Porter Pelabuhan Keroyok Dua Wartawan Tribun

Wartawan Tribun Batam, Zabur (kanan), saat meliput aktifitas di Pelabuhan Beton Sekupang, Batam, Rabu ( 11/2/2009 ). Dia dan fotografer Nurul Iman menjadi bulan-bulanan puluhan porter di pelabuhan tersebut.
Wartawan Tribun Batam, Zabur (kanan), saat meliput aktifitas di Pelabuhan Beton Sekupang, Batam, Rabu ( 11/2/2009 ). Dia dan fotografer Nurul Iman menjadi bulan-bulanan puluhan porter di pelabuhan tersebut.

LAGI-LAGI wartawan menjadi korban kekerasan ketika menjalankan tugas jurnalistik. Kali dua wartawan Tribun Batam, Zabur (reporter) dan Nurul Iman (fotografer) menjadi bulan-bulanan puluhan buruh angkut (porter) di Pelabuhan Beton, Sekupang, Batam.

Peristiwa itu terjadi ketika Zabur dan Inyonk (sapaan Nurul) meliput aktivitas bongkar muat kapal Pelni KM Kelud, yang hendak bertolak ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu ( 11/2/2009 ) siang.

Para buruh angkut dan penumpang berebut naik ke atas kapal. Para buruh yang membawa barang dagangan memaksa naik. Mereka bahkan tak peduli ketika seorang bayi tergencet di antara barang dan penumpang, saat menaiki tangga kapal.

Seorang petugas Pelni menegur porter agar mendahulukan penumpang yang menggendong bayi itu. Namun porter tersebut justru memarahi petugas. Melihat keributan itu, seorang petugas POM AL marah dan menarik porter itu. Terjadilah perang mulut cukup sengit.

Melihat ada keributan, Inyonk langsung berusaha mengambil gambar. Tiba-tiba seorang ibu yang diketahui biasa mengirim barang ke Jakarta menggunakan KM Kelud berteriak, “Wartawan buang ke laut saja!”

Teriakan bernada provokasi itu memancing reaksi sejumlah porter. Tiba- tiba seorang porter melempari fotografer Tribun menggunakan balok dan mengenai kepalanya. Beruntung korban mengenakan helm, sehingga kepalanya tidak cedera. Helm yang dikenakan tergores kayu.

Si ibu dan beberapa porter berupaya menghalang-halangi fotografer tersebut mengambil gambar. Mereka merampas kamera dan memaksa dia menghapus foto yang baru dijepret. Selanjutnya Inyonk sudah menjadi bulan-bulanan para porter.

Melihat rekannya dikeroyok, Zabur berusaha melindungi dengan tubuhnya. Dia memeluk Inyonk dari belakang. Akibatnya, tubuh Zabur menjadi sasaran pukulan dan tendangan puluhan porter. Zabur terjatuh karena tak kuasa menahan serangan bertubi-tubi. Ketika jatuh itulah para porter semakin leluasa menendang dan menginjak-injak tubuh dan kaki korban. Bahkan ada yang membanting sekotak keramik ke kaki korban.  “Saya langsung peluk dia (Inyonk) waktu  dikeroyok. Malahan saya juga ikut dikeroyok. Dipukul dan kaki saya ditendang,”tutur Zabur.

Beberapa polisi dari KPPP Pelabuhan Beton Sekupang berada di lokasi kejadian, namun mereka tidak bereaksi. Atas dasar solidaritas sesama jurnalis, sejumlah wartawan yang berada di lokasi kejadian berusaha menolong rekan-rekannya, namun polisi menghalangi mereka.

