Inilah Wajah Asli Elite Politik Kita

POLITIK itu kotor. Demikian idiom yang biasa kita dengar diucapkan orang dalam perbincangan kelas warung kopi, bahkan sesekali diulas berbagai media massa. Benarkah idiom tersebut? Bisa jadi jawabannya, “iya!”

Karena selain idiom “politik itu kotor” kita juga sering mendengar/membaca pernyataan para politisi bahwa “politik tidak mengenal kawan sejati ataupun lawan sejati. Yang ada hanya kepentingan sejati.” Hari ini kawan, besok sudah jadi lawan. Lalu kita bilang, “politik itu memang kejam.”

Kita menyaksikan perilaku para elite politik yang secara telanjang mempertontonkan hal itu. Loncat dari satu partai politik (parpol) ke parpol lainnya sangat jamak terjadi. Lain kali mereka bisa balik lagi ke partai politik sebelumnya. Atau ketika terjadi perbedaan pandangan dalam parpol, langsung membentuk parpol baru.

Perilaku elite politik yang mirip kutu loncat itu telah menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Rakyat pun sudah mafhum dan tidak terlalu mempersoalkannya. Bahkan pada hari-hari belakangan ini, koalisi antarparpol  juga mempertontonkan pola  hampir serupa. Hari ini menyatakan berkoalisi dengan parpol A, besok menyatakan berkoalisi dengan parpol B. Tetapi mendadak kembali gabung dengan parpol A.

Dalam hal mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pun, perilaku itu ditampilkan secara telanjang. Tidak ada rasa sungkan apalagi malu. Prinsipnya, itu hal biasa dalam berpolitik. Benarkah perilaku seperti itu wajar dalam berpolitik?

Menarik disimak, ketika seorang elite politik meloncat ke kubu atau kelompok yang lain, selalu menyatakan bahwa itu dilakukan karena memiliki platform yang sama dan semuanya demi kepentingan bangsa dan negara. Demi kepentingan rakyat juga. Demi memajukan bangsa agar rakyat lebih sejahtera, adil, dan makmur.

Pernyataan seperti itu seolah mengacu pada makna politik secara leksikal, yakni untuk mengurus kesejahteraan warga negara. Atau dalam arti yang lebih luas, sebagai perwujudan hak-hak setiap warga negara. Tapi fakta menunjukkan wajah politik di negeri kita semakin jauh dari tujuan itu. Politik di negeri kita semakin bernuansa komersil. Kekuatan kapital/modal kian dominan dan semakin menjadi penentu siapa yang akan berkuasa!

Tampak dari perilaku elite di panggung politik yang lebih memprioritaskan hasrat tak terkendali merebut kekuasaan semata. Demi mengumpulkan kekayaan dan mencari prestise pribadi. Politik di negeri kita semakin tidak beretika karena kian bergantung pada kehendak yang punya kepentingan. Prinsipnya, siapa berhasrat menguasai ekonomi, dia harus menguasai politik.

Itu terindikasi dari berbagai kecurangan sistematis selama pemilu legislatif, dan sudah muncul kekhawatiran publik akan terulangnya kasus serupa dalam Pemilu Presiden. Misalnya kekisruhan Daftar Pemilih Tetap (DPT) serta sikap pemerintah yang seolah lepas tangan. Juga kecurigaan adanya intervensi pihak tertentu terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kita sedang menyaksikan ‘pertunjukan’ itu di panggung politik jelang Pilpres 2009 yang mempertontonkan wajah asli para elite politik kita. Banyak mengumbar janji demi meraih dukungan rakyat. Tapi tidak tampak kesan mereka sedang memperjuangkan kepentingan rakyat dan masa depan bangsanya. Belum ada yang memaparkan visi jauh ke depan maupun nilai-nilai apa yang akan diterapkan ketika meraih kekuasaan. Hanya ada saling sindir dan saling menjatuhkan lawan politik serta berlomba berebut simpati demi kepentingan jangka pendek.

Bila kita, segenap rakyat Indonesia, terjebak pada retorika kosong para elite politik, niscaya kita tidak mungkin keluar dari persoalan-persoalan yang sedang membelit bangsa kita. Kita senantiasa terperangkap dalam ketidakberdayaan. Terbelenggu kemiskinan, korupsi, kerusakan lingkungan secara masif akibat eksploitasi berlebihan terhadap  tanah, hutan, dan tambang. Sistem ekonomi terus bergantung pada utang luar negeri dan konglomerasi serta semakin lunturnya pluralisme budaya dan fragmentasi masyarakat sipil. (inilah poin-poin yg dibahas di forum diskusi KOMPAS).

Dengan sistem politik saat ini, yang dibangun dengan perspektif melanggengkan kekuasaan, terbukti telah menutup peluang tampilnya para pemimpin atau negarawan yang sungguh-sungguh rela bekerja dan berkorban demi kepentingan rakyat dan bangsanya. Akhirnya, kita tetap akan menjadi negeri dengan sumber kekayaan alam berlimpah tapi terbelakang dibanding bangsa-bangsa lain.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s