Mencegah Kriminalitas Remaja

KITA dibuat terperangah oleh perbuatan kriminal yang tergolong sadistis oleh remaja yang baru berusia 15 tahun di Tanjungpiayu, Batam. Bocah lelaki ini tidak saja mencuri, tetapi juga membunuh seorang korbannya dan melukai satu korban lainnya.  Dia bahkan telah mempersiapkan sebilah pisau dapur untuk dijadikan senjata yang akhirnya digunakan untuk melukai dan membunuh korban. Dan ketika terdesak, dia bahkan nekat kabur menggunakan mobil milik korban.

Dari mana bocah belia itu memperoleh cara-cara kejahatan secara sistematis seperti itu? Tapi apakah kita serta merta menyalahkan remaja tersebut? Sebab perlu kita sadari bahwa dia tak mungkin terlahir sebagai orang jahat. Terlahir utuh sebagai pelaku kriminal. Tetapi harus melihat secara lebih luas bahwa ada proses yang salah dalam tumbuh kembangnya.

Ini menggambarkan betapa kuatnya daya rusak dari lingkungan pergaulan yang buruk, ditambah paparan tayangan/penyebarluasan kekerasan dari media yang secara konsisten dan substansial terus-menerus memengaruhi perilaku anak-anak dan remaja menuju agresivitas.

Perlu ditelusuri siapa saja teman-teman bocah itu. Mungkin saja dia bergaul dengan orang-orang yang jauh lebih dewasa dari dirinya. Bisa jadi dia hidup di tengah lingkungan pergaulan yang menyesatkan (cenderung melakukan kekerasan/kriminalitas) dalam waktu cukup panjang.

Pelajari juga tontonan remaja itu. Mungkin saja dia sering menyaksikan tayangan-tayangan, bacaan, atau permainan seperti video game yang menggunakan kekerasan. Paparan kekerasan yang terus-menerus melalui berbagai media itu, lama-kelamaan akan membentuk perilakunya. Akhirnya dia pun berubah dari bocah polos menjadi sosok seperti yang biasa dia lihat secara cukup intensif.

Perangai bocah itu semakin amburadul bila orangtuanya salah mengasuh. Mungkin lantaran tekanan kemiskinan sehingga orangtuanya harus bekerja sangat keras, dan akhirnya lupa pada tugas mereka sebagai orangtua yang wajib mengasuh anak-anaknya. Apalagi fakta menunjukkan bahwa pelaku kriminal tersebut adalah remaja putus sekolah.

Peristiwa pencurian dan pembunuhan yang dilakukan remaja seperti pada kasus ini, menjadi pelajaran bagi kita semua. Mulai dari orangtua, guru, hingga pemerintah dan lembaga/institusi yang peduli pada tumbuh kembang anak dan remaja.

Peran orangtua sangat sentral dalam pembentukan karakter anak. Kita telah mengasuhnya sejak di dalam kandungan, ketika masih bayi, remaja sampai dia dewasa. Intensitas hubungan emosional yang lebih lama dibanding pihak lain ini membuat peran kita selaku orangtua diharapkan bisa membentuk kepribadian anak- anak kita.

Kita bertanggungjawab mengarahkan anak-anak kita agar memasuki lingkungan pergaulan yang tidak merusak. Mengenal siapa saja teman-teman anak-anak kita, mengontrol apa saja tontonan, bacaan, dan mainan mereka  adalah beberapa cara yang harus diperhatikan. Kita harus tahu kapan harus bersikap tegas, keras, dan lembut dalam mendidik mereka.

Guru juga berperan. Anak-anak yang terlalu banyak ditekan dengan pelajaran-pelajaran di sekolah, bisa membuat jiwa mereka tertekan dan terganggu secara psikologis. Di antaranya guru harus pandai menciptakan proses belajar mengajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bila ada anak didik menunjukkan potensi antisosial, misalnya suka berbuat kekerasan terhadap temannya (bullying), harus segera diarahkan untuk menghentikan perilaku itu.

Pemerintah diharapkan tidak membuat kurikulum “kejar target”. Seolah-olah semua anak Indonesia harus pandai matematika, IPA, dan bahasa Inggris.  Padahal sudah jelas manusia diciptakan sangat unik dengan kemampuan dan minat bakat yang berbeda-beda. Sudah semestinya anak-anak Indonesia diarahkan sesuai kemampuan dan minat bakat mereka.

Tugas lain dari pemerintah adalah mengontrol secara ketat tayangan-tayangan di berbagai media massa dan persebaran video game yang mengandung kekerasan.  Diharapkan perpaduan dari ketiga unsur tersebut bisa menekan perilaku menyimpang dari anak-anak Indonesia. Memang bukan pekerjaan mudah, tetapi kita harus memulai dan sama-sama berusaha keras  untuk mewujudkannya.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s