Tiadakan Saja Adipura Tahun 2009

LIHATLAH sendiri di pinggir-pinggir jalan raya, bahkan sampai ke kampung-kampung. Pemandangan paling menonjol adalah gambar para calon anggota legislatif. Terus terang, itu sangat merusak pemandangan. Membuat wajah kota yang tadinya indah menjadi amburadul. Apalagi bila wajah kota pada dasarnya sudah amburadul.

Oh ya, saya usul kepada Menteri Lingkungan Hidup, sebaiknya tahun ini tidak ada penghargaan Adipura. Karena saya jamin tidak ada satu kota pun di Indonesia yang bersih dan layak mendapat penghargaan itu.  Terlalu banyak foto caleg, spanduk, umbul-umbul, dan atribut ini-itu yang dipasang secara sembrono.

Pemerintah kota sampai geleng-geleng kepala karena imbauan mereka masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Nggak ngaruh…. Ini hari dicabut, besok sudah ada lagi. Bahkan lebih banyak lagi dan lebih sembrono lagi…. walah…. gawat. Gimana nanti kalau mereka sudah jadi wakil rakyat?

Para caleg dan parpol sama sekali tidak mengindahkan kaidah.  Ada yang tempel  fotonya di tiang listrik, tiang lampu merah, tancap foto/umbul-umbul seenaknya di sembarang tempat. Pokoknya asal ada bidang untuk tempel foto dan atribut partai/caleg, pasti dimanfaatkan secara maksimal. Peduli amat dengan perda kebersihan.  Celakanya,mereka emoh membersihkan segala atribut itu setelah lolos jadi caleg. Apalagi kalau nggak lolos….

Selain aksi mejeng yang merusak pemandangan itu,banyak juga muncul politisi dadakan. Memang sih ada yang sudah kita kenal sebelumnya, karena pernah berkiprah di masyarakat. Tapi lebih banyak yang tidak kita kenal…. “Siapa sih orang ini?” kira-kira begitu pertanyaan khalayak.

Mereka yang baru kita lihat wajahnya itu adalah para politisi baru. Mereka yang baru terjun ke dunia politik. Entah sekadar meramaikan pesta demokrasi Pemilu 2009… entah benar-benar berambisi ingin memperjuangkan nasib rakyat, atau mungkin sekadar mengadu nasib.

Banyaknya wajah-wajah baru, yang sebelumnya tidak kita kenal (tidak dikenal masyarakat),menggambarkan bahwa mereka itu adalah politisi tergesa-gesa. Entahlah… saya tidak memahami teori politik. Tapi, saya melihat bahwa banyak di antara mereka menjadi politisi dadakan. Seperti “mendadak dangdut” aja.

Coba kita bertanya mengenai apa defenisi politik?  Apa manfaat politik?  Jangan-jangan mereka tak paham. Apalagi bila kita bertanya mengenai apa yang hendak diperjuangkan? Mungkin saja mereka langsung tergagap. Paling-paling mereka menjawab, “Ingin memperjuangkan aspirasi rakyat.” Coba kejar dengan pertanyaan, “Aspirasi rakyat yang mana yang hendak dia perjuangkan?” Wah, bisa-bisa wajah kita bonyok kena tinju.

Mudah-mudahan tahun ini menjadi “tahun belajar” bagi para politisi dadakan itu. Supaya dalam empat tahun ke depan mereka benar-benar mempersiapkan diri menjadi politisi andal. Benar-benar berkiprah bagi masyarakat supaya mereka layak menjadi wakil rakyat  pada 5 tahun mendatang.

Khusus di Batam, saya melihat hanya sedikit orang yang layak menjadi wakil rakyat. Ada beberapa nama yang sudah senior dan dalam pandangan saya, cukup memberikan sumbangsih pemikiran bagi kemajuan daerah. Aktif mengkritik  kebijakan publik yang buruk sekaligus memberikan masukan (jalan keluar) melalui media massa dan forum-forum resmi.

Saya juga mengenal beberapa caleg yang aktif di beberapa organisasi kepemudaan.  Saya tahu kualitas orang-orang muda itu dan merasa bahwa mereka itulah yang benar-benar pantas mewakili rakyat. Mereka sudah sejak jauh-jauh hari bersuara bagi kepentingan rakyat, bahkan ketika belum menjadi wakil rakyat (DPR/DPRD). Mereka juga melengkapi diri dengan berbagai pengetahuan sebagai bekal untuk membela kepentingan rakyat. Ini baru kader yang benar.

