Tujuh Tahun Mereka Terabaikan

Anak-anak transmigran Serei melintasi jalan aspal yang sudah tak ada aspalnya lagi.
Anak-anak transmigran Serei melintasi jalan aspal yang sudah tak ada aspalnya lagi.

HANYA tiga jam perjalanan dari Kota Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara, namun warga transmigran Serei, Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, hidup layaknya masyarakat terpencil. Sudah tujuh tahun mereka berharap janji yang entah kapan akan dipenuhi.

Sejak tujuh tahun lalu sampai hari ini, belum ada pasokan listrik ke sana. Sehingga ketika malam tiba, anak- anak sekolah tidak bisa belajar secara nyaman. Mereka terpaksa harus langsung belajar sepulang sekolah, ketika tubuh mereka masih letih. Apa boleh buat, hanya matahari sebagai lampu penerang.

Tujuh tahun silam, Dinas Transmigrasi Provinsi Sulut berjanji akan memberikan aneka fasilitas bagi 252 keluarga penghuni lokasi transmigrasi itu. Beberapa warga terpaksa meninggalkan permukiman itu. Kini, tersisa 100 unit rumah dan 80 kepala keluarga. Mereka pergi dari situ lantaran penghasilan tak sebanding pengeluaran. Banyak yang kini menjadi buruh angkut di Pelabuhan Bitung.

Rumah-rumah yang tersisa pun sungguh memprihatinkan. Banyak seng sudah berkarat, dinding kayu sudah lapuk. Warga ingin memperbaiki huniannya, namun khawatir lantaran status kepemilikannya tidak jelas. Janji Dinas Transmigrasi Sulut memberikan sertifikat hak milik atas tanah, hingga kini masih tinggal janji.

Pemerintah Kecamatan Likupang Barat merasa tak memiliki kewenangan apa-apa untuk memperbaiki kesejahteraan warganya. Semua kewenangan ada pada Dinas Transmigrasi yang mengurusi Unit Permukiman Transmigran (UPT) tersebut. Lantas sampai kapan warga transmigran harus bertahan hidup di lokasi itu?

Semakin membuat kita miris dan juga curiga, aspal jalan menuju permukiman yang kini rusak parah, baru dikerjakan tahun 2005 silam. Papan proyek yang ada, masa kerja proyek itu 90 hari kerja. Tapi menurut pengakuan warga, hanya dikerjakan dalam sehari. Jalan itu cepat rusak, padahal tidak pernah dilalui kendaraan berat.

Akibat rusaknya jalan tersebut, biaya transportasi warga menjadi lebih mahal. Tak ada angkutan umum ke sana. Yang ada hanya ojek motor. Warga pun harus membayar ojek Rp 15 ribu ketika hendak ke Pasar Likupang. Buruknya kondisi jalan menjadi alasan bagi tukang ojek untuk mematok tarif tinggi.

Hal lain, masyarakat transmigran Serei dipersiapkan sebagai nelayan, Faktanya hampir tidak ada nelayan di sana. Padahal, baru pada tahun 2006 mereka diberikan bantuan dua unit perahu lengkap dengan mesin 40 PK. Ternyata mesinnya bekas dan cepat rusak. Peralatan menangkap ikan yang diberikan pun tidak lengkap. Bantuan perahu (bekas) dan pukat pun tidak diberikan bersamaan. Pukat baru diberikan ketika perahunya sudah rusak.

Fasilitas kesehatan pun sama saja. Warga harus menempuh perjalanan 3 kilometer ke Puskesmas di Desa Mubune. Ada fasilitas Puskesmas Pembantu, namun tidak berfungsi sampai hari ini. Tidak ada petugas medisnya. Bila begini kondisinya, mengapa kita mengembangkan transmigrasi di Serei?(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s