Demokratiskah Hasil Pemilu 2009? Saya Meragukannya….

PEMILIHAN Umum legislatif sudah berlalu. Partai politik pemenang kontes politik tersebut sudah  hampir pasti, bila melihat hasil perhitungan cepat (quick count) dan hasil tabulasi sementara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun kualitas pelaksanaan pemilu kali ini patut menjadi refleksi. Bila tidak juga mampu memperbaiki saat pemilihan presiden, paling tidak pada pesta demokrasi 5 tahun mendatang.

Banyak kalangan, termasuk saya,  menilai pelaksanaan pemilu kali ini sangat buruk. Itu penilaian yang objektif. Lihatlah, kinerja jajaran KPU dari pusat sampai daerah benar-benar mengecewakan. Kekacauan daftar pemilih tetap (DPT) adalah fakta tak terbantahkan untuk memperkuat penilaian tersebut. Penyelenggaraan yang buruk sudah pasti  memengaruhi kualitas pemilu.

Beberapa kalangan menilai, seburuk-buruknya pelaksanaan pemilu, hasilnya tetap demokratis. Menurut saya, ini ‘pembelaan’ yang tidak masuk akal, bahkan terkesan konyol. Bagaimana mungkin hasilnya demokratis bila terjadi penggelembungan DPT, tapi di saat bersamaan banyak orang tak bisa menggunakan hak pilihnya? Banyak suara masuk, tapi tidak banyak orang ikut memilih. Bukankah ini sebuah keanehan?

Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary membela diri dengan mengatakan tidak ada pemilu yang sempurna. Sayangnya mereka tidak membandingkan kinerja mereka dengan pemilu-pemilu sebelumnya yang jauh lebih baik, kendati tetap tidak bebas dari cacat. KPU memang tidak dituntut memuaskan semua pihak, namun sebagai penyelenggara pesta demokrasi, mereka dituntut memuaskan lebih banyak pihak. Pemberitaan di media massa lebih banyak menunjukkan kegagalan KPU. Menurut saya, apa yang dipotret berbagai media massa merupakan gambaran besar mengenai kualitas dan kinerja KPU kali ini.

Soal  amburadulnya DPT, terutama warga yang tak terdaftar, KPU menyatakan sudah mengumumkan tapi warga kurang pro aktif. Justru rakyat disalahkan. Lantas bagaimana dengan suara ganda? Ada pemilih (termasuk sejumlah pejabat bahkan menteri) ada yang tidak masuk DPT dan ada pula yang tercatat dua kali. Ada keluarga yang di rumahnya hanya dihuni tiga orang, tapi di DPT ada 50 pemilih dari alamat rumah itu.

Tanpa menunjuk hidung parpol tertentu, namun jelas bahwa ada permainan tidak fair (curang) oleh sejumlah pihak. Tentu sangat sulit membuktikannya, namun indikasi-indikasinya mengarah ke sana. Mungkin tidak dilakukan oleh satu parpol secara tunggal. Bisa jadi semua parpol melakukannya dalam skala yang berbeda-beda di berbagai daerah demi meraih kemenangan.

Cara tidak sportif seperti ini, bila dianalogikan ke dunia olahraga, tentu kena diskualifikasi. Sayangnya, dalam konteks pemilu kali ini, wasitnya seperti kehilangan kekuasaan. Tak bisa berbuat apa-apa. Atau malah sengaja dikondisikan supaya tidak berdaya. Entahlah!

Belum lagi permainan uang di sana-sini. Pemilu kali ini memang bergelimang uang. Mereka yang menggelontorkan lebih banyak uang, lebih berpeluang keluar sebagai pemenangnya. Tidak semata-mata soal politik uang (money politics). Uang itu bisa dikonversi ke dalam berbagai bentuk. Misalnya bagi-bagi sembako, bantuan ini dan itu, mampu menggerakkan lebih banyak tim sukses, bahkan (mungkin) untuk membiayai ‘permainan’ curang.

Penyelenggaraan yang buruk ditambah kecurangan di sana-sini, apakah kita masih bisa menganggap pemilu 2009 demokratis? Menurut saya selaku orang netral, pemilu 2009 tidak demokratis. Lepas dari siapa yang memenangkan pemilu kali ini, saya tetap melihat pada proses. Bagi saya, proses yang baik hampir pasti menghasilkan output yang baik. Sebaliknya proses yang buruk sudah pasti memberi hasil buruk (jauh dari semangat demokrasi). Apa artinya pesta demokrasi bila prosesnya tidak demokratis? Mudah-mudahan buruknya Pemilu 2009 tidak terulang pada Pemilu 2014, lima tahun mendatang.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s