Mahasiswa Indonesia Tikam Profesor Singapura

* David Hartanto Widjaja Langsung Bunuh Diri

Jenazah David Hartanto Widjaja tergeletak bersimbah darah setelah melompat dari lantai 4 gedung kampus Nanyang, Singapura, Senin (2/3/2009) Foto: channelnewsasia.
Jenazah David Hartanto Widjaja tergeletak bersimbah darah setelah melompat dari lantai 4 gedung kampus Nanyang, Singapura, Senin (2/3/2009) Foto: channelnewsasia.

PERGURUAN tinggi di Singapura yang terkenal  aman dan nyaman untuk belajar, tercoreng oleh peristiwa kekerasan berdarah. Seorang mahasiswa Indonesia tiba-tiba bertindak brutal dengan menyerang seorang profesor.

Mahasiswa tingkat akhir jurusan Electrical & Electronic Engineering di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, itu menusuk Profesor Chan Kap Luk (40), menggunakan pisau, Senin (2/3/2009), pukul 10.35 waktu setempat.

Berdasar penelusuran pada situs resmi NTU, pemuda yang diidentifikasi bernama David Hartanto Widjaja (22), itu sedang menyelesaikan tugas akhir di bawah bimbingan Prof Chan. Nama David berada di urutan tiga matriks Final Year Project No A3026-081, berjudul “Multiview acquisition from Multi-camera configuration for person adaptive 3D Display”.

David menyerang sang profesor di kantornya yang terletak di lantai 6 gedung Electrical & Electronic Engineering. Dia menusuk punggung dan lengan Prof Chan. Kemudian David menyayat pergelangan tangan kanannya sendiri.

Ternyata David terjun dari lantai 4 gedung itu. Tubuhnya sempat menghantam atap jembatan dari kaca sebelum terempas mengenai pinggiran semen di tanah. Tubuh David yang mengenakan kaus kuning muda dan celana tanggung krem, ditemukan sudah tak bernyawa di dekat blok mesin gedung tersebut. Kepala, tangan, bokong, dan kakinya berlumur darah.

Situs Channelnewsasia mengutip saksi mata bernama Liu Yan (24), mahasiswa Teknik Elektronika asal Cina, bahwa saat kejadian dia dan temannya sedang belajar di Techno Plaza di lantai empat. Liu melihat seorang mahasiswa dengan tangan berlumuran darah berlari melewati jembatan yang menghubungkan Fakultas EEE dan Techno Plaza dan menaiki gedung.

“Saya langsung menghubungi polisi dan turun untuk melihatnya. Kami terkejut melihat mahasiswa itu tergeletak berlumuran darah,” kata Liu.

Sementara Prof Chan selamat, namun menderita luka tusuk di bagian punggung dan lengannya. Dia langsung dilarikan ke

Profesor Chan Kap Luk (straits Times)
Profesor Chan Kap Luk (straits Times)

National University Hospital untuk menjalani operasi darurat. Baju warna biru yang dikenakannya basah oleh darah. Prof Chan adalah Wakil Direktur Pusat Riset Teknik Biomedis NTU dan ahli teknik informatika. Dia telah mengabdi di kampus tersebut sejak Juni 1992.

Otoritas kampus langsung mengeluarkan pernyataan atas peristiwa berdarah tersebut. “Seorang mahasiswa tingkat akhir dari sekolah teknik elektro menikam seorang profesor pagi tadi, 2 Maret 2009. Mahasiswa tersebut kemudian melompat dari gedung. Ambulans dan polisi langsung dihubungi,”demikian pernyataan NTU seperti website Singapura, The Straits Times, Senin (2/3).

Pihak kampus juga langsung menghubungi keluarga Profesor Chan dan keluarga David.  “Universitas sangat terkejut dan bersedih atas apa yang telah terjadi,” kata Dr Su Guanin, Presiden NTU. “Masalah ini akan diselidiki secara mendalam. Komunitas universitas akan bersatu dalam masa sulit ini dan melakukan segenap upaya untuk membantu keluarga mahasiswa, profesor, dan keluarganya serta mereka yang trauma atas insiden ini,” imbuh Guaning.

