Menhut Pertahankan “Ide Gila”

Alasan Kaban, komodo berebut makanan dengan orang NTT. Komodo makan kerbau, manusia juga makan kerbau.

TEKAD Menteri Kehutanan MS Ka’ban sudah bulat. Dia ngotot memindahkan 10 ekor komodo (5 pasang) dari Wae Wuul, Manggarai Barat, Pulau Flores, NTT, ke Provinsi Bali.

Pak menteri memerintahkan tim kajian lintas instansi di Departemen Kehutanan, Pemda Nusa Tenggara Timur (NTT), dan ahli satwa untuk terus menggodok “ide gila” itu.

“Tim bekerja sampai tuntas. Sampai ada sebuah kesimpulan mana pilihan yang terbaik. Saya berharap tidak usah lama-lamalah,” ujar Kaban di gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (14/8/2009).

Menurut Kaban, pembentukan tim dilakukan agar tidak ada lagi salah pengertian antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat Indonesia. “Ini kan ada gap informasi. Yang mau kita selamatkan itu yang di Pulau Flores, karena tersisa 17 ekor. Ini kalau tidak kita antisipasi, akan punah,” kilah dia.

Kata pak menteri, makhluk purba bernama latin Varanus komodoensis itu tidak bisa bertahan hidup di habitat aslinya lantaran kalah ‘adu cepat’ dengan manusia. “Sebenarnya ini ada perlombaan dengan manusia. Komodo makan kerbau, manusia juga makan kerbau. Manusia makan rusa, komodo juga makan rusa. Ya kalah lah komodonya dengan manusia,”ujarnya.

Masih menurut pak menteri, perawatan seekor komodo saat ini terbilang mahal. Sehingga pemerintah mencari sponsor untuk mempertahankan habitat komodo yang kini masuk finalis tujuh keajaiban dunia.  “Kita mencari sponsor siapa yang sanggup, yang mampu. Apakah pemda nanti akan bersama- sama dengan pemerintah pusat. Ini nanti tim yang merumuskan,” jelasnya.

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memasukan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Akibat kalah bersaing dengan manusia, komodo dikenal sebagai hewan kanibal. Bila rantai makanannya terputus, mereka saling memakan.

Komodo  tersebar hidup di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan Pulau Gilimontang di NTT.  Atas fonemana tersebut, Kaban sempat mengeluarkan Surat Keputusan No  SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang pemberian izin menangkap 10 ekor komodo. Penangkapan ditujukan untuk pemurnian genetik, dan juga menyelamatkan komodo yang berada di Pulau Flores dari ancaman kepunahan.

“Jadi perhatian itu kepedulian terhadap kebanggaan nasional kita. Komodo ini kan sebagai salah satu keajaiban dan ini kita pertahankan. Yang jelas, semua sepakat. Baik Bupati, Gubernur sepakat komodo itu harus dikonservasi, dan dilindungi,” ujar Kaban.

Dia menambahkan, pihaknya sendiri tidak mempermasalahkan dimana lokasi konservasi komodo dilakukan. “Bisa saja tidak di Bali, itu nggak tertutup kemungkinan. Itu hanya masalah pilihan saja. Apakah in-situ atau ex-situ (kebun binatang). Kalau in-situ bagaimana mengelola kawasan yang sangat tidak kondusif lagi karena sering kebakaran,” jelasnya.

Disebutkan, keberadaan populasi Komodo di ex-situ (luar habitat alami) tercatat sekitar 70 ekor dan tidak diketahui silsilahnya (asal usulnya). Selain Taman Safari, sejumlah lembaga konservasi eksitu (luar habitat alami) telah mengoleksi komodo, di antaranya Kebun Binatang Ragunan (Jakarta), Kebun Binatang Surabaya, dan Kebun Binatang Gembira Loka (Yogyakarta). (sumber: persda network/ade)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s