Melawan Bandit Berdasi

KASUS korupsi dan dugaan korupsi di Sulawesi Utara (Sulut) sungguh bikin miris. Hampir setiap hari selalu ada berita mengenai kasus korupsi oleh para pejabat pemerintah maupun para wakil rakyat yang terhormat.

Saat ini sejumlah kasus dugaan korupsi di Sulut sedang bergulir di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Tinggi. Di antaranya kasus dugaan penyimpangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Tomohon senilai Rp 55,5 miliar selama tiga tahun berturut-turut, 2005-2007. Masing-masing tahun 2005 sebesar Rp 31,5 miliar, tahun 2006 sebesar Rp 17 miliar, dan tahun 2007 sebesar Rp 7 miliar.

Dugaan korupsi di Tomohon yang kini ditangani komisi antikorupsi, tidak saja membuat para pejabat ketar- ketir, tetapi juga menyebabkan rekanan pemerintah ikut terseret. Pengusaha bunga seperti Yamin Hamzah, pemilik Ilomata Florist, terpaksa harus berurusan dengan KPK. Dia adalah rekanan pemerintah dalam even Tomohon Festival Flower Tahun 2006.
Hamzah membeberkan bahwa dirinya pernah dipaksa oknum PNS di lingkup Pemerintah Kota Tomohon untuk menandatangani sejumlah kertas dan kuitansi kosong. Dia curiga ada penggelembungan nilai uang sehingga dirinya dipaksa melakukan hal itu. Namun dia terpaksa menandatangani karena jika tidak, mereka tidak akan membayar tagihannya.

Sedangkan di Kabupaten Talaud, 18 anggota Dewan dan dua pejabat DPRD setempat, dijebloskan ke dalam tahanan karena diduga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,2 miliar dalam kasus pinjaman massal terhadap pos anggaran DPRD Talaud tahun 2005.

Kasus-kasus tersebut hanyalah sedikit contoh kasus korupsi yang kini sedang menggelisahkan masyarakat Sulut. Dua kasus itu hanya kepingan kecil dari sebuah puzzle raksasa kasus korupsi di Sulut. Sulut pun hanyalah sekeping kecil dari puzzle korupsi yang lebih besar lagi. Ini menggambarkan seolah-olah di negeri kita sedang berlangsung kompetisi korupsi. Semua seperti berlomba-lomba melakukan korupsi. Lembaga eksekutif, legislatif, dan judikatif hingga pengusaha, tak ada yang luput dari perbuatan tercela itu.

Tingkah laku para pejabat dan wakil rakyat di daerah tak ada bedanya dengan para atasan mereka yang bercokol di tingkat pusat. Bandit berdasi tersebar merata dari pusat sampai daerah. Bila sebelumnya hanya para bandit di pusat yang bermain dalam nominal besar, kini para bandit di daerah pun melakukan hal serupa. Kini para elite di daerah sudah enggan “mengais” nominal kecil. Nilai uang yang dikorupsi pejabat di daerah pun sudah di angka miliaran rupiah.

Semakin mengkhawatirkan lagi, kini korupsi dilakukan secara kolektif. Para koruptor tak lagi menjalankan “misinya” sendiri-sendiri agar bisa berlindung di balik kelompok. Sebagaimana terjadi pada kalangan DPR/DPRD belakangan ini. Kita tahu bahwa dampak langsung dari perilaku koruptif para pemimpin adalah  hancurnya perekonomian dan semakin sulitnya masyarakat meraih kesejahteraan. Dana dari pajak yang seharusnya dialokasikan bagi pembangunan, justru tersangkut di kantong-kantong para bandit berdasi yang menyamar sebagai pengabdi rakyat.

Sudah saatnya kita, seluruh komponen masyarakat di Sulut, bahu-membahu melawan para koruptor. Setiap orang harus membenci korupsi. Istri harus tahu dari mana sumber uang yang diberikan oleh suaminya, demikian pula sebaliknya. Anak-anak pun patut mempertanyakan kepada orangtuanya, ketika perekonomian keluarganya mendadak makmur. Saling kontrol dari level keluarga akan lebih efektif dibandingkan pencegahan oleh KPK.

Apalagi Sulut sebagai sebuah daerah yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Banyaknya rumah ibadah yang bertebaran di seantero provinsi ini, akan lebih indah bila linear dengan perilaku masyarakat, terutama para pemimpin yang antikorupsi. Saatnya kita juga melawan para bandit berdasi secara kolektif.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s