Menariknya. Justru saya jarang melihat orang-orang seperti itu pamer foto dengan polesan senyum pepsoden di jalan-jalan raya, di ruang-ruang publik. Kendati ada, tampak jelas mereka memasang fotonya di tempat yang pas dan elegan. Tidak merusak pemandangan, sebaliknya terlihat rapi karena memanfaatkan tempat yang semestinya.

Saya sarankan kepada warga Kota Batam. Daripada golput, lebih baik pilih orang-orang yang sudah pernah berkiprah itu. Seburuk-buruknya mereka, pasti lebih baik dibanding yang dadakan.  Saya sendiri sudah berjanji untuk tidak golput.  Saya sudah punya pilihan, bahkan sebelum saya tahu orang itu bakal menjadi caleg. Nah, saya kira warga kota pun sebaiknya demikian.

Oh ya… kembali ke soal Adipura. Saya kembali meminta Pak Menteri Lingkungan Hidup untuk istirahat memberikan penghargaan itu di tahun 2009 ini. Kalau tetap diberikan juga, pasti bapak-bapak salah menilai. Sebenarnya saya punya foto-fotonya (pemasangan atribut serampangan). Tapi saya takut mempostingnya karena bisa-bisa diseret ke meja hijau…. kwakakakakaaa….. (*)

Iklan

One thought on “Tiadakan Saja Adipura Tahun 2009”

  1. Berbicara tentang aturan politik dan negara memang sudah bukan menjadi hal baru lagi,entah itu kebersihan atau pemasangan spanduk yang tidak beraturan bukan lagi hal baru.
    Sedikit saya tanggap pembahasan anda tadi, anda orangnya hanya pandai mengkritik di belakang layar. anda menjelek-jelekan para caleg tampa anda mengadari kalau yg paling jelek itu adalah anda sendiri. klu anda org indonesi yg taat pada aturan anda seharusnya ga perlu takut di seret ke meja hijo demi kepentingan bersama.

    ==============
    Pak Fredilius, mengkritik sangat berbeda dengan menjelek-jelekkan/memfitnah. Karena tidak mau menjelek-jelekkan itulah saya tidak mau memposting foto2 atribut yang dipasang di tempat2 yang tidak semestinya. Bila Anda mengikuti pemberitaan di berbagai media massa, mestinya Anda tahu bahwa ada sekian banyak atribut parpol maupun caleg yang dicabut sama Dinas Kebersihan. Juga oleh Dispenda karena ternyata dipasang tanpa izin.
    Anda juga bisa lihat sendiri faktanya di lapangan. Ada atribut yang ditempel di tiang listrik, tiang lampu merah, fasilitas jaringan Telkom (semacam kotak warna abu-abu) di sejumlah titik, di pohon-pohon, dan sebagainya. Artinya, saya mengkritik berdasarkan fakta, tapi tidak mau membuat yang dikritik merasa dipojokkan atau disakiti. Lagi pula untuk apa saya harus berurusan dengan hukum hanya untuk persoalan seperti ini?
    Anda mungkin belum pernah berurusan dengan para politisi. Saya pribadi sudah sering dimaki-maki oleh para politisi yang tidak matang dan emosional. Tentu saya tidak mau berbenturan dengan politisi semacam itu karena urusannya akan sangat panjang. Ujung-ujungnya adalah menang jadi arang, kalah jadi abu.
    Dan dari segi jurnalistik (kebetulan saya wartawan), memasang foto seperti itu, mengingat ada begitu banyak caleg, saya pasti dianggap sengaja memojokkan pihak-pihak tertentu dengan mempublikasikan keburukan mereka. Saya bisa diseret ke meja hijau karena dianggap memfitnah. Makanya saya mengkritik dengan cara seperti ini. Kritik ini (bila pun dibaca), akan bermanfaat bagi mereka yang merasa telah melakukan kesalahan dan kemudian memperbaikinya. Tapi mungkin justru menjengkelkan bagi mereka yang tidak suka dikritik. Saya kira Anda cukup cerdas untuk memahami hal seperti ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s