Mohon Maaf Kalau Kami Keliru

Hari ini, Senin 9 Februari 2009, wartawan di seluruh Indonesia merayakan Hari Pers Nasional dan hari ulang tahun ke 62 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dalam berkarya sebagai “anjing penjaga” atau watch dog, banyak penyimpangan yang diungkap oleh pers ke permukaan sehingga mendapat perhatian para pihak yang bertanggungjawab.

Dalam menjalankan tugas jurnalistik, tidak sedikit wartawan Indonesia mengalami kekerasan. Bahkan  ada yang kehilangan nyawanya. Namun, pers tetap ada sebagai lembaga pengontrol  kekuasaan,

Dan sebagai manusia biasa, insan pers juga tidak luput dari salah. Ketidaktelitian dalam liputan dan penulisan berita, terkadang melenceng, keliru, sehingga merugikan pihak-pihak tertentu. Tapi percayalah, kekeliruan itu umumnya tidak oleh sebuah kesengajaan. Kalau ada yang sengaja merugikan pihak lain, yakinlah bahwa mereka itu adalah pers yang tidak menjunjung kode etik jurnalisme dan mengabaikan integritas kewartawanan.

Maka dari itu, kami mohon maaf bila keliru ketika menjalankan tugas jurnalistik.  Namun juga mohon kekeliruan kami tidak dikriminalisasi. Karena kami bukan pelaku kriminal. Pers adalah kerja intelektual demi kemaslahatan bangsa.

Tanpa pers, dunia akan menjadi sekecil daun kelor. Tanpa pers, hidup menjadi sangat lamban. Tanpa pers, hidup menjadi kurang dinamis dan perubahan terasa sangat lamban. Pers juga ada untuk memberikan peringatan dini (early warning) bagi masyarakat terhadap berbagai ancaman. Apalagi, di zaman ini, berbagai kejahatan telah bersalin rupa menjadi seolah-olah baik.

Kebebasan pers adalah harga mati. Kami menyadari betul bahwa kebebebasan pers bukan kebebasan absolut yang merampas kebebasan pihak lain. Justru kebebasan pers dibutuhkan untuk membela kebebasan mereka yang lemah dan tertindas.  Kebebasan untuk menggali kebenaran sekaligus mengubur keserakahan dan berbagai penyimpangan. Kebebasan untuk mengontrol kekuasaan dan melindungi kepentingan yang lebih luas. Kebebasan untuk membela dan melindungi nilai-nilai universal kemanusiaan.

Jangan lagi ada upaya-upaya membungkam kebebasan pers melalui kriminalisasi insan pers. Pemerintah harus melindungi pers, karena tanpa pers, masyarakat tidak akan tahu seberapa sukses mereka membangun negeri. Demikian pula masyarakat tidak bisa memberikan masukan bila pemerintah salah langkah.

Kritik pers terkadang tajam dan mungkin menjengkelkan. Tapi itulah amanah yang dipikul wartawan. Pers bukanlah lembaga Asal Bapak Senang (ABS). Tapi pers juga bukan sosok jelmaan setan yang jahat dan menjerumuskan.  Pers bukan gula-gula yang manis bagi penguasa. Seringkali dia menjadi pil kina yang sangat pahit. Sejatinya obat, dia terasa pahit untuk menyembuhkan, bukan untuk membunuh. Bila kritik pers diterima sebagai obat, niscaya bangsa kita akan menjadi kuat. Sebaliknya, jika kritik pers dikriminalisasi, niscaya bangsa kita akan hancur.

Selamat Hari Pers Nasional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s