Politik Masturbasi

BEGITU banyak gambar calon anggota legislatif (caleg) bertebaran di berbagai sudut ruang publik. Foto para caleg  itu mejeng dengan ekspresi senyum menggoda dan sangat menawan hati. Ada caleg pendatang baru, ada pula caleg stok lama alias sudah bekas pakai. Maksudnya sudah pernah dipakai sebagai wakil rakyat pada periode yang lalu.

Artinya, ada caleg yang baru mulai menebar janji, ada pula yang sudah pernah berjanji (tapi janjinya belum ditepati sampai sekarang).  Hmmmm…. untuk golongan kedua, apa masih berani berjanji lagi? Apa ente yakin masih dipercaya rakyat? Pikirkan saja sendiri… emang gue pikirin? Emangnya gue siapanya elu… wakakakakakakkkkk….. sorry, cuma bercanda aja. Eit, jangan cemberut begitu dong. Gitu aja kok marah. Ayo senyum lagi… seperti foto ente yang mejeng di pohon-pohon itu…  Nah, gitu dong. Itu baru namanya caleg andalan 8)

Mari kita lanjutkan pembicaraan ini.

Pada berbagai bentuk media kampanye, foto2 mereka sedang tersenyum manis abizz.  Ada juga kata-kata indah penuh rayuan gombal :))  Ada kata-kata optimisme yang entah bagaimana caranya mereka terapkan nanti ketika rayuan  gombalnya termakan oleh rakyat.  Prinsipnya, pokoknya sekarang tebar janji dulu, soal membuktikan, itu urusan nanti. Itu urusan kemudian. Itu nomor dua…. atau mungkin nomor 1.637 alias bukan prioritas saat ini.

Ya ampuuunnn… caleg macam apa ente ini? Benar-benar nggak bisa diandalkan. Mendingan gua kagak milih caleg yang ini…. percuma. Buang-buang  energi aja. Habisin tinta pena aja buat nyontreng dia. Mendingan tintanya buat corat-coret di TTS. Lebih bermanfaat… ada kepuasan sendiri kalo isiannya benar semua… Iya nggak?

Kembali soal foto.

Foto-foto cantik manis dan ganteng-ganteng  sambil memamerkan gigi putih bersih bercahaya itu (yg mungkin hasil olahan komputer/photoshop), menyusup masuk sampai kampung-kampung kumuh. Tempat tinggal orang-orang miskin melarat yang (tampaknya) tak ikut menikmati  hasil pembangunan seperti yang pernah dijanjikan (oleh para caleg bekas pake) dalam pemilu lima tahun lalu.

Pada intinya, hampir semua caleg bilang, “Jadikan aku yang pertama. Pilihlah saya. Karena saya adalah solusi terbaik untuk persoalan Anda!”

Semua tiba-tiba berubah jadi Barack Obama. Change! Yes We Can… ! Bersama kita menang…! Tapi ada juga slogan-slogan aneh bin ajaib. Contohnya? Jangan pake tanya! Lihat saja sendiri di pinggir-pinggir jalan itu…. Gitu aja nanya…. wakakakakakkkk…

Celakanya, lantaran putusan Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa yang dapat suara paling banyak yang berhak menjadi wakil rakyat, maka persaingan tidak lagi antar-partai. Tapi sudah antar-caleg dalam masing-masing partai. Pokoknya baku sikut sendiri antara kawan sesama satu partai. Makanya, kalau dulu masih kenal mana lawan dan mana kawan, sekarang semua jadi lawan.

Kalau dulu kita kenal istilah, “dalam politik tidak ada kawan sejati dan tidak ada lawan sejati”. Sekarang sudah berubah jadi, ” Tidak ada lawan sejati… tidak ada lawan sejati.”  Lho, kenapa begitu? Ya iyalah. Sekarang semua jadi lawan. Karena semua berebut jadi wakil rakyat. Nah, nanti kalo sudah lolos… sudah terpilih jadi wakil rakyat… semuanya akan jadi kawan. Dan jangan kaget kalo ternyata mereka justru tidak mewakili rakyat alias tidak mewakili Anda yang memilih mereka. (Maaf, ini bukan ajakan golput. Soalnya saya sendiri juga tidak mau jadi golput. Kan haram to…?)

Ketika sudah terpilih, mereka akan ramai-ramai mengangkangi janji-janji manis selama kampanye. Masa-masa mesra dan intim bersama rakyat (istilah mereka sih konstituen), seperti tenggelam disedot lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur sana. Ya ampuunnnn…. memangnya semua caleg sejahat itu? Entahlah… memangnya dalam hati ente bisa tau?

Nah, supaya bisa lolos.. bisa terpilih, maka yang terjadi saat ini adalah, semuanya memuji-muji dirinya sendiri. Mengaku diri paling baik, paling hebat. Yah, daripada menunggu orang lain memuji (dan ternyata tidak ada yg mau memuji), maka terpaksa dengan senang hati, mereka memuja-muji dirinya sendiri. Kan nggak diharamkan to…?

Dengan cara itu, paling tidak dua “target” jangka pendek tercapai.  Selain sebagai bentuk rayuan gombal (syukur-syukur yg dirayu termakan rayuan), sekaligus bisa menyenangkan diri sendiri.

Itu namanya Narsis. Makan puji.  Inilah yang namanya “Politik Masturbasi… onani politik…!”

Maaf, tulisan ini hanya ditujukan untuk mereka yang sedang “bermasturbasi politik”.   Benar-benar khusus untuk mereka yang tergolong caleg penipu. Jadi, kalau Anda (caleg) baik-baik, bisa diandalkan alias tidak  termasuk dalam golongan para penipu yang narsis itu, ya jangan tersinggung dong. Kalau tersinggung, berarti Andalah orang yang saya maksudkan dalam tulisan ini. Sekian…..  “Gitu aja kok repot,” kata Gus Dur.(*)

Iklan

One thought on “Politik Masturbasi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s