Nenek Moyangku Orang Pelaut

Nelayan Flores berangkat menangkap ikan paus (antara)
Nelayan Flores berangkat menangkap ikan paus (antara)

ITU adalah judul lagu anak-anak. Ketika kecil, kami diajari guru SD, menyanyikan lagu itu. Tapi pelan- pelan, saya sendiri mulai melupakannya. Saat ini saya nyaris tak bisa menyanyikannya lagi. Sudah lupa….

Lirik lagunya seperti di bawah ini:

nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai…

Tapi lama sekali kita sudah melupakan laut. Kita bahkan sudah terbang di udara. Misalnya kalau bepergian, kita lebih sering bepergian menggunakan pesawat terbang. Lewat udara memang lebih cepat, praktis, dan kalau dihitung-hitung bisa jauh lebih murah. Apalagi zaman ini yang mengagungkan waktu adalah uang.

Beberapa waktu belakangan, isu kelautan kembali mengemuka. Isu kelautan mulai memasuki arus utama (mainstream), ditarik isu pemanasan global (global warming). Kini disadari bahwa laut adalah benteng kokoh menghadapi pemanasan global. Ternyata laut adalah penyerap emisi karbon terbesar melebihi hutan.

Lagi-lagi Indonesia memiliki peran penting dalam isu kelautan (sebelumnya dalam segi kehutanan). 70 Persen wilayah Indonesia adalah laut dan memiliki 75 ribu kilometer persegi terumbu karang.  Kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi,  lautan Indonesia mampu menyerap 43,6 persen CO2 dari seluruh dunia yang mencapai 245,6 juta ton per tahun.

Terumbu karang (coral) dan organisme laut lainnya seperti plankton, alga, hingga hutan bakau di pantai, adalah penyerap emisi karbondoksida (carbon sink) hasil pembakaran bahan bakar fosil (BBM), batubara, dll.  Maka terumbu karang di dasar laut tidak saja harus diselamatkan, tetapi juga harus dikembangkan untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim secara ekstrim.

Itu pula yang menjadi pembahasan dalam World Ocean Conference (WOC) atau Konferensi Kelautan Dunia dan Coral Triangle Initiavie (CTI) Summit, yang berlangsung di Manado, 11-15 Mei 2009.  Melalui pertemuan itu, para pemikir bersama pemerintah membahas mengenai upaya penyelamatan lingkungan laut (termasuk terumbu karang ) sekaligus juga membahas mengenai beragam isu kelautan lainnya.

Kendati kebanyakan orang Indonesia sudah mulai meninggalkan laut, tetap masih banyak yang menggantungkan hidupnya dari laut. Jangan sampai hanya demi isu penyelamatan lingkungan, lantas nasib para nelayan diabaikan. Jangan sampai kita melarang para nelayan kita menangkap ikan. Sejauh mereka menangkap dengan cara-cara yang benar, seperti tidak menggunakan pukat harimau (trawl), bom ikan, potasium, dll, biarkan saja.

Justru inilah saatnya pemerintah menempatkan para nelayan di posisi yang sepatutnya. Mengarahkan sumberdaya, teknologi, dan dana untuk meningkatkan kemampuan para nelayan kita sehingga mereka sekaligus menjadi para pahlawan kelautan bagi keselamatan Bumi dari musuh global warming.

Sebaliknya pemerintah juga harus tegas terhadap para “nelayan besar”. Karena belakangan ini makin terlihat para konglomerat mulai “turun ke laut”.  Jangan nelayan tradisional ditekan, tapi konglomerat justru semakin leluasa menghancurkan ekosistem laut. Mereklamasi laut untuk tambak, real estate, penggunaan pukat harimau, dll. Giliran sudah rusak, nelayan tradisional yang kena getahnya.

Kita sudah belajar dari peletarian hutan. Rakyat menebang satu pohon bisa dipenjara 10 tahun. Tapi konglomerat menggunduli hutan hingga jutaan hektare, malah melenggang bebas dan semakin merajalela merusak hutan. Maksud saya, jangan demi pelestarian laut, lantas kita menjauhkan nelayan kita dari laut. Mereka hanya menjadi “kuli” dan tidak menjanjikan masa depan. Itu justru akan membuat anak-anak Indonesia semakin tidak tertarik menyanyikan lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”.(*)

Iklan

5 thoughts on “Nenek Moyangku Orang Pelaut”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s