Mengubah Perspektif Mengenai Bencana

Tragedi Situ Gintung
Tragedi Situ Gintung

AMBROLNYA tanggul bendungan yang dibangun oleh penjajah Belanda 76 tahun silam, itu diperkirakan memakan korban jiwa hingga lebih dari 100 orang, mengingat masih banyak korban yang belum ditemukan. Banyak korban luka-luka dan entah berapa banyak harta benda yang hancur.

Bencana itu meninggalkan duka cita mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa itu juga membuat Indonesia berduka di tengah arak-arakan menuju pesta demokrasi Pemilu 2009, sebuah proses guna memilih para pemimpin bangsa ini untuk lima tahun ke depan.

Kedua moment tersebut tampaknya tidak terkait. Tetapi sebenarnya memiliki keterkaitan satu sama lain.

Bahwa para pemimpin maupun para calon pemimpin,  terutama mereka yang kini sedang “menjajakan” diri untuk menjadi pemimpin, baik di legislatif maupun eksekutif, perlu belajar dari tragedi Situ Gintung.

Kita sebagai masyarakat perlu memilih pemimpin yang memiliki perspektif yang benar soal bagaimana mereka  akan menyelamatkan rakyatnya dari bencana. Apa pun bentuk bencananya. Baik bencana alam, bencana sosial, dan bencana lainnya.

Perspektif dalam masyarakat pada umumnya dan pemerintah kita  bahwa bencana, termasuk bencana alam, selalu tidak terduga. Sehingga seringkali kita hanya pasrah setelah dilanda bencana hebat yang menelan banyak korban jiwa dan memusnahkan harta benda. Celakanya sikap kita tetap seperti itu ketika kembali dilanda bencana serupa.

Perlu kita pahami bersama bahwa “bencana berikut terjadi karena bencana sebelumnya terlupakan.” Inilah perspektif yang perlu dipahami oleh para pemegang kebijakan untuk disebarkan kepada seluruh masyarakat kita. Bahwa bencana yang terjadi sekarang maupun di masa lampau, harus dijadikan pelajaran berharga. Agar kita bisa melakukan tindakan antisipatif terhadap bencana di masa mendatang sehuingga bisa mencegah banyaknya korban jiwa dan harta benda.

Kita bisa belajar dari Belanda. Inilah negeri yang sangat berpengalaman dalam teknologi tanggul karena belajar secara turun-temurun dari nenek moyak mereka. Tapi bukan sekadar itu, melainkan bagaimana pemerintahan mereka berusaha keras melindungi rakyatnya dari bencana alam.

Belanda dikenal sebagai “negeri seribu tanggul” karena negara itu dikelilingi oleh banyak sekali tanggul-tanggul besar. Itu

Keluarga korban Situ Gintung
Keluarga korban Situ Gintung

dilakukan lantaran sepertiga Negeri Belanda, yang hanya seluas 41.548 km², lebih rendah dari permukaan laut. Ini telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Belanda sehingga mereka sering berkata, “Tuhan menciptakan Bumi, tetapi orang Belanda menciptakan Negeri Belanda.”

Pemerintah Belanda belajar dari pengalaman bencana yang pernah mereka alami pada 1 Februari 1953, manakala badai besar menghantam negeri itu.  Gelombang besar membobol 67 dijken atau tanggul di pesisir pantai Zeeland. Terjadi banjir sangat besar dari luapan air laut. Sekitar 175 ribu hektare areal porak-poranda dan lebih dari 1.800 orang tewas tenggelam.

Pemerintah Belanda tidak ingin peristiwa serupa kembali terjadi. Mereka langsung mencanangkan Proyek Delta yang meliputi peremajaan dan penguatan tanggul-tanggul, pembangunan empat bendungan raksasa, dan pembaruan sistem pengaturan air. Hasilnya, sejak bencana 56 tahun lalu hingga kini, Belanda masih tetap dihantam badai besar, namun tidak sampai menciptakan bencana yang menelan korban jiwa dan harta benda.

Warga Belanda merasa aman tinggal di kawasan itu. Proyek Delta Plan telah membentengi daratan dari ancaman laut utara. Belanda berhasil menyiasati alam yang tampaknya tidak bersahabat dengan mereka.

Berbeda dengan bangsa kita yang spontan saling menyalahkan, dan pemerintah malah sibuk menangkis kritik, setelah ratusan rakyatnya tewas sia-sia dilanda bencana yang sebenarnya akibat kelalaian kita sendiri.

Pencarian korban Situ Gintung
Pencarian korban Situ Gintung

Ambrolnya Situ Gintung adalah contohnya. Maka dari itu, sudah saatnya para pemimpin dan calon pemimpin memiliki perspektif bahwa sesungguhnya bencana bisa dihindari. Atau paling tidak kita mampu meminimalisir dampak yang ditimbulkannya.  Juga memahami bagaimana membangun sistem peringatan dini (early warning system) yang lebih baik (dengan dukungan teknologi canggih maupun yang berbasis kearifan lokal), mengingat bencana alam negeri melanda kita. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s