Diam-diam Malaysia Incar Kolintang

Kolintang, alat musik tradisional asli Sulawesi Utara (flickr)
Kolintang, alat musik tradisional asli Sulawesi Utara (flickr)

HARI-HARI terakhir ini kita dibikin naik pitam oleh kelakuan negeri tetangga, Malaysia, gara-gara mereka seenaknya menggunakan tari pendet karya almarhum Wayan Rindi, maestro tari asal Bali. Wajar saja kita kesalpada kebiasaan buruk negeri tetangga yang suka asal klaim itu.

Beberapa waktu lalu negeri serumpun itu mengklaim alat musik angklung, tarian reog ponorogo, batik, hombo batu, tari folaya, lagu Rasa Sayange, rendang Padang, dan sejumlah budaya lainnya. Tanpa izin dari yang punya dan seolah tidak tahu malu, mereka menggunakan produk budaya karya seniman Indonesia  dalam iklan pariwisata mereka.

Ternyata, diam-diam mereka juga tertarik “menggarap” musik kolintang asal Sulawesi Utara. Ini berdasar penuturan pemilik Sanggar Kolintang ‘Maesa’, Carolus G Tulung (48), kepada Tribun Manado, di kediamannya di Jl Sato Yoseph, Kleak, Manado, Selasa (25/8/2009).

Tulung menuturkan, seorang warga negara Malaysia pernah menawari  dirinya bersama sanggarnya untuk menggelar pertunjukan alat musik tradisional dari bambu itu di Malaysia.  Tawaran itu disampaikan ketika Tulung memimpin petunjukan kolintang di The Ritzy Hotel dan panggung hiburan Baystreet Bahu, tahun 2006 silam.

Pria Malaysia itu datang bersama grup musiknya dan kebetulan menginap di Ritzy Hotel. “Dia sempat memberikan kartu nama pada saya, dia mengaku manajer lembaga musik budaya di Malaysia,”tutur Tulung

Pria itu bahkan bersedia menanggung semua biaya transportasi dan semua kebutuhan Tulung cs selama berada di Malaysia. Namun Tulung menolak tawaran kerjasama itu, kendati ketika itu dirinya tidak terpikir mengenai sikap Malaysia yang sering mengklaim produk budaya Indonesia.

“Dia tawarkan kerjasama untuk kolaborasi dengan grup musiknya di Malaysia. Saya tidak meresponnya karena memang enggan. Selain itu, saya juga tidak kenal jenis musik di sana seperti apa dan budayanya bagaimana,” imbuh Tulung.

Mencuatnya kasus klaim Malaysia atas tari pendet asal Bali dan berbagai produk budaya Indonesia, membuat Tulung semakin sadar bahwa alat musik  tradisional asli Sulut itu juga harus segera dipatenkan agar tidak ditiru atau bahkan direbut oleh bangsa lain.

“Bagaimana pun, itu musik tradisional khas Sulut. Bahkan aset seni budaya Sulut. Tidak boleh dirampas atau dibiarkan negara lain mengakui miliknya,” ujar Tulung.

Dia berharap pemerintah memberi perhatian dan melakukan tindakan penyelamatan atau mematenkan alat musik kolintang maupun produk budaya Sulut lainnya, seperti lagu-lagu dan tari-tarian, agar tidak gigit jari setelah dicaplok bangsa lain. “Saya harap pemerintah jaga, perhatikan, dan pelihara aset budaya Sulut. Kalau tidak kita bisa kebobolan, dan dijadikan keuntungan oleh negara lain,”ujarnya.

Dia menambahkan, selain promosi pariwisata yang kurang, bila kita lengah, ditambah pencaplokan budaya secara terus-terusan oleh Malaysia, akan membuat wisatawan mancanegara justru menganggap produk budaya Indonesia sebagai milik Malaysia. Sebab, Malaysia sangat royal dalam mempromosikan pariwisata mereka. Mereka tidak hanya beriklan di stasiun televisi lokal, tapi juga stasiun televisi internasional seperti CNN.(*)

Iklan

5 thoughts on “Diam-diam Malaysia Incar Kolintang”

  1. bagus tuh , begini logika saya , ketika tidak diklaim, coba anda ingat2 apa yang dilakukan pejabat kita terhadap budaya kita ? saya rasa penghargaan berupa paten pun mungkin tidak terpikirkan atau dipikirkan. anggap aja mereka membantu kita untuk mengingatkan pejabat kita supaya bekerja lebih baik dan rajin serta penuh perhatian terhadap budaya kita sendiri

    Suka

  2. Salut buat pak Tulung. Kita harus hati-hati dengan orang Malaysia. Malaysia sudah ingin mencaplok semuanya. Kalau dulu mereka datang berguru. Sekarang mereka datang menggugurkan tempat dia berguru. Para ahli diambilnya. Tanah di rampas, laut dijarah, hutan dirambah dan sekarang menyokot budaya dari akarnya.

    Malaysia juga menyiksa buruh migran, kemasan wajah bangsanya lengkap sudah terbaca melalui perlakuan anak raja terhadap seorang Manohara. Ini sebuah fakta dalam kehidupan orang yang paling beradab di bangsanya Malaysia. Tidak tahu malu, itu cap paling pas buat bangsa penjarah hasil kreasi budaya kita. Terus terang saya jadi sangat tidak sympati pada orang Malaysia.

    Yang jelas kita tidak cukup dengan berteriak setelah maling lewat dan barang terampas. Kita harus merapatkan barisan melakukan proteksi diri sebagai bangsa yang berdaulat. Pasti paling utama ini tugas pejabat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s