Pembunuh Misterius Penggal Kepala Pendeta

KETENTRAMAN masyarakat Kota Manado terusik peristiwa mengenaskan. Sepasang suami istri pendeta dihabisi secara sadis oleh pembunuh misterius. Jenazah kedua korban tergeletak bersimbah darah di dalam rumah mereka, Kelurahan Malalayang II, Lingkungan III, Kecamatan Malalayang, Manado, Sabtu (25/4/2009) pagi. Pembunuhan keji ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 08.30 Wita. Kini petugas dari Poltabes Manado sedang memburu para tersangka.

Kedua korban, Pdt Frans Koagouw (64) dan istrinya Pendeta Muda Femy Kumendong (72), adalah Gembala GPDI Petra Malalayang II. Jenazah Frans tergeletak di dalam kamar. Posisinya tertelungkup ke arah pintu. Luka bekas sabetan parang menganga di bagian tengkuk. Kepala korban nyaris terpisah dari tubuhnya.

Jenazah Femmy tergeletak di tempat tidur. Tiga luka sabetan menganga di wajahnya. Satu tebasan pada dahi kanan melewati pelipis dan  mata kanan hingga tulang pipi kanan. Luka tebasan kedua menganga di dahi kanan melewati pelipis mata kanan terus ke bawah mengenai bibir hingga dada. Satu tebasan lagi mengenai pipi kiri.

“Luka tebasan yang mengenai leher bagian belakang Bapak Frans sangat dalam hingga memutus tulang leher dan (lehernya) hampir terpisah dari badannya. Sedangkan luka yang diderita ibu Femmy membuat tulang tengkorak dan tulang pipinya sobek,”jelas dr Jems Siwu, Sekretaris Forensik RS Prof Kandouw kepada Tribun Manado di kantornya, kemarin.

Namun dia enggan merinci lagi kondisi luka kedua korban. “Maaf, untuk lebih jelasnya lagi, sebaiknya tanyakan ke pihak kepolisian, karena mereka yang berwenang,” tegas dr Siwu.

Hingga berita ini diturunkan, polisi sudah memeriksa delapan saksi, namun belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Motif di balik pembunuhan itu juga masih kabur. Kapolsek Malalayang, AKP Anthony Wenno mengatakan, ia dan timnya langsung menuju ke lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP). Dugaan sementara, kasus ini berlatar sengketa tanah.

“Ini belum terlalu jelas, namun ada dua sengketa. Pertama sudah selesai di pengadilan dan yang kedua, korban bersama saudaranya baru akan memberikan batas pagar untuk tanah,” ujar Anthony Wenno. Dia menyatakan optimistis segera menangkap pelaku dan mengungkap motifnya.

Kapoltabes Manado Kombes Pol Drs Aridan J Roeroe yang dimintai konfirmasi Sabtu malam, mengatakan, pihaknya tidak memasang target berapa lama kasus ini akan terungkap. Namun dia menjamin kepolisian akan bertindak maksimal.

Dijelaskan, Poltabes Manado sudah berkoordinasi dengan Polres Minahasa untuk bersama-sama mengungkap kasus pembunuhan ini. Menurutnya, untuk memaksimalkan penyidikan, semua pihak harus bekerjasama, termasuk masyarakat. “Kepolisian pasti akan bekerja maksimal. Saat ini personel kepolisian terus bergerak untuk menyelidiki kasus tersebut,” ujarnya.

Korban Sempat Traktir Pelaku

BEBERAPA saksi mengaku sempat bertemu dua pria yang diduga sebagai pelaku pembunuhan keji itu. Defris Karaeng (58), seorang tetangga korban menuturkan, dirinya bertemu dua pria mengendara sepeda motor warna hitam. Pria yang mengendarai sepeda motor mengenakan jaket kulit hitam, helm hitam, dan celana jins. Dia membonceng rekannya yang juga mengenakan jaket kulit hitam, celana hitam, dan helm warna hitam.

Pria pertama dengan ciri-ciri tubuh pendek, tinggi sekitar 160 cm, mendekati Defris lalu menanyakan letak rumah Roky Ronoko (45), menantu korban. Defris yang ketika itu berdiri sekitar 100 meter dari rumah korban, menunjuk rumah Frans Koagouw. Kedua pria itu langsung mendatangi rumah tersebut.  Defris tak menyangka mereka memiliki maksud jahat.

Tiba di rumah tersebut, kebetulan Frans hendak berangkat ke warung milik Rohmadi (42) untuk membeli nasi kuning bagi istrinya yang tergolek sakit di tempat tidur. Frans pun berangkat ke warung nasi  yang terletak bersebelahan dengan kamar mandi Terminal Malalayang.

Rohmadi menuturkan, korban bahkan membelikan nasi kuning untuk pria yang diduga sebagai tersangka dan dimakan sampai habis. Kemudian pria itu merangkul korban dan berjalan beriringan kembali ke rumah. Sampai di sini, tak ada saksi mata yang melihat apa yang terjadi selanjutnya.

Berselang kira-kira satu jam kemudian, Putra Marsel Koago (20), cucu korban, yang sebelumnya berada di Gereja GPDI di samping rumah, masuk setelah Hence Koago (25), masih kerabat dengan korban, berteriak karena melihat kedua korban bersimbah darah.

Kepada Tribun Manado, Marsel menuturkan, kemungkinan para pelaku telah mempersiapkan parang yang digunakan menghabisi kakek dan neneknya. Kata dia, rumah kakeknya ada peda (parang) dan bambu runcing, namun tidak ada bercak darah.  “Peda dan bambu runcing itu disimpan memang untuk jaga-jaga, karena Opa sudah tua. Menurut saya, pelaku membawa sendiri parang itu dan mungkin disembunyikan dalam jaket,” ujarnya.

Keluarga Korban Histeris

SABTU siang, rumah milik Keluarga Koagouw-Kumendong  dilingkari police line. Tak seorangpun diizinkan masuk. Polisi terlihat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan bukti, untuk mengungkap motif dan pembunuhan tersebut.  Banyak warga menyaksikan aktivitas para penyidik.

Setelah itu, warga dan keluarga korban berdatangan, mulai mempersiapkan tenda dan perlengkapan untuk pemakaman. Ada juga sejumlah pimpinan gereja yang datang memberi dukungan bagi keluarga. Isak tangis keluarga langsung meledak, saat jenazah Frans dan Femmy dibawa pulang dari RSUP RD Kandou, sekitar pukul 15.15. Keduanya dibaringkan di depan altar gedung GPDI Petra Malalayang, yang berada tepat di samping kediaman mereka. Frans dan Femmy, sehari-harinya bertugas sebagai pendeta di GPDI tersebut.

Ruang ibadah dipenuhi ratusan warga sekitar dan jemaat GPDI. Mereka berdesak-desakan ingin melihat dua pelayan jemaat yang jadi korban pembunuhan sadis. Banyak yang ikut menitikkan airmata.

Dari tengah kerumunan, terdengar tangis anak dan cucu korban. “Mami Papi, kiapa ngoni dua pe siksa bagini dang. Tuhan lihat mami deng papi pe menderita. Tuhan kase akang torang kekuatan hadapi ini,” teriak Feibe, anak korban yang terus menutup matanya dengan sapu tangan.

Tiga anak perempuan korban terus menangisi jenazah orangtua mereka. Sementara para cucu tetap berdiri di samping peti jenazah. Di luar gedung gereja, sejumlah warga dan kerabat dekat korban masih sibuk membangun tenda. Ada pula warga duduk sambil membahas peristiwa pembunuhan keji tersebut.(rob/gbu/nes/luc)

Iklan

One thought on “Pembunuh Misterius Penggal Kepala Pendeta”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s