Penumpang Lion Air: Kami Sudah Pasrah

Evakuasi para penumpang Adam Air yang mendarat darurat di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Senin ( 23/2/2009 ). Foto: Tribun Batam/Leonardo
Evakuasi para penumpang Lion Air yang mendarat darurat di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Senin ( 23/2/2009 ). Foto: Tribun Batam/Leonardo

“BENAR-BENAR sudah pasrah saya, saat pesawat itu akan landing. Saat melihat keluar, sudah gelap semua. Semua penumpang berteriak histeris. Kedua anak saya ini saya pegang erat-erat. Tidak ada lagi pikiran saya, kecuali benar-benar pasrah kepada Tuhan, saat itu,” kisah  Fitra kepada Tribun sambil menggendong dua anaknya yang masih berumur 9 bulan dan 2 tahun.

Fitra menuturkan, pada saat akan berangkat dari Bandara Polonia, Medan, ia sudah mendapat firasat ada ada yang tidak beres dengan pesawat yang dia tumpangi.

Menurut dia, seharusnya pesawat bertolak dari Medan sekitar pukul 13.00 WIB, tapi kemudian ada pemberitahuan bahwa pesawat baru bisa diberangkatkan pukul 16.30.  “Pada saat pesawat itu akan terbang meninggalkan Bandara Polonia, terdengar bunyi dan pesawat bergetar saat ban depannya masuk. Getarannya sangat keras, terasa oleh para penumpang dalam pesawat,”tutur Fitria.

Dia menuturkan, ketika pesawat tidak bisa landing di Bandara Hang Nadim, pramugari terlebih dahulu memberitahukan penumpang agar jangan panik. “Pesawat saat ini belum bisa landing. Para penumpang agar melepaskan sepatu dan sandal dan diletakkan di atas bagasi masing-masing. Pasangkan pelampung kepada anak-anak,”demikian perintah pramugari, ditirukan Fitra.

Rika, penumpang yang duduk di urutan nomor dua dari depan, terbang bersama dua orang anak dan dua cucunya yang masih kecil. Dia sudah pasrah. Dia berdoa dalam hati, menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

“Saya minta pada Tuhan, kalau memang umur saya sampai di sini, saya pasrah Tuhan. Tetapi tolong selamatkan anak dan dua orang cucu saya yang masih kecil-kecil ini,”tutur Rika.

Dia menuturkan, saat pesawat landing dan timbulkan bunyi keras. “Karena saya berada di urutan depan, jadi getarannya terasa keras sekali. Semua penumpang berteriak histeris. Suasana dalam kabin sangat mencekam,”tutur dia.

Demikian pula penuturan Murnawati,  penumpang tujuan Surabaya. Ketika pesawat berputar-putar di atas Bandara Hang Nadim, ia sudah tidak bisa bicara lagi. Bahkan ketika diinstruksikan melepas sandal, ia sudah tak sanggup lagi. Akhirnya dirinya dibantu seorang pramugari melepaskan sandal.

“Sebenarnya saya mau melihat tunangan saya ke Surabaya, Mas. Pada saat pesawat berputar-putar dan diberitahukan tidak bisa mendarat oleh pramugari, saya benar-benar tidak bisa berpikir lagi. Apalagi pesawat itu bergetar-getar hingga terasa ke dalam pesawat. Tidak ada lagi terpikir akan berjumpa dengan tunangan saya. Yang terpikir hanya pasrah kepada Tuhan,”kenang Murnawati.

Yanti, dokter kesehatan penerbangan mengatakan, ada empat penumpang yang dilarikan ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Mereka mengalami syok hebat dan trauma. Satu di antaranya masih bayi.

“Kempat orang itu adalah Bapak Hatmaida, Kika, dan bayi Niko yang mengalami panas tinggi. Satu di antaranya belum saya ketahui namanya. Ketiga orang ini mengalami stres dan taruma. Beruntung tidak ada korban yang parah,”ujar Yanti.

Yanti menyatakan salut pada pilot Kapten Anwar Haryanto yang mengemudikan pesawat tersebut. Dia melihat langsung proses pendaratan. “Saat pesawat itu landing mulus sekali. Turunnya pelan-pelan, jadi pesawat itu tidak terpental ke landasan,”tutur Yanti.(apr)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s