Ibu, Pahlawan Saya

Ibu saya menggendong cucu pertamanya, Michelle, yang tak lain anak saya.
Ibu saya menggendong cucu pertamanya, Michelle, yang tak lain anak saya.

Ibu saya adalah seorang pahlawan yang luar biasa bagi kami, keempat anaknya. Saya  sangat merasakan kasih dan perjuangan luar biasa dari Ibu. Konon, menurut cerita keluarga di kampung, Ibu saya hampir meninggal ketika melahirkan saya. Tapi asal tahu, Ibu saya tak pernah menceritakan itu kepada saya.

Dan ketika saya masuk SD, akhir tahun 1970-an, Ibu secara sembunyi-sembunyi selalu memberikan uang jajan Rp 50 setiap tiga hari dalam seminggu. Padahal Bapak saya paling tidak suka anak-anaknya diberi uang jajan. Dia menganggap ibu terlalu memanjakan kami.

Ketika saya SMA, Bapak  melanjutkan kuliah ke S1.  Biaya kuliahnya sangat besar untuk ukuran ketika itu. Padahal penghasilan Bapak saya yang hanyalah seorang guru SD di kampung, sangat tidak cukup.

Kami memang termasuk keluarga (cukup) miskin. Bapak dan Ibu kesulitan membiayai pendidikan kami dan ongkos transportasi kami ke sekolah.   Ibu saya tidak tinggal diam. Dia bekerja sangat keras untuk mencari tambahan. Dia memutuskan untuk berkebun. Menanam sayuran dan hasilnya dia jual untuk membantu biaya sekolah kami.  Pagi-pagi dia sudah harus bangun untuk menyirami tanamannya. Demikian pula saat sore. Malam hari pun dia nyaris tidak tidur karena harus menjaga kebunnya dari serbuan ternak sapi, kerbau, dan babi yang dilepas bebas oleh pemiliknya.

Hasil dari kerja sangat keras itu pun masih kurang. Sehingga seringkali Ibu saya harus membuang jauh-jauh rasa malunya dengan meminjam uang kesana kemari untuk ongkos transport dan biaya sekolah kami.

Tak hanya itu. Setelah menyiram sayuran di kebun, Ibu saya juga harus menjual ikan berkeliling kampung. Rumah kami memang dekat pantai. Dan Bapak saya bekerja sampingan sebagai nelayan.  Hasil tangkapan Bapak itulah yang dijual ibu berkeliling kampung. Bahkan sampai kampung sebelah. Dia berjalan kaki belasan kilometer untuk menjual ikan.  Kondisi itu berlangsung sampai saya menyelesaikan kuliah. Kami sering kasihan melihat Ibu bekerja terlalu keras. Bila liburan sekolah/kuliah atau hari Minggu, terkadang saya dan adik saya yang menjual ikan-ikan itu agar ibu bisa istirahat.

Tentu saja dia sangat capek. Tubuhnya yang kecil dan kurus itu dipaksa bekerja melampaui kemampuannya. Namun Ibu (juga Bapak saya) seolah punya energi ekstra dalam melakukan semua itu. Mengeluhkah Ibu? Tidak. Dia justru akan sangat marah bila kami tidak ke sekolah. Bila kami bolos, ibu sangat marah. Tapi dia tidak melakukannya dengan membentak-bentak kami. Dia melakukan dengan caranya sendiri. Menangis. Ya, dia  menangis.

Tangisan Ibu saya itu bermakna ganda. Pertama, dia tidak ingin kami putus sekolah karena kesalahan kami sendiri. Karena Ibu dan Bapak sudah bekerja demikian kerasnya untuk kami. Kedua, dia takut kami dimarahi Bapak. Sebagai guru tempo doeloe, Bapak mendidik kami dengan sangat keras. Jika tidak ke sekolah atau nilai kami rendah, kami ditampar dan tidak boleh dikasih makan. Bahkan adik saya pernah ditampar, ditelanjangi, lalu disuruh tidur di kandang babi, gara-gara bolos sekolah. Ibu sangat sedih bila kami diperlakukan seperti itu. Kami yang dimarahi, Ibu justru yang sakit karena terlalu banyak menangis.

Itulah sedikit dari sekian banyak perjuangan Ibu saya untuk mewujudkan kasihnya kepada kami. Dia adalah pahlawan yang luar biasa bagi kami, anak-anaknya.  Tiga dari empat anaknya berhasil menjadi sarjana berkat perjuangan keras Ibu. Selamat merayakan Hari Ibu. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s