Selamat Natal dan Tahun Baru…Peace!

MALAM ini, selepas pukul 12.00, seluruh umat Kristiani merayakannya sebagai malam Natal. Bersukacita memperingati kelahiran Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat umat manusia.  Tapi mengapa filsuf Jerman, Friedrich Wilhelm Nietzsche, menyatakan dalam bukunya “Also Sprach Zarathustra” (1882),  bahwa Gott ist tot atau Tuhan sudah mati.  Dia bahkan menyatakan, Tuhan terus mati karena kita terus- menerus membunuhNya.

Itu merupakan ungkapan kekecewaan Nietzche atas tindakan umat Kristiani yang kian jauh dari kekristenan. Perilaku banyak orang Kristen di zaman Nietzche, bahkan hingga kini, semakin tidak bercermin kepada Yesus sebagai Guru. Tak banyak lagi yang benar-benar mempraktikan ajaran kasih, mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri. Bahkan hidup eksklusif. Hanya bisa mengucapkan kasih, tapi tidak menjalankannya.

Padahal Yesus Kristus terlahir dari rahim Bunda Maria di dalam kandang hina. Merendahkan diri-Nya supaya sama dengan manusia. Supaya Dia tidak sekadar menjadi manusia tetapi hidup eksklusif, terpisah dari manusia lainnya. Karena tujuan kedatangan-Nya sebagai Juru Selamat manusia atas dasar kasih.  Dia  juga mencontohkan pola hidup  bersahaja yang jauh dari kemewahan.

Di tengah krisis ekonomi saat ini, umat Kristiani diharapkan memanfaatkan perayaan Natal sebagai momentum untuk merenung. Menjauhkan diri dari hedonisme, materialisme, dan konsumerisme. Ini agar pemaknaan Natal tidak menjadi kabur dan tenggelam oleh semangat keduniawian.

Di samping itu, sebagaimana pesan Natal Bersama 2008 oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), meminta umat Kristiani berdamai dengan semua orang.  “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18).

Tema itu mengajak kita agar hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Karena Kristusdatang ke dunia untuk membawa damai bagi seluruh umat manusia. Kedatangan-Nya mendamaikan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya.

Natal dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup dalam damai. Kendati ancaman krisis ekonomi kian mengkhawatirkan, bukan menjadi alasan bagi kita untuk semakin mementingkan diri. Karena kita adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Kita harus hidup dalam kerukunan dan kedamaian dengan semua orang.

Hal itu semestinya dipahami dengan baik oleh semua kelompok sehingga sesama warga negara Indonesia tidak terlibat benturan antarkelompok. Jangan ada lagi sekat suku, agama, ras. Bahkan kepentingan politik, mengingat Pemilu 2009 tinggal tiga bulan lagi.

Kiranya kesederhanaan dan kasih yang dicontohkan Yesus Kristus, menjadi bahan perenungan kita dalam memperingati dan merayakan kelahiranNya.

Selamat Hari Natal 25 Desember 2008

&

Tahun Baru, 1 Januari 2009. Imanuel…!(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s