Lawan Korupsi Sekarang!

HARI ini, Selasa 9 Desember 2008, merupakan hari Antikorupsi Internasional. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggunakan tema seperti judul tulisan ini, “Lawan Korupsi Sekarang”!

Korupsi adalah hasil persilangan antara keserakahan dan ketidakpedulian sosial. Yang tega melakukan korupsi adalah mereka yang tidak dapat mengendalikan keserakahan dan tidak peduli atas dampak dari perbuatannya terhadap bangsa dan negara.

Kita semua tahu bahwa bangsa Indonesia terpuruk oleh korupsi dan perilaku koruptif berbagai kalangan. Mulai dari pejabat negara, penegak hukum, pengusaha, bahkan pegawai biasa.  Wartawan pun tak luput dari perilaku buruk ini.

Masing-masing melakukan korupsi dalam berbagai bentuk dan rupa. Tampaknya hampir semua unsur di negeri ini seperti tak bisa menahan diri terhadap perilaku koruptif.  Karena itu, dengan peringatan hari Antikorupsi Internasional ini, kita perlu kembali berkomitmen untuk sama-sama melawan korupsi.

Pada peringatan tersebut di gedung KPK, Jakarta, rencananya akan dhadiri oleh 33 gubernur se-Indonesia, Ketua KPK Antasari Azhar, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, dan Jaksa Agung Hendarman Supandji. Semuanya akan berikrar tentang komitmen antikorupsi.

Lantas, apakah ketika para petinggi itu sudah menyatakan komitmen lalu sekonyong-konyong korupsi akan hilang dari republik ini? Tentu saja tidak!  Apalagi korupsi di Indonesia sudah menjadi kejahatan struktural, kekerasan sebagai hasil interaksi sosial yang berulang dan terpola.

Kita ingat bahwa pada tahun 2004 silam, Mahkamah Konstitusi juga telah mendeklarasikan pernyataan antikorupsi, seiring keluarnya Instruksi Presiden (Inpres) No. 5 Tahun 2004, tentang percepatan pemberantasan korupsi.

Institusi-institusi seperti Kejaksaan Agung, Bank Indonesia, dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) juga melakukan hal serupa. Ternyata sampai sekarang korupsi masih terus terjadi. Justru orang-orang dari institusi-institusi tersebut kini ramai diberitakan karena terlibat berbagai kasus korupsi.

Menurut seorang pendidik, Mochtar Buchori dalam tulisannya yang dimuat Harian Kompas, 21 Februari 2007, korupsi hanya dapat dihapuskan dari kehidupan kita secara berangsur-angsur. Pendidikan untuk membasmi korupsi sebaiknya berupa persilangan (intersection) antara pendidikan watak dan pendidikan kewarganegaraan.

Pendidikan untuk mengurangi korupsi harus berupa pendidikan nilai, yaitu pendidikan untuk mendorong setiap generasi menyusun kembali sistem nilai yang diwarisi.

Korupsi tidak pernah bisa dihapus secara mendadak. Harus melalui proses dan berangsur-angsur. Dalam kasus Indonesia, mungkin butuh 15-20 tahun sebelum korupsi benar-benar terkendalikan dalam kehidupan kita.

Alasannya, benih-benih korupsi ada dalam tubuh kita sebagai bangsa. Bangsa adalah keseluruhan, dari lapisan-lapisan generasi yang ada pada suatu waktu. Generasi tua menurun ke generasi dewasa, generasi hampir dewasa, generasi remaja, sampai ke generasi muda.

Dengan demikian, mengendalikan atau mengurangi korupsi bagi suatu bangsa adalah keseluruhan upaya untuk melahirkan generasi baru yang mampu mengembangkan sistem nilai yang menolak korupsi secara lebih tegas, lebih definitif daripada yang kita lakukan kini.

Apa yang dilakukan generasi sekarang terhadap korupsi? Secara lahiriah, mencela dan mengutuk, tetapi dalam hati membiarkan dan memaafkan.  Dengan sikap batin seperti ini, kita tak akan pernah tegas mampu menolak godaan-godaan untuk berkorupsi.

Dilihat dalam konteks pendidikan, tindakan untuk mengendalikan atau mengurangi korupsi adalah keseluruhan upaya untuk mendorong generasi-generasi mendatang mengembangkan sikap menolak secara tegas setiap bentuk tindak korupsi.

Perubahan dari sikap membiarkan dan menerima ke sikap tegas menolak korupsi, tidak pernah terjadi jika kita tidak secara sadar membina kemampuan generasi mendatang untuk memperbarui sistem nilai yang diwarisi, sesuai dengan tuntutan yang muncul dalam setiap tahap perjalanan bangsa.

Mengapa pendidikan antikorupsi sangat penting? Lihatlah kehidupan kita sekarang. Anak-anak kita, mereka yang akan menjadi generasi penerus bangsa, telah terjebak dalam kehidupan yang sangat materialistis dan individualistis. Nilai-nilai luhur bangsa seperti kejujuran, kebersamaan (gotong royong), kemajemukan budaya, kesederhanaan, dan keagamaan sudah semakin memudar. Inilah yang dapat membuat seseorang mudah terjatuh ke lembah korupsi.

Nah, dengan pendidikan antikorupsi yang terus-menerus, disertai upaya menanamkan kembali nilai-nilai luhur sebagaimana disebutkan di atas, niscaya pada masa mendatang bangsa kita bisa menekan angka korupsi sampai ke level serendah-rendahnya.
Itu pun bisa tercapai bila kita memulainya dari sekarang. Kalau perlu pendidikan antikorupsi masuk kurikulum sekolah. Mari kita sama-sama berikrar: lawan korupsi sekarang juga!(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s