Jabat Tangan Bersejarah

LIMA tahun tak pernah bertemu dan tak saling bertegur sapa, sejak Maret 2004, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri bisa bertemu, bahkan berjabatan tangan di depan publik. Peristiwa bersejarah ini terjadi ketika kedua tokoh yang sama-sama maju (lagi) sebagai calon presiden pada Pilpres 2009 harus hadir di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menarik nomor urut.

Apakah jabat tangan itu berarti sudah tidak ada lagi persoalan di antara kedua tokoh nasional tersebut? Inilah yang sedang menjadi perbincangan berbagai kalangan. Tentu masyarakat menyayangkan bila ‘perdamaian’ itu tidak tulus atau sekadar untuk membangun citra. Rakyat menginginkan pemimpin yang benar-benar tulus. Menjadi gambaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang pemaaf, ramah, dan sangat menjunjung sopan santun. Tidak elok bila para pemimpinnya saling bermusuhan secara pribadi.

Para pemimpin sepatutnya menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Bukan sekadar memberikan contoh “begini baik, begitu tidak baik”, sementara mereka tidak mempraktikannya sendiri dalam kehidupan mereka. Rakyat pasti bisa menerima bila para pemimpin hanya berseberangan secara konsep dan prinsip (mazhab) tertentu demi kemajuan bangsa.

Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia Effendy Gazali menyatakan tidak melihat ada pertanda apa-apa dari peristiwa bersalamannya kedua tokoh itu. Mereka hanya “terjebak” dalam acara di kantor KPU yang mau tak mau harus bertemu. Tidak berjabat tangan bisa dianggap sebagai sikap yang tidak sopan. Mereka juga harus mencerminkan citra sebagai calon pemimpin yang cinta damai. Juga agar bisa mengambil hati calon pemilih.  Soal pencitraan itu diungkapkan oleh Pengamat politik Bima Arya Sugianto.  Menurut Bima, pencitraan di depan publik memang sangat dibutuhkan oleh pasangan capres-cawapres.

Sejumlah pengamat politik memandang jabat tangan kedua tokoh itu belum menyelesaikan persoalan pribadi antara kedua pemimpin nasional tersebut. Apalagi suhu politik sedang memanas dan akan semakin panas hingga hari pemungutan suara Pilpres 2009.  Baik para calon presiden (capres) dan  calon wakil presiden (cawapres) hingga tim sukses mereka masing-masing, masih akan terlibat “jual beli” pernyataan.

Selama ini kita telah melihat para capres-cawapres tak pernah berhenti melontarkan sindiran terhadap rival politiknya. Tidak sedikit yang menyerang pribadi rival, bahkan hingga harta kekayaan maupun hobi yang dinilai mahal  dan tidak pantas untuk masyarakat Indonesia yang masih miskin dan menerita.  Ada juga capres dan tim sukses seolah-olah bersikap santun, namun secara halus menyerang pribadi rivalnya lebih tajam lagi.

Tentu tidak sehat bagi perkembangan demokrasi di negeri ini bila para pemimpin dan calon pemimpin masih bersikap kekanak-kanakan dan mengabaikan etika. Mereka haruslah orang-orang yang matang dalam berpolitik dan dewasa secara kejiwaan. Bangsa ini sangat membutuhkan pemimpin yang memiliki ketokohan, bahkan berjiwa seorang  negarawan sejati. Sekali lagi, tidak elok bila para pemimpinnya masih saling mendendam satu sama lain. Apa kata dunia?(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s