Zabur dan Inyonk akhirnya diselamatkan seorang petugas pelabuhan dengan menarik mereka ke dalam kantor

Para portir Pelabuhan Beton Sekupang berdesakan dengan penumpang, memaksa menaikkan barang dagangan ke atas KM Kelud, Rabu ( 11/2/2009 ).
Para portir Pelabuhan Beton Sekupang berdesakan dengan penumpang, memaksa menaikkan barang dagangan ke atas KM Kelud, Rabu ( 11/2/2009 ).

administratur pelabuhan. Selanjutnya mereka menggelar pertemuan yang dihadiri Kasat Reskrim Kompol Himawan Bayu Aji di ruang kerjanya di Mapoltabes. Pertemuan itu dihadiri Kapolsek KPPP AKP Furqon Budiman, Kanit Reskrim Polsek KPPP Aipda Robin Tampubolon, Kanit Patroli KPPP Iptu M Soleh, Ketua Koperasi Porter Dermaga Pelabuhan Beton Simson dan Leo, serta petugas Pelni yang dimaki-maki oleh porter.

Tulang kaki retak
Pada malamnya, Kapoltabes Barelang Kombes Slamet Riyanto menganjurkan kepada kedua korban dan Redaktur Pelaksana Tribun Batam Ahmad Suroso bersama Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri Ramon Damora, untuk membuat laporan resmi mengenai kasus penganiayaan tersebut.

Selanjutnya, berdasarkan hasil rontgen di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB), Batam, tulang telapak kaki (metatarsus) Zabur dinyatakan mengalami retak. Diduga karena dihantam menggunakan sekardus keramik. Selain itu, hampir seluruh bagian kaki kanannya memar karena ditendang dan diinjak-injak.

Ketika kembali ke kantor redaksi, dia tampak berjalan tertatih-tatih karena kesakitan. Sedangkan Inyonk tidak mengalami cedera karena tubuhnya dilindungi korban.

Slamet Riyanto geram atas kerusuhan yang terus berulang di Pelabuhan Beton Sekupang. Dia memerintahkan anak buahnya mengusut tuntas kasus tersebut. “Tindak kekerasan harus diusut. Saya sudah perintahkan anggota. Saya tidak membela siapa pun,” ujar Slamet, Rabu malam.

Selaku Ketua PWI, Ramon Damora mendesak agar polisi mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik.  Sebab, jika peristiwa seperti ini didiamkan, suatu ketika wartawan akan kembali menjadi korban kekerasan. Dia juga mendesak polisi untuk memberikan jaminan keamanan kepada wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik.

Sering rusuh

Polisi mengamankan seorang porter Pelabuhan Beton Sekupang yang terlibat kerusuhan, Rabu ( 11/2/2009 ).
Polisi mengamankan seorang porter Pelabuhan Beton Sekupang yang terlibat kerusuhan, Rabu ( 11/2/2009 ).

Kerusuhan di Pelabuhan Beton Sekupang memang sering terjadi setiap kali KM Kelud merapat. Keributan selalu karena ulah para porter yang selalu memaksa menaikkan barang dagangan ke atas kapal. KM Kelud pernah terlambat berlayar selama 28 jam pada 8 Juli 2008 akibat ulah para porter.

Beberapa waktu lalu, wartawan Trans7 dan Indosiar di Batam, juga pernah mengalami kekerasan oleh porter di Pelabuhan Beton Sekupang, ketika menjalankan tugas liputan di tempat itu. Kamera dan sepeda motor dirusak oleh para porter. Beruntung mereka berhasil meloloskan diri dengan melompati pagar pelabuhan.

Kapoltabes Barelang Slamet Riyanto mengaku heran kerusuhan sering terjadi di pelabuhan tersebut. “Saya heran. Ketika kita melakukan sidak ke sana, situasi aman-aman saja. Tapi ketika kita tidak ada, malah terjadi kerusuhan. Saya curiga, jangan-jangan ada apa-apanya di sana,”ujarnya.(edy)

Iklan

2 thoughts on “Porter Pelabuhan Keroyok Dua Wartawan Tribun”

  1. Kami dari waga batam sangat mengharapkan untuk penertiban dari pada porter-porter tersebut. sebab karena ulah mereka banyak penumpang jadi bulan-bulanan porter
    dan tolong pak polisi bersihkan dari porter-porter gelap.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s