Bukan Tetangga yang Baik

KITA punya banyak tetangga. Di kiri, kanan, depan, dan belakang. Beberapa tetangga sangat baik dan tidak suka mencampuri urusan dalam rumah kita. Itu karena mereka adalah orang-orang berbudaya tinggi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Tapi beberapa tetangga yang lain sungguh tak bisa hidup berdampingan dengan baik. Satu tetangga suka menyerobot tanah dan air kita. Geser-geser patok di perbatasan, suka menyelinap masuk halaman rumah kita tanpa permisi. Juga suka mengklaim halaman rumah kita sebagai miliknya. Tetangga satu ini juga culas terhadap orang-orang kita. Suka menyiksa, bahkan membunuhi saudara-saudara kita yang kebetulan mengadu nasib di rumah mereka.

Tetangga lainnya sedikit lebih beradab, tapi juga bukan merupakan tetangga yang baik. Mereka suka menyembunyikan orang-orang yang mencuri harta dan uang milik kita. Mereka sudah tahu kalau orang- orang yang bersembunyi itu adalah para bandit, tapi mereka tidak mau menyerahkannya kepada kita. Mereka lebih suka menyembunyikannya karena ikut meraup untung dari harta kekayaan yang dicuri dan dibawa lari ke rumah mereka.

Buruknya perilaku tetangga kepada kita terjadi karena mereka tidak terlalu menaruh hormat kepada kita. Mereka tahu kita lemah, karena kepala rumah tangga kita juga lemah. Mereka sangat yakin tidak akan kenapa-kenapa, sekalipun bersikap dan bertindak tidak adil kepada kita. Mereka melakukan beberapa kali test case dan berhasil. Kemudian mereka semakin keenakan melakukannya. Bahkan mencoba hal-hal yang tidak-tidak sekalipun, ternyata kita ‘nrimo’ saja. Mereka pun semakin keranjingan mengobok-obok isi rumah kita.

Sesekali orang-orang dalam rumah marah atas sikap para tetangga yang semakin menjengkelkan. Apalagi para tetangga itu terlihat begitu pongahnya. Namun teriakan-teriakan itu tak mereka gubris. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa teriakan-teriakan seperti itu tak bertenaga. Justru itu membuat mereka semakin berani “menggelitik” sekujur tubuh kita. Sungguh disayangkan, harga diri kita menjadi begitu rendahnya di mata para tetangga. Mengapa kita tidak sekali-sekali memberi peringatan keras? (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s