Anggota DPR Tertangkap Terima Suap Rp 1 Miliar

SATU lagi anggota legislatif mencoreng wajah lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang sudah babak belur oleh  berbagai kasus korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menangkap seorang anggota DPR ketika menerima uang suap.

Anggota Komisi V DPR Abdul Hadi Djamal dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ditangkap bersama barang bukti uang tunai 90 ribu dolar AS dan Rp 54 juta. Total uang suap itu bernilai Rp 1.044 miliar itu terkait proyek fasilitas pelabuhan laut dan bandara di Indonesia Timur senilai Rp 100 miliar.

Abdul Hadi ditangkap bersama Darmawati Dareho, seorang pejabat Departemen Perhubungan dalam sebuah mobil Honda Jazz, Senin (2/3) pukul 22.00 WIB, di persimpangan antara Jl Jend Sudirman dan Jl Casablanca, Jakarta Pusat. Selanjutnya, berdasar hasil pemeriksaan keduanya, KPK menangkap seorang pengusaha, yaitu Komisaris PT Kurnia Jaya Wira Bakti (KJWB) Hontjo Kurniawan.

“Nama proyeknya pembangunan lanjutan fasilitas pelabuhan laut dan bandara. Anggarannya 100 miliar rupiah,” kata Ketua KPK Antasari Azhar saat menggelar jumpa pers di Kantor KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2009).

Antasari menyesalkan masih ada anggota Dewan yang menerima suap, karena baru enam hari lalu, tepatnya Rabu 25 Februari 2009, para pimpinan partai politik ikut menandatangani deklarasi antikorupsi di kantor KPK.

Antasari Azhar
Antasari Azhar

“Saya sebagai pimpinan sangat menyesalkan terjadinya kejadian ini. Padahal baru saja di gedung ini terjadi deklarasi antikorupsi,” sesal Antasari, yang didampingi Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan Chandra M Hamzah dan Juru Bicara KPK Johan Budi SP. “Kita harapkan ini yang terakhir,” ujar Antasari.

Juru Bicara KPK, Johan Budi menambahkan, keterlibatan anggota Komisi V DPR adalah untuk membantu melobi penambahan dana anggaran untuk pembangunan dermaga dan bandara tersebut. “Kalau uang itu saat penangkapan ditemukan di mobil milik pejabat Departemen Perhubungan, Darmawati Dareho, yang turut kita tangkap,” kata Johan.

Darmawati merupakan PNS dan pejabat eselon III  bagian Tata Usaha Direktorat Jenderal Kenavigasian Hubungan Laut, Departemen Perhubungan. KPK menduga dia telah menerima uang sebesar Rp 600 juta. “Informasi ini kita dapatkan dari keterangan Abdul Hadi saat pemeriksaan. Abdul Hadi mengaku kalau dia telah memberikan uang sebesar Rp 600 juta kepada DD,” kata Johan Budi.

Menurut Johan, dalam pemeriksaan, Abdul mengaku mendapat uang dari Komisaris PT KJWB berinisial SBY. Uang itu diterimanya melalui Darmawati Dahero. Abdul juga mengaku bahwa dia menerima uang sejumlah Rp 1 miliar pada tanggal 27 Februari 2009 lalu. Uang itu diserahkan kepada Jonny Allen Marbun, anggota Komisi VI DPR.

Namun Jhoni Allen Marbun yang anggota Komisi VI DPR sekaligus petinggi Partai Demokrat, itu membantah telah menerima uang Rp 1 miliar dari Abdul Hadi Djamal.

Sedangkan, Hontjo Kurniawan diamankan KPK karena diduga telah memberikan uang Rp 2 miliar dalam bentuk dolar AS kepada Abdul. “Uang itu dimaksudkan untuk penyaluran aspirasi dalam mendapatkan proyek dermaga dan bandara di wilayah Timur Indonesia,” ujar Johan.

Sementara itu, nasib Dharmawati lebih apes. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Sunaryo menyatakan, Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal secara lisan telah menyetujui untuk menonaktifkan Dharmawati.  Sembari menunggu keputusan Menhub, kantor Dharmawati di Bagian Tata Usaha Distrik Navigasi Dephub Tanjung Priok sudah disegel untuk memudahkan kerja KPK. (*)

Tersangka Menangis saat Ditangkap

  • KPK mendapat laporan ada pertemuan anggota DPR dengan seorang pejabat Dephub
  • Lakukan pengintaian sejak Jumat 27 Februari 2009. Hingga pukul 03.00 dini hari, tak ada kegiatan transaksi.
  • Pengintaian lagi sejak pukul 16.00 di Jl Juanda, Jakarta Pusat, Senin ( 2/3/2009 ). Darmawati Dareho (DD) bertemu Komisaris PT Kurnia Jaya Wira Bakti (KJWB) Hontjo Kurniawan (HK), menyusul Abdul Hadi Djamal (AHD).
  • Pukul 22.30, KPK stop mobil Honda Jazz milik DD di persimpangan antara Jl Jend Sudirman dan Jl Casablanca. Penumpangnya DD, AHD, dan seorang sopir.
  • Tidak ada perlawanan, namun DD sempat menangis, ingat anak-anaknya. Ketiganya dibawa ke Gedung KPK.
  • Ternyata ada Nissan Terrano milik AHD dikemudikan sopirnya, mengikuti Honda Jazz dari belakang.
  • KPK temukan uang US$ 80 ribu dan Rp 54.550.000 di dalam tas cokelat. US$ 10 ribu di bawah jok Honda Jazz.
  • Hasil pemeriksaan DD dan AHD, ada pihak swasta terlibat, yaitu HK yang kemudian ditangkap KPK di sebuah apartemen, Kawasan Jakarta Barat.

Sumber: Jubir KPK Johan Budi SP

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s