Menjunjung Langit Minahasa

SAYA sudah di sini , di Tanah Minahasa. Persisnya sejak 7 April 2009 malam. Karena memijak tanah ini, maka saya pun harus menjunjung langit di atasnya. Langit Minahasa. Semangat saya saat ini adalah semangat Minahasa. Semangat menjunjung Minahasa yang secara etimologi berarti menjadi sati (Mina = menjadi dan esa/Maesa = satu). Bertambah lagi saudara saya.

Bila sebelumnya, ketika belum tiba di sini, saya hanya memandang Manado sekadar sebagai saudara sebangsa nun jauh di sana. Maka sekarang, semua menjadi saudara serahim. Tonsea, Toulour, Tontemboan, Tombulu, Panosakan, Tonsawang, Tounpakewa, sampai Bantik, kini menjadi saudara sekandung saya.

Berangkat dari Kupang, di Timor (NTT), pergi ke Balung lalu Gumuk Asam di Tanjungredjo, Jember (Jatim). Merayap menuju Nongkojajar di ketinggian Malang, sampai Lembang di Bandung, Jawa Barat.

Lebih dari lima tahun di Bumi Lancang Kuning, persisnya Batam, Kepulauan Riau.  Empat tahun bersama Tribun Batam di bawah Kompas-Gramedia. Kini hidup di kolong langit Manado, Sulawesi Utara. Maka sekarang, bersama saudara sekandung di Tanah Malesung, saya juga ingin terlibat memperkokoh “Si Tou Tumou Tou”, hidup untuk memanusiakan manusia lain.

“I yayat u santi”, maju untuk membangun negeri. Ya, untuk Tanah Malesung, yang kini menjadi tempat pengabdian saya bersama Tribun Manado, koran di bawah bendera Kompas-Gramedia.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s