Wahai Teroris, Masihkah Anda Punya Hati?

LEDAKAN bom itu tidak saja meluluhlantakkan dua hotel, menewaskan sembilan orang, dan melukai puluhan korban. Bom itu juga telah ‘mencuri’ bagian-bagian penting dari sebuah puzzle kehidupan. Bagian penting yang melengkapi kehidupan dan masa depan orang lain. Paling tidak keluarga terdekat mereka.

Seperti Ratna Mokodompis bersama dua buah hatinya, Susan Angelina (5) dan bayi laki-laki berusia dua hari. Kini mereka harus berjuang sendiri mengarungi luasnya samudra kehidupan ini tanpa nakhoda.  Nyawa suami dan ayah mereka, Evert Mokodompis, telah dirampas paksa oleh  kelompok teroris yang meledakkan Hotel JW Marriott, Jumat pagi pekan lalu.

Tiga manusia lemah itu telah kehilangan sandaran hidup. Betapa sakitnya hati Ratna, yang seharusnya berbahagia karena melahirkan seorang bayi lagi dari buah cintanya bersama Evert. Masa depan dua anak yatim itu kini menjadi suram. Jenazah almarhum sudah dimakamkan di pekuburan Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Senin (20/7/2009). Jiwanya pun sudah bebas, kendati dirampas paksa oleh aksi keji para teroris.  Namun mereka juga berhasil merampas masa depan Angel dan adiknya yang masih sangat panjang.

Hal sama terjadi pada delapan korban tewas lainnya dalam peristiwa itu. Demikian pula 53 korban luka- luka, yang mungkin di antaranya harus mengalami cacat seumur hidupnya. Mereka yang tadinya menjadi tulang punggung keluarga, sebagai sandaran hidup, kini justru kehilangan kemandirian, berubah menjadi beban bagi orang lain.

Para teroris itu mungkin gembira melihat dampak luar biasa dari aksinya yang sukses menggetarkan dunia. Mereka puas menghitung jumlah korban. Mereka  bersukacita di atas penderitaan para korban, termasuk mereka yang hidupnya berubah menderita dalam jangka waktu lama setelah pengeboman itu.

Apakah kisah seperti ini mampu menyentuh hati para penebar teror untuk menghentikan aksi-aksi keji mereka? Tampaknya tidak. Mereka tak lagi memiliki hati. Apalagi masih ada pihak-pihak yang dengan rela hati melindungi para teroris. Apakah mereka sadar bahwa sikap tersebut sama kejamnya dengan perbuatan para teroris itu?

Kini, kita hanya bisa berharap, semoga pemerintah menaruh perhatian kepada para korban dan keluarganya. Anak-anak yang kehilangan orangtua, sepatutnya mendapat garansi dari pemerintah. Setidaknya negara menjamin pendidikan anak-anak itu hingga mereka dewasa. Bukan justru sibuk bertengkar, melempar isu-isu liar yang justru semakin menciptakan situasi horor di tengah masyarakat.

Berilah mereka perlindungan, harapan, dan penghiburan agar secepatnya kembali hidup normal. Jangan justru menebar teror baru dengan statemen bahwa para teroris bisa menyerang siapapun, kapan pun, dan di manapun.

Kita  sebagai rakyat kebanyakan pun pasti ketakutan bila pemerintahnya sendiri terkesan menyerah dengan melontarkan pernyataan seperti itu. Negeri kita punya segala macam perangkat dan aparat keamanan hingga intelijen. Alangkah baiknya semua itu dikerahkan untuk memberikan jaminan keamanan bagi segenap rakyat. Sebab, selain Tuhan di atas sana, jaminan keamanan itu hanya bisa kita (rakyat) dapatkan dari kontrak politik besar bernama Republik  Indonesia ini.(*)

Iklan

3 thoughts on “Wahai Teroris, Masihkah Anda Punya Hati?”

  1. aku doakan semoga sang teroris selalu sehat, makan enak, tidur nyenyak. tapi menjelang mati dia gak bisa mati karena gak bisa buang air besar. amiiiiiinnn

    Suka

  2. Terorist kejam dan tidak beradab…..
    Terorist harus dibinasakan.
    Sayang pemimpin bangsa ini hanya kalut memikirkan keamanan jabatannya dengan mengumbar marah dan membuka-buka foto dokumen intelijen(rahasia).
    Berpikir dan berucap dalam amarah mengaburkan tafsiran fakta. Dan akhirnya bom di Mega Kuningan dikaitkan dengan rencana menggagalkan kepastian raih kursi jawara.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s