Cuci Tangan Dulu Akh….

Tadi aku baru selesai makan ikan panggang. Ikannya dilumuri kecap manis dan saus tomat. Dimakan dengan nasi putih yang masih hangat. Makannya juga pakai tangan. Uenak tenan. Abis makan, tanganku bau amis. Maklum, itu ikan karang jadi memang lebih amis dari ikan pada umumnya.  Tapi bukan persoalan, tinggal cuci tangan pake sabun dan bau amisnya langsung hilang.

Cuci tangan memang sangat penting. Bukan sekadar menghilangkan bau amis akibat makan ikan panggang, tetapi bisa mencegah banyak sekali penyakit akibat virus dan bakteri. Misalnya agar terhindar dari wabah virus flu babi (H1N1) yang sudah menjadi pandemi. Para ahli kesehatan juga telah menganjurkan agar kita mencuci tangan minimal tiga kali sehari sebagai tindakan pencegahan.

Jadi cuci tangan itu memang sangat penting dan bermanfaat bagi kesehatan kita. Cuci tangan seperti yang diamksudkan di atas adalah makna harfiah, atau makna sebenarnya. Tapi cuci tangan juga memiliki makna  kiasan, yakni sikap seseorang atau sekelompok orang untuk melepaskan diri dari sebuah kesalahan/tanggungjawab akibat perbuatan mereka.

Sikap “cuci tangan” atau lepas tanggungjawab sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Bila tindakan itu hanya merugikan satu atau dua orang, mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tapi kalau berdampak secara massal, tentu sangat berbahaya. Misalnya pemerintah yang sedang berkuasa, melakukan kesalahan, atau melepas tanggungjawab atas sebuah keputusan yang seharusnya dia ambil sebagai pemimpin tetapi tidak dilakukan.

Sikap “cuci tangan” seperti itu merupakan cikal bakal rusaknya moral. Pemimpin yang suka “cuci tangan”  kurang baik bagi perjalanan sebuah bangsa. Kita khawatir suatu hari nanti, ketika di masa kepemimpinannya terjadi banyak penyimpangan seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan/wewenang, banyak kegagalan dalam manajemen pemerintahan, dia akan dengan entengnya menyorongkan kesalahan dan tanggungjawab kepada pihak lain. Tetapi ketika berhasil, dia akan menepuk dadanya dan mengatakan,”Itu keberhasilan saya.” Atau yang paling halus, dia bisa mengatakan, “Itu keberhasilan kita bersama.” Pernyataan kedua, bila dicermati, balik-baliknya akan mengarah kepada pemimpin itu sendiri.

Saya khawatir, bila kita mendapatkan seorang pemimpin yang sukanya “cuci tangan” akan memperburuk citra bangsa ini di level pergaulan internasional. Kita akan semakin tidak direken oleh bangsa-bangsa di dunia. Kita akan semakin terpuruk, tertinggal secara ekonomi dibanding negara-negara lain.

Tapi, ketika sang penguasa turun takhta, dia akan mengatakan, “Itu bukan kesalahan saya. Itu merupakan kesalahan si itu, si ini, si dia, dan sebagainya. Atau minimal dia akan berkata, “Itu merupakan kesalahan kita bersama!” Bayangkan, kita yang tidak tahu apa-apa, tidak terlibat dalam pengambilan keputusan, kita yang sangat jauh dari kekuasaan pun akan kena getahnya. Karena kesalahan itu menjadi kesalahan kita bersama.

Mudah-mudahan presiden terpilih dalam Pilpres 8 Juli 2009 adalah kandidat terbaik yang tidak doyan “cuci tangan”. Sebaliknya, presiden terpilih adalah orang yang benar-benar suka cuci tangan (dalam arti harfiah), sehingga rakyat menjadi sehat sejahtera, terhindar dari berbagai penyakit akibat virus dan bakteri.

Selamat mengikuti pesta demokrasi. Berikanlah kepercayaan Anda kepada calon pemimpin yang benar- benar bisa dipercaya supaya negeri kita yang tercinta ini cepat maju, sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah duluan maju. Jangan mencoblos, contreng saja…!!!!.

Aduh, asyik nulis, aku sampe lupa cuci tangan. Cuci tangan dulu akh…. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s