Debat Tanpa Berdebat

Megawati, SBY, dan JK
Megawati, SBY, dan JK

MERUPAKAN hal baru dan sebuah kemajuan besar pada pentas demokrasi di Indonesia. Ada ‘debat capres’ dalam Pemilihan Presiden 2009 yang menjadi agenda khusus Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Masyarakat di seantero Indonesia menanti-nantikan acara tersebut dengan jantung berdebar lebih kencang dari biasanya. Betapa tidak, tiga orang calon presiden atau capres yang selama ini terlibat ‘perang’ statement melalui media massa, akan berhadap-hadapan muka dengan muka dalam satu forum. Berdebat pula..!

Masyarakat membayangkan akan ada semacam debat terbuka antarcapres karena acara itu disaksikan langsung oleh ratusan orang dan disiarkan langsung melalui televisi sehingga ratusan juta pasang mata rakyat Indonesia bisa menyaksikannya secara real time. Terbayang sebuah debat sengit mengenai beragam topik dan persoalan bangsa, manakala moderator melontarkan sebuah isu kepada ketiga capres untuk diperdebatkan sesuai platform dan visi-misi setiap kandidat.

Ternyata, debat capres bertema “Penegakan Supermasi Hukum dan Tata Kelola Negara yang Baik dan Bersih” di Studio Trans TV, Jakarta, Kamis (18/6/2009) malam, kurang greget. Acara selama dua jam itu berlangsung sangat kaku dan terkesan seperti lomba pidato atau bahkan mirip “lomba cerdas cermat”.

Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan selaku moderator melontarkan pertanyaan dan dijawab oleh setiap capres yang  berdiri di podium. Regu A: Megawati Soekarnoputri, Regu B: Susilo Bambang Yudhoyono, dan Regu C: Muhammad Jusuf Kalla. Bedanya, panitia tidak menyediakan bel yang boleh dipencet saat “babak rebutan”.

Tidak ada debat di antara mereka yang “berdebat”. Ketiga capres terlihat lebih sering saling melengkapi jawaban yang disampaikan rival politiknya. Misalnya soal penanganan alutsista, persoalan hak asasi manusia (HAM), pungutan liar, dan lainnya. Hal-hal ideologis mendasar terkait penegakan hukum dan tata kelola pemerintah (sesuai tema debat itu), tidak muncul secara substantif dari ketiga capres. Tidak ada argumentasi-argumentasi lincah dan cerdas dari tiga kandidat yang “berdebat”.

Ide-ide orisinil, cemerlang, dan progresif  untuk pembangunan Indonesia 5 tahun ke depan, yang disusun oleh capres dan tim sukses masing-masing, tidak tersampaikan secara leluasa lantaran tersandera oleh pengaturan acara yang kaku. Terjebak oleh sebuah formalitas yang memasung kebebasan berekspresi. Apalagi diselingi iklan komersil dari televisi yang menyiarkan langsung acara itu.

Padahal, kita berharap sebuah debat yang kental nuansa ideologis sekaligus berisi proposal kebijakan publik dari setiap calon pemimpin bangsa ini. Kita berharap debat itu menjadi sebuah komunikasi politik dengan publik sebagai calon pemilih mengenai visi-misi dan bagaimana mereka menerjemahkan itu dalam tindakan ketika terpilih sehingga menjadi semacam obligasi yang harus dilunasi dan bisa ditagih karena disampaikan langsung dari mulut calon pemimpin.

Kita juga berharap karakter asli para calon pemimpin kita itu keluar secara spontan, agar bisa sedikit mengeliminir politik pencitraan yang dilakukan oleh para tim sukses mereka melalui iklan di media massa, maupun saat berkampanye di hadapan publik yang cenderung satu arah. Karena apa? Karena setelah merdeka 64 tahun, negeri ini bergerak lamban seperti siput sehingga disalib oleh bangsa-bangsa lain. Sehingga kita membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki banyak ide dan akal serta kemampuan memecahkan persoalan melampaui manusia kebanyakan.

Betul bahwa kita membutuhkan kesantunan dari para capres sehingga berharap “debat capres” juga berlangsung santun. Tapi bukan sebuah kesantunan yang justru melenyapkan substansi persoalan. Justru akan muncul kesantunan yang orisinil, manakala mereka diperhadapkan pada situasi yang menguras pikiran dan emosi. Ketika itulah kita sebagai pemilih semakin mengenal siapa sebenarnya yang paling layak disodorkan kepercayaan untuk memikul dan menjawab harapan setiap insan bangsa ini lima tahun ke depan, melalui pemungutan suara pada 8 Juli 2009 mendatang.

Semoga acara debat serupa pada 25 Juni 2009 bisa lebih memenuhi ekspektasi publik.(*)

Iklan

One thought on “Debat Tanpa Berdebat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s