Presiden Halal

TIM kampanye pasangan capres-cawapres tertentu menghendaki pemilihan presiden hanya berlangsung satu putaran saja. Ada keyakinan luar biasa bahwa target tersebut pasti akan tercapai. Selain itu, pilpres satu putaran bisa menghemat anggaran hingga Rp 4 triliun. Hal ini wajar saja dan sama sekali tidak menyalahi undang-undang.

Dengan dukungan hasil berbagai survei yang menempatkan persentase elektabilitas sangat mencolok terhadap capres lain, semakin mempertebal keyakinan (sekaligus menyampaikan kepada publik) bahwa pilpres pasti bisa berlangsung satu putaran untuk kemenangan capres tertentu. Hal ini juga wajar, apalagi survei tersebut merupakan sebuah hasil kerja ilmiah

Namun pasangan capres lainnya menganggap ambisi itu sebagai upaya penggiringan opini publik agar memilih capres tertentu. Hasil survei dianggap sebagai skenario pembenaran bila akhirnya pilpres benar- benar dimenangkan oleh capres tertentu hanya dengan satu putaran. Kecurigaan seperti ini juga harus dipandang sebagai sesuatu yang wajar, apabila benar survei yang dimaksud bermuatan kepentingan dari capres tertentu.

Bagi kami, satu putaran atau dua putaran tidak masalah. Toh undang-undang pemilu membolehkannya. Asalkan pilpres berlangsung jujur dan adil, mulai dari proses, pelaksanaan pemungutan suara, hingga penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Agar hasil pilpres benar-benar legitimate, mewakili mayoritas rakyat Indonesia.

Sebaliknya, jika capres tertentu atau tim suksesnya melakukan segala cara (termasuk cara-cara curang) untuk memenangkan pilpres, dan pada akhirnya menang, maka presiden terpilih bisa disebut “presiden haram”. Haram, karena dia menduduki kekuasaan melalui cara-cara kotor. Haram karena sebenarnya mayoritas rakyat  Indonesia tidak memilih dia sebagai pemimpin mereka.

Agar pilpres menghasilkan ‘presiden halal’, maka dari proses, pelaksanaan pemungutan, hingga penghitungan suara harus berlangsung jujur dan adil. KPU sebagai pelaksana dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) hingga Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) harus bekerja secara independen dan sama sekali terbebas dari tekanan pihak mana pun.

Kegagalan lembaga-lembaga tersebut dalam melaksanakan dan mengawas pilpres, akan mengakibatkan kegagalan bagi seluruh negeri ini karena salah memilih pemimpin.  Demikian pula para capres-cawapres bersama tim sukses masing-masing. Menggunakan cara-cara tidak elegan, curang, manipulatif, mulai dari proses hingga pelaksanaan pilpres, hanya akan menghasilkan “presiden terpilih” yang tidak kredibel dengan legitimasi semu.

Kepada pemerintah yang tengah berkuasa saat ini, juga diharapkan tidak memanfaatkan kekuasaan untuk mempengaruhi hasil pilpres. Mengingat dalam tubuh pemerintahan saat ini terbagi dalam dua gerbong. Di sinilah dibutuhkan peran KPU, Bawaslu, Panwaslu, dan kepolisian, menjalankan tugasnya secara independen dan profesional. Kasus pilkada di Jawa Timur dan di berbagai daerah lainnya,  kisruh daftar pemilih tetap (DPT) pada pemilihan legislatif, dan banyak pelanggaran lainnya selama pemilihan legislatif,  jangan sampai terulang pada pilpres 8 Juli 2009.

Kita berharap rakyat hati-hati dan cerdas menggunakan hak pilihnya. Bukan pekerjaan mudah, karena masih banyak pemilih yang tidak benar-benar memahami dan mengenal secara baik seperti apa karakter dan kemampuan capres-cawapres yang akan dipilih. Memilih karena faktor emosi, ikut-ikutan,  ataupun kedekatan-kedekatan tertentu. Dan yang paling  menyedihkan adalah mereka yang memilih karena mendapat imbalan uang atau hadiah lainnya dari pihak-pihak tertentu.

Uang sering dipakai untuk menaklukan hati pemilih. Kandidat pemimpin yang melakukan politik uang (money politics), adalah calon pemimpin yang melecehkan rakyat, menganggap rakyatnya bisa dibeli dengan uang. Padahal, sejatinya suara rakyat tak bisa dibeli. Ingat, vox populi, vox dei atau suara rakyat adalah suara Tuhan. Jangan dijadikan vox populi, vox argentums atau diobral demi gemerincing uang atau .

Jangan sampai kita menyerahkan negeri ini dan segala cita-cita luhurnya ke dalam tangan sang “presiden haram.”(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s