Dia menyatakan, pihak universitas akan membantu polisi dalam penyelidikan kasus tersebut. Hingga kini polisi masih menyelidiki peristiwa tersebut, namun belum jelas apa motif David melakukan tindakan nekat itu. Apalagi dia dikenal sebagai mahasiswa cerdas, bahkan berteman baik dengan Prof Chan. David diduga mengalami depresi.

Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura juga telah memperoleh informasi itu dari polisi Singapura sekitar pukul 18.30 WIB. Sementara para mahasiswa Indonesia di Singapura kabarnya akan berkumpul di KBRI untuk membahas kasus itu.  Departemen Luar Negeri RI tengah berupaya memulangkan jenazah David ke Indonesia.

Cross check

Kampus Electrical & Electronic Engineering di Nanyang Technological University
Kampus Electrical & Electronic Engineering di Nanyang Technological University (foto: situs NTU/architecture)

Berdasar penelusuran di internet, David adalah alumnus SMA Kristen BPK Penabur 1 Jakarta. Pemuda keturunan Cina ini terkenal sebagai siswa cerdas dan pernah mengikuti berbagai lomba matematika dan sains tingkat nasional maupun mewakili Indonesia ke level internasional di Meksiko, 8-19 Juli 2005 silam.

Humas BPK Penabur Jakarta yang yang dihubungi Persda Network, mengaku belum mengetahui ada alumninya melakukan penusukan dan mati bunuh diri di Singapura. “Kami akan cross check, apakah benar David Wijaya itu pernah bersekolah di BPK Penabur,”ujar staf humas BPK Penabur Rewindinar, kemarin.

Apalagi, David Wijaya diberitakan pernah mengikuti olimpiade matematika di tingkat internasional pada tahun 2005. Kata Rewindinar, siswa BPK penabur yang mengikuti olimpiade di tingkat internasional harus mengikuti serangkaian tes. Peserta olimpiade itu harus bersaing di mulai dari tingkat sekolah, tingkat wilayah, tingkat wali kota, tingkat suku dinas, tingkat nasional, dan kemudian tingkat internasional.

Rewindinar menjelaskan, di BPK Penabur bukan hanya mencerdaskan intelektual siswa, melainkan BPK juga mencerdaskan moral, emosi, dan kecakapan hidup siswa. “Bukan hanya peserta olimpiade yang mengikuti pembinaan moral, emosi, dan lifeskill, tapi seluruh siswa di BPK Penabur,” katanya.

Psikolog, Kasandra Putranto, memperkirakan mahasiswa yang melakukan penusukan dan bunuh diri itu stres.

“Sesuatu telah terjadi yang membuatnya stres dan tidak bisa mengendalikan diri, sehingga jadi gelap mata. Pikirannya jadi pendek, dan akhirnya bunuh diri,”jelas Kasandra.

Tindakan nekat mahasiswa itu juga disebabkan tidak ada keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Ia mengatakan, tekanan-tekanan yang mungkin dialami oleh mahasiswa Indonesia tersebut harus diselidiki penyebabnya, seperti kehidupan di keluarganya dan kehidupan lingkungan kampusnya. “Hidup di Singapura itu tidak mudah, serba disiplin, juga dengan pendidikannya,” tuturnya.

Akan tetapi, tindakan yang dilakukan mahasiswa Indonesia itu, tidak melulu menyalahkan pihak atau orang lain, melainkan faktor yang terjadi dalam diri mahasiswa itu sendiri dan personal konflik yang dialami seseorang.

Kasandra menjelaskan, jika terjadi tekanan dari dosennya, ia tidak menyalahkan sang dosen. Sebab, pengajar itu juga melakukan tugasnya sebagai seorang dosen yang harus bekerja maksimal dan melakukan tuntutan kewajiban akademis kepada mahasiswanya. (sts/cna/edy/dri/tan)

Iklan

33 thoughts on “Mahasiswa Indonesia Tikam Profesor Singapura”

  1. Ini surat kepada warta kota yang meminta rekaman wawancara saya.

    Dengan hormat,

    Mohon maaf sebelumnya, saya terkejut membaca reportase anda di atas, dan merasa tidak memberikan komentar seperti yang anda tuliskan. Apakah boleh saya meminta bukti rekaman wawancaranya ?

    Saya ingat betul, karena ini sudah menjadi kebiasaan dan standar operating prosedur saya sebagai seorang Psikolog Klinis dan Psikolog Forensik, saya mengawali komentar dengan menyatakan bahwa saya tidak pernah melakukan otopsi psikologis terhadap DHW dan karenanya saya tidak bisa memberikan komentar tentang ybs. Alasan ke dua adalah saya tidak memiliki ‘ijin bicara’ dari keluarga ybs.

    Kemudian reporter anda bertanya tentang jawaban secara umum terhadap para mahasiswa yang menuntut ilmu di luar negeri. Lalu jawabannya adalah ”Hidup di Singapura itu tidak mudah. Di sana serba disiplin, begitu juga dengan pendidikannya, Demikian pula dengan di luar negeri lainnya ”

    Kemudian reporter anda mendesak, apa kira-kira penyebab seseorang mahasiswa mungkin melakukan tindakan kekerasan, baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Kemudian saya mengacu kepada beberapa kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa yang terjadi di Amerika yang belum lama terjadi sebelum kasus DHW, ketika seorang mahasiswa menggunakan senapan mesin menembak siapapun secara membabi buta tanpa tujuan khusus. Oleh karena itu tidak membahas soal DHW sama sekali.

    Sementara untuk DHW, saya memberikan komentar bahwa sampai bukti-bukti membuktikan bahwa ybs adalah tersangka pelaku baru kita bisa menyusun teori tentang motifnya. Buktinya ada komentar saya soal “Masalah ini harus benar-benar diselidiki secara spesifik ” Karena justru dalam ilmu Psikologi Forensik, bukti yang paling terpapar sejak awal kasus adalah adanya fakta bahwa yang meninggal adalah DHW, dan oleh sebab itu kesimpulan awal yag harus ditegakkan adalah DHW sebagai korban. Siapa yang kira-kira memiliki motif untuk membunuhnya dan seterusnya. Bukti-bukti wajib dikumpulkan, meliputi bukti senjata pembunuhan, bukti kondisi luka, sampai bukti kondisi kepribadiannya. Oleh karena itu penyelidikan harus berimbang dengan menempatkan siapapun yang terlibat sebagai tersangka, sementara ybs adalah korban. Soal nantinya korban mungkin ditetapkan sebagai tersangka, harus berdasarkan bukti-bukti penyelidikan yang kuat, dan bukan hanya berdasarkan pengakuan atau kesaksian.

    Apalagi yang sangat menyulitkan dalam kasus ini adalah senjata pembunuhan ditemukan tanpa gagang pisau yang menyulitkan uji sidik jari, kondisi luka di bagian tubuh belakang, dan yang terakhir kenyataan bahwa korban langsung dikremasi, yang membuat otopsi psikologis oleh pihak lain menjadi semakin mustahil. Sementara semua belum terbukti
    tentu sangat tidak mungkin bila saya memberikan komentar yang mendahului para ahli forensik yang bertugas dalam kasus tersebut.

    Demikian kiranya saya berharap bahwa media bisa mendukung prinsip utama praduga tak bersalah sebelum segalanya benar-benar terbukti.

    Atas perhatian dan dimuatnya surat ini, saya mengucapkan terima kasih.

    A. Kasandra Putranto

    ———–
    Terima kasih atas penjelasan Pak Kasandra. Dengan demikian, Bapak secara langsung telah meluruskan informasi sebelumnya. Saya mohon maaf atas kekeliruan kami. Salam hormat.

    Suka

  2. Mohon maaf,

    rasanya saya tidak pernah diinterview oleh anda. Lagipula komentar itu bukan komentar saya. Sejak awal saya selaku Psikolog Klinis dan Psikolog Forensik selalu menyatakan bahwa karena saya tidak melakukan pemeriksaan langsung maka saya (sebagaimana psikolog manapun di dunia) tidak akan berhak memberikan komentar jika tidak memeriksa langsung. Apalagi dalam kasus ini almarhum adalah korban, karena almarhum adalah pihak yang meninggal.

    —————
    Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber. Kutipan dari dalam tulisan ini berdasar tulisan dari rekan kami di Warta Kota (Grup Kompas Gramedia). Linknya ada di:
    http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/03/01454335/BPK.Penabur.Melakukan.Cross.Check.
    Tapi saya mohon maaf bila kami melakukan kesalahan.

    Suka

  3. Everything….i don’t believe anything….
    He is my hero and our hero…
    He’s die with mysterious fact…..
    David…go in the peace….
    i hope we can know the real fact….
    But if he killed his self..try to look at his hurt
    Unbelievable if he killed his self

    Suka

  4. Prof.Chan , dari mukanya aja udah sebel liatnya . banyak yang lamarkan ini bajingan liat mukanya. matanya kecil, muka sadis, dan alisnya pendek .. cirinya orang licik dan jahat ………

    Suka

  5. Klo mang David bunuh diri lompat dari atap, ngapain dia melukai dirinya sendiri mpe segitunya, wong dia lompat aja dah pasti G tertolong. Lagipula waktu d TV nasional diulas ttg mstri Kmatiannya David, otopsi yg dilakukan oleh 2 dokter forensik INA, terlalu banyak luka yang janggal pd tubuhnya David, plus di lehernya David da bekas luka darah yg tertahan(atau tercekik)yg wkt persidangan d Sing. G d ungkap ma dktr forensik Sing. (jahat bgt ni dokter, disogok apaan sie?)lagipula segoblok gobloknya org pengen bunuh diri G usah melukai dri mpe segitunya(d temukan byk luka sayatan di tangan David + dr10, kakinya yang patah krn kepelintir bahkan da luka di lengan tangan kanan bagian belakang dekat ketiak)langsung ja terjun dr atap Petronas..
    David tuh anak pinter N putra kebanggaan bangsa ni, dia pasti dah byk ngalamin tekanan hidup yg lebih dr ni sebelumnya krn dia harus berjuang krs tuk olimpiade N dpt beasiswa, ngapain stressny bru skrg? ngga logis, kan??
    sem0ga kebenaran bz terungkap…
    GBU David…
    you’re my hero!!

    Suka

  6. aku ga’ pecaya itu semua…semua hantya bullshit,ga’ mungkin David bunuh diri…gara-gara apa katanya?beasiswa?Ampun deh,gak mungkin banget secara familynya David tuh mampu ngebiyayain…prof,anda orang terpelajar bukan?kok tega fitnah David?Iri karena ga bisa buat penemuan David?pake acara suruh mahasiswa lain bilang kalo bonuh diri segala

    Suka

  7. ah mmg kita harus bersedih hati atas kematian dvid,salah satu putra terbaik bangsa yang akan merubah dunia dengan temuanya yang belum pernah diuji dimanapun..sunggu ironis melihat kematian dia….

    Suka

  8. Bantu forward yah…

    Kisah David Hartanto – akhirnya kekejaman Prof. Chan terungkap !!

    Angel adalah mahasiswa kampus Nanyang Technological University , ia adalah
    angkatan terbaru dalam tahun ajaran baru. Siang itu ia sedang menikmati
    makan paginya di sekitar halaman kampus, seorang pria duduk disampingnya
    dengan tersenyum sambil menghapuskan keringatnya dengan handuk kecil yang ia
    ambil dari tas jinjingnya. Pria berkacamata itu tampak memperhatikan
    selembaran kertas yang berisikan beberapa catatan miliknya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s