Kenapa Terus Memperbudak TKI?

SEORANG tenaga kerja wanita asal Minahasa Utara, Upriyanti Kasim (33), meninggal sepulang dari Singapura. Ibu tiga anak ini meninggal setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Minggu (5/6)

Suami korban, Herman Nangin (36), sangat yakin istrinya meninggal akibat siksaan majikannya di Singapura. Ini berdasar pengakuan korban kepada suaminya melalui telepon. Keluarga bahkan tidak tahu korban sudah berada di Indonesia. Informasi itu diperoleh dari orang tak dikenal melalui sms, bukan melalui institusi resmi maupun perusahaan yang mengirimkannya bekerja ke Singapura.

Melalui telepon, Upriyanti mengungkapkan bahwa dirinya disiksa dan dipukuli oleh seluruh anggota keluarga majikannya. Hidungnya mