Infotainment Politik

RATUSAN juta rakyat Indonesia sedang menanti-nanti suksesi kepemimpinan nasional melalui pemilihan presiden yang rencananya digelar pada 8 Juli 2009. Masa-masa sekarang, para elite politik sibuk menggalang koalisi untuk melenggang ke gelanggang kompetisi.

Pada masa itu pula rakyat dipusingkan oleh tingkah polah para pemimpin dan calon pemimpin bangsa. Tingkah dan saling lempar statement para elite politik lebih mirip para artis di layar infotainment. Ketika masa pacaran dan baru menikah, mereka tampak sangat akur. Bahkan kemesraan mereka tampak berlebihan di hadapan publik.

Ketika hubungan mulai retak, dengan mudahnya mereka menyatakan cerai. Kemudian mulailah episode saling menyalahkan, saling membuka borok, mencerca, memojokkan, merasa diri paling benar. Episode ini juga tampak menggelikan karena semuanya merasa diri sebagai korban, merasa dizalimi. Kini rakyat seolah diposisikan sebagai penonton “infotainment politik” yang sangat tidak mendidik.

Tampak jelas kepentingan elite politik nasional kita saat ini kian tereduksi menjadi sekadar perebutan kekuasaan. Perolehan suara dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden jadi kepentingan tertinggi. Visi dan kepentingan jangka pendek, serta sikap pragmatis untuk meraih kekuasaan, itu menandai politisi kita masih belum berjiwa negarawan. (Kompas, 4/5/2009).

Gambaran politik yang bermartabat dan bermoral yang mementingkan kepentingan negara, tenggelam oleh ajang rebutan dan permainan kekuasaan. Dan semua itu terjadi di saat kondisi negara sedang karut -marut  oleh pelbagai persoalan. Mulai dari korupsi, hantaman krisis ekonomi global, bahkan ancaman disintegrasi.

Budayawan Franz Magnis-Suseno pun meminta para politisi untuk belajar menjadi negarawan. Harus mampu membuktikan apa yang mau diperbuat untuk bangsa dan negara dengan visi yang benar, penting, dan mendalam. Sebab, moralitas tinggi mutlak bagi siapa pun yang terjun ke kancah politik, apalagi menjadi pemimpin politik.

Fakta menggambarkan, para pemimpin kita belum mencapai taraf itu. Bahkan untuk menjaga stabilitas emosi pun belum mampu. Terjadi saling lempar statement bersifat saling menyalahkan dan memojokkan, bahkan saling membuka borok.

Padahal, belum lama ini kita disuguhkan pelajaran politik sangat berharga dari Pemilu di Amerika Serikat.  Antara Barack Obama dan Hillary Clinton terjadi persaingan sangat ketat untuk mewakili Partai Demokrat  menjadi calon presiden. Negative campaign terjadi dalam kompetisi antara keduanya. Namun tidak ada black campaign seperti saling membuka borok lawan. Mereka bersaing di tataran konsep dan pemikiran.  Setelah Hillary kalah dalam persaingan itu, dengan kebesaran hati seorang negarawan, dia mengajak pendukungnya untuk mendukung Obama.

Demikian pula ketika Obama bertarung melawan John McCain dari Republik. tetapi ketika kalah, McCain langsung menelepon Obama untuk mengucapkan selamat. Dia juga bertamu ke kantor Obama untuk menyampaikan ucapan selamat, sekaligus menyatakan mendukung kepemimpinan Obama. Kita begitu cepat lupa pada contoh bagus yang seharusnya kita tiru dalam perpolitikan di negeri ini.

Sebentar lagi sudah memasuki masa kampanye pilpres. Harapan kita, model politik saling membuka borok tidak terjadi di masa kampanye. Kita berharap adanya persaingan sehat. Kita menolak pola black campaign yang merusak. Sebaliknya menganjurkan penerapan negative campaign yang elegan demi memperoleh pemimpin nasional berjiwa negarawan. Ini demi kebaikan bangsa kita ke depan.

Sekali lagi, Amerika Serikat pun pernah salah ketika memilih Warren Gamaliel Harding  (1921-1923). Ketika itu rakyat Amerika hanya terpesona pada penampilan fisik Harding yang tampan. Belakangan mereka menyadari bahwa presiden ke-29 AS itu tidak memiliki kecakapan memimpin. Sehingga Harding yang hanya memimpin selama tiga tahun, terkenal sebagai presiden terburuk sepanjang sejarah AS. Mudah- mudahan rakyat Indonesia tidak salah memilih pemimpin yang akan menakhodai negeri ini lima tahun ke depan.(*)

Iklan

One thought on “Infotainment Politik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s