Merusak Citra Pasar Modal

NOVEMBER 2008 silam, para nasabah Bank Century dibikin terhenyak oleh perbuatan Robert Tantular, pemilik bank tersebut. Dia ditangkap polisi karena disangka melakukan penipuan dengan cara menjual produk reksadana tak berizin kepada nasabah di 65 kantor cabang.

Robert Tantular yang juga pemilik Antaboga, diduga memaksa karyawannya menjual reksadana fiktif itu melalui Antaboga. Jika tidak mau, mereka akan dipecat. Akibat perbuatannya, dana para nasabah tertahan sebesar Rp 1,4 triliun di Bank Century.

Kasus Bank Century belum lagi usai, kini muncul kasus penipuan hampir mirip yang diduga dilakukan oleh Komisaris Utama PT Sarijaya Permana Sekuritas Herman Ramli. Polisi sudah menangkap dan menjadikan Herman Ramli sebagai tersangka penipuan.

Ribuan nasabah perusahaan sekuritas top itu dibikin pusing dan panik karena dana mereka senilai Rp 245 miliar diduga digelapkan oleh Herman Ramli melalui 17 rekening fiktif untuk diputar lagi dalam bentuk saham di bursa.

Dua kasus itu juga mirip dengan penipuan ‘Skema Ponzi’ yang dilakukan oleh bos Madoff Investment Securities, Bernard Madoff, yang menimbulkan kerugian mencapai 50 miliar dolar AS. Korban Madoff tidak main-main. Perbankan besar seperti HSBC pun masuk perangkap Madoff, bahkan Pemerintah Spanyol pun tak luput dan mengalami kerugian terbesar, yakni hingga 147 juta dolar AS. Setidaknya ada  delapan lembaga keuangan kelas dunia yang menjadi korban Madoff.

Penipuan ala Madoff menggunakan Skema Ponzi, sebuah model penipuan dalam bisnis keuangan yang dirancang oleh Chalres Ponzi, pemilik ‘The Security Exchange Company’ yang didirikan pada 26 Desember 1919. Ponzi  menawarkan investasi berupa transaksi spekulasi perangko AS terhadap perangko asing di era 1919-1920.

Para investor tergiur dengan tawaran keuntungan berlipat dibanding investasi di sektor riil. Mereka menanamkan uangnya dalam jangka waktu panjang di perusahaan sekuritas milik Madoff. Mereka tidak mau tahu darimana perusahaan membayar keuntungan yang dijanjikan. Keuntungan yang dijanjikan Ponzi ternyata hasil tambal sulam.  Akibatnya, sekitar 40 ribu orang tertipu dan kehilangan uang mereka sebesar 15 juta dolar AS atau setara dengan 140 juta dolar di zaman sekarang.

Mengenai kasus Sarijaya. Sebenarnya polisi sudah menangkap Herman Ramli sejak 24 Desember 2008. Namun para petinggi Sarijaya tidak ada yang menginformasikan hal itu kepada nasabah. Sangat disesalkan karena nasabah yang mempercayakan pengelolaan dananya sampai miliaran rupiah di perusahaan sekuritas itu, menguap begitu saja.

Kasus ini jelas meruntuhkan kepercayaan publik terhadap nama besar Sarijaya. Tidak hanya itu, masyarakat pun menjadi tidak percaya atau setidaknya semakin ragu melakukan investasi yang berkaitan dengan pasar modal karena tidak ada jaminan dana mereka aman di sana. Kini para nasabah Sarijaya berada dalam ketidakpastian mengenai nasib dana mereka.

Di sini juga tergambar bahwa Bapepam-LK tidak jeli dalam melihat gelagat. Sebagai lembaga pengawas, sudah semestinya Bapepam bisa mengendus ketidakberesan di Sarijaya sehingga bisa mencegah kerugian yang lebih besar lagi. Karena sebenarnya sejak November 2008 sejumlah nasabah sudah kesulitan ketika hendak mencairkan dana dan efek mereka dari Sarijaya. Informasi ini bahkan sudah beredar luas di milis- milis bahwa Sarijaya sedang mengalami kesulitan likuiditas.

Kini nasabah hanya bergantung kepada Bapepam. Lembaga tersebut diharapkan bisa menyelesaikan kasus ini tanpa merugikan nasabah Sarijaya. Selain itu, Herman Ramli harus dihukum seberat-beratnya karena dia tidak saja melakukan penipuan, tetapi juga telah meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s