu keahlian mereka yang umumnya merupakan korban tsunami di Nias, Sumatera Utara.

Selain itu, ke depannya, eksekutif dan legislatif harus segera menyusun strategi pembangunan yang lebih manusiawi . Tetap tegas, namun tidak semena-mena melanggar hak-hak kaum marjinal. Dibutuhkan analisis akar masalah penyebab maraknya permukiman liar di Batam, kemudian merumuskan orientasi, model, dan strategi pembangunan kota yang memerhatikan kepentingan kaum marjinal.

Langkah antisipatif  mencegah semakin menjamurnya permukiman liar juga harus dilakukan sejak sekarang. Supaya ke depan tidak ada lagi penggusuran yang melukai hari rakyat miskin. Mereka juga memiliki hak yang sama dalam mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan di perkotaan. Karena mereka juga rakyat Indonesia. Mereka adalah bagian dari kita semua.(*)

Iklan

4 thoughts on “Pikirkan Juga Nasib Kaum Marjinal”

  1. apakah pegusuran harus ada kekerasan…???
    mereka memperjuangkan hak mereka,,karna demi sesuap nasi…..
    mereka ingin menyekolahkan anaknya…..
    agar nasibnya tidak akan seperti mereka…..

    Suka

  2. Marjinal hanyalah kaum lemah yang mencari tambahan penghasilan di kota.
    Apakah memang sudah tidak ada solusi yang solutif buat mereka.
    Kalau hanya di beri ganti rugi, cepat atau lambat mereka pasti kan kembali.
    Marginal, , , berjuanglah.

    Suka

  3. ayo kampung nias terus berjuang….
    aq percaya…kalaian bisa… penindasan saat ini dimana kita sudah saatnya memalingkan muka kepada para pejabat yng sduah lama tidak mau mendengarkan suara hati kita….

    MARJINAL…. Bless u

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s