Stop Press Pertama Tribun Manado

* Koran Terbit dalam Dua Versi Berbeda

Tribun Manado edisi 27 Mei 2009 versi pertama
Tribun Manado edisi 27 Mei 2009 versi pertama

WAKTU sudah menunjukkan 02.15 Wita. Proses produksi sudah selesai dan mesin cetak sudah mulai menggiling. Satu gulungan kertas sudah ludes menjadi koran Tribun Manado. Saya bersama Pemred Richard “Opung” Nainggolan, dan redaktur Syarief Dayan, bergerak pulang, kembali ke mess di Winangun, Kota Manado.

Baru kira-kira satu kilometer dari kantor, kami melihat ada asap membubung tinggi, lidah api menjulur, seperti hendak menjilat langit. Ada kebakaran hebat di kawasan Kairagi, persisnya di perumahan Pemprov Sulut.  Dayan yang mengemudikan mobil, langsung menepi. Saya spontan melompat turun dan langsung berlari ke lokasi kebakaran. Dayan dan Richard menyusul di belakang. Agoes Soemarwah (Manager Produksi) yang mengendarai sepeda motor juga berhenti.

Ternyata bukan hanya satu rumah yang terbakar. Ketika kami tiba, sudah tujuh rumah ludes. Posisi rumah seperti barak, tipe deret, sehingga api mudah berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya di sisi sebelah kiri maupun kanan. Dua mobil  pemadam kebakaran tak kuasa melawan ganasnya amukan si “jago merah”.

Api merambat dengan cepat. Kurang dari 15 menit, dua rumah lagi menjadi sasaran amukan. Api sudah menjilat atapnya dan rupanya di loteng sudah berbunyi “kletak-kletak”. Sudah sembilan rumah dilalap api. Saya menelepon Steddy Pude, redaktur yang biasa tidur di  kantor. Meminta agar dia segera mengirim seorang fotografer ke lokasi.

Saya sendiri langsung ikut sibuk membantu warga yang rumahnya sudah mulai terbakar. Bersama penghuni rumah, kami mengangkat keluar kursi, tempat tidur, televisi, komputer, dan sebagainya. Tapi saya heran, mengapa dari sekian banyak orang, nyaris tidak ada yang ikut membantu? Ratusan orang yang berada di lokasi itu seperti sedang menyaksikan pertunjukkan. Mereka hanya menonton dari pinggir jalan. Tampaknya solidaritas masyarakat sudah mulai luntur. Entahlah.

Setelah itu saya bergerak ke ujung satunya. Atap rumah di ujung itu juga sudah mulai terbakar. Saya masuk rumah itu, ikut mengangkut barang-barang bersama penghuni rumah. Seorang ibu tua, kira-kira 50-an tahun, menangis sambil berjalan memasuki rumah itu. “Tolong ambe Mami pe pakaian dalam di kamar. Ambil jo baju-baju sadiki biar Mami bisa pake,”ujar ibu itu kepada seorang pemuda. Mungkin itu anaknya.

Saya langsung meminta ibu itu keluar. Khawatir dia jatuh atau bisa saja tertimpa reruntuhan dari loteng. Apalagi lantai rumah sangat licin karena sengaja disiram untuk meredam api. Seluruh dinding rumah itu juga sudah basah disiram air. Saya masuk ke kamar bersama pemuda itu. Udara di dalam rumah sudah sangat panas. Gemerutuk kayu terbakar hanya dua meter di atas kepala kami.

Setelah keluar membawa baju-baju yang diminta si ibu, suaminya datang. “Tolong ambe Papi pe tivi di kamar, jo,”ujarnya kepada anaknya. Saya kembali bersama pemuda itu masuk rumah. Saya menggigit handphone di mulut, sebagai penerangan. Kebetulan handphone saya ada senternya. Kami masuk ke kamar yang lain. Letaknya di belakang, dekat dapur. Untuk masuk kamar itu, kami harus berbelok ke kanan, ke kiri, baru ke kanan lagi. Sementara dapur sudah mulai terbakar.

Pemuda itu mengangkat televisi 16 inchi itu dari meja. Tampaknya dia panik sehingga tidak mencabut kabel pada stop

Tribun Manado Edisi 27 Mei 2009 versi kedia dengan berita "stop press" di banner.
Tribun Manado Edisi 27 Mei 2009 versi kedua dengan berita "stop press" di banner.

kontak. Ketika hendak keluar, televisi hampir jatuh karena colokkan listrik dan kabel antena masih terpasang. Untunglah kami berhasil keluar dari rumah itu. Ketika di ruang tamu, saya melihat api sudah menjilat plafon rumah itu.

Saya menelepon Pemred Opung, “Pung, berani nggak stop press?” Beliau menjawab, “Berani. Lakukan saja!” Opung  langsung menelepon manajer percetakan untuk mematikan mesin. Sementara saya melihat Rizky Adriansyah, fotografer kami, masih sibuk menjepret. Saya mendekatinya dan mengajak dia balik ke kantor. Ketika tiba di kantor, mesin cetak sudah stop.

Dengan kemampuan pas-pasan dalam menata halaman koran, saya mulai merombak halaman. Maklum, layoutman sudah pada cabut dari kantor. Saya mulai mencabut satu berita dan memasang foto-foto kebakaran. Kemudian menulis stright news empat alinea mengenai kebakaran itu. “Kebakaran Hebat Landa Kairagi”.

Opung Richard dan Dayan pun tiba di kantor. Bersama-sama kami merombak halaman satu. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dinihari. Tapi lantaran kemampuan teknis saya agak payah, akhirnya kami menelepon Freddy Tumboh (layoutman) segera ke kantor untuk merapikan halaman itu. Kurang dari satu jam, semua siap dan proses pencetakan dilanjutkan.

Hasilnya, Tribun Manado edisi Rabu 27 Mei 2009, terbit dalam dua versi berbeda. Satu versi menggunakan berita di banner tentang penyerobotan kapal perang Malaysia di Blok Ambalat dan versi lainnya menggunakan berita “Kebakaran Hebat Landa Kairagi” dengan cap “Stop Press”.

Kami kembali ke lokasi kebakaran dengan membawa beberapa eksemplar koran baru. Saya dan Marwah membagikannya kepada warga di lokasi kejadian. Mereka terkejut, “Berita kebakaran so terbit di koran Tribun Manado. Cepat sekali ya,” kata orang-orang itu. Mereka berkerumun, berebutan melihat foto dan membaca berita mengenai kebakaran itu. Mereka heran karena berita sudah ada di koran ketika petugas pemadam kebakaran masih sementara berjibaku menjinakkan amukan si jago merah. Petugas baru berhasil mengatasi kebakaran setelah 12 unit rumah ludes terbakar.

Paginya, Tribun Manado tampil beda dari semua koran yang terbit di Sulawesi Utara. Hanya Tribun Manado yang memuat berita tersebut. Kami puas, karena Tribun Manado selangkah lebih maju dibanding semua koran yang terbit di Sulut.(*)

Iklan

3 thoughts on “Stop Press Pertama Tribun Manado”

  1. Sonde ada yang lawan….itu dolu To’o….maen sang dia…

    ———-
    Om El, torang habok sa… ko abis, kitong harus head to head deng koran tetangga di sini na….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s