Pelabuhan Sekupang Perlu Pembenahan

KOMISI I DPRD Kota Batam yang antara lain membidangi soal Keamanan dan Ketertiban serta Kehumasan/Pers, menggelar acara dengar pendapat di kantor DPRD Batam, Kamis (19/2/2009).  Saya menghadiri hearing tersebut bersama kawan-kawan wartawan lainnya dari PWI, AJI, PFI, serta para jurnalis televisi di Batam.

Pertemuan dipimpin Ketua Komisi I DPRD Batam Ruslan Kasbulatov, menghadirkan antara lain kepolisian, Pelni, KPLP, Bea Cukai, Ditpam Otorita Batam, Departemen Perhubungan, dan sebagainya. Pihak-pihak tersebut terkait dengan pelayanan di Pelabuhan Beton Sekupang, yang juga telah ditetapkan sebagai satu dari tiga pelabuhan free trade zone (FTZ) di Pulau Batam.

Dengar pendapat itu sangat penting, mengingat di pelabuhan tersebut, sejak tahun 2008 hingga awal 2009, sering terjadi kekisruhan. Keributan kembali terjadi pada Rabu 11 Februari 2009, manakala dua wartawan Tribun Batam dipukuli beramai-ramai oleh sejumlah porter, ketika sedang menjalankan tugas jurnalistik di sana. Beberapa waktu sebelumnya, beberapa jurnalis televisi nasional mengalami nasib serupa.

Kasus pemukulan terhadap wartawan itulah yang menjadi pendorong dilakukannya acara dengar pendapat, untuk sekaligus menggali akar permasalahan di Pelabuhan Beton Sekupang. Dari berbagai penjelasan yang disampaikan para pihak terkait yang hadir, jelas terungkap bahwa banyak kesembronoan di pelabuhan tersebut. Baik dari sisi fasilitas, pengelolaan/tatalaksana, pengamanan, hingga mental aparat yang bertugas.

Dari segi fasilitas misalnya. Petugas Bea Cukai sendiri mengakui bahwa pelabuhan tersebut sama sekali tidak layak dari sisi tata ruang/lay out. Barang yang hendak diekspor menggunakan kapal Pelni, bisa dengan mudah masuk pelabuhan untuk selanjutnya dikapalkan. Ini menyulitkan pemantauan untuk mencegah praktik-praktik tercela berupa penyelundupan barang maupun lolosnya bahan berbahaya, misalnya narkoba.

Pelabuhan Beton Sekupang juga tidak memiliki scanner untuk pengecekan barang. Petugas Bea Cukai mengakui telah memiliki alat tersebut, namun rusak. Tidak dijelaskan sudah sejak kapan alat itu rusak dan mengapa tidak segera diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Hal ini menimbulkan kecurigaan, seolah- olah alat pendeteksi tersebut sengaja dibiarkan tetap rusak sehingga memudahkan terjadinya praktik- praktik tercela sebagaimana disebutkan di atas.

Di samping itu, jika berpatokan pada prosedur tatalaksana ekspor di Bea Cukai, dokumen Pemberitahuan Ekspor  Barang (PEB) paling lambat sudah harus disampaikan 3 hari kerja terhitung sejak keberangkatan sarana pengangkut. Fakta yang terjadi di Pelabuhan Beton Sekupang, para eksportir terkesan sengaja menyampaikan dokumen PEB di menit-menit terakhir, ketika kapal hendak bertolak. Sehingga petugas Bea Cukai seolah-olah dipaksa melakukan pemeriksaan dokumen tersebut secara terburu-buru.

Hal seperti itu bisa berakibat petugas menjadi tidak teliti dan barang terlarang maupun barang selundupan bisa lolos mulus keluar dari Batam. Seandainya petugas Bea Cukai tegas menjalankan aturan, semestinya tidak perlu melayani eksportir seperti itu. Terkesan petugas Bea Cukai takut terhadap “sesuatu”. Ini juga menimbulkan pertanyaan: Ada apa di sana?

Ada juga nama seseorang yang senantiasa disebut-sebut dalam hearing di Komisi I DPRD Batam, kemarin. Nama ini seolah tak tersentuh. Tidak ada satu pun unsur-unsur yang terlibat langsung dalam pelayanan publik di Pelabuhan Beton Sekupang, berani bertindak tegas terhadap oknum tersebut.

Seperti ada sesuatu yang disembunyikan, sehingga kehadiran wartawan di tempat itu sangat diharamkan. Inilah satu di antara sekian penyebab terjadinya kasus pengeroyokan wartawan oleh para buruh angkut.

Dengan demikian, selain mendesak semua pihak terkait untuk memperbaiki fasilitas dan layanan di Pelabuhan Sekupang, kami juga mendesak pengusutan tuntas terhadap kasus pemukulan terhadap wartawan Tribun Batam, agar ke depannya peristiwa serupa tidak lagi menimpa wartawan lainnya ketika menjalankan tugas jurnalistik di pelabuhan tersebut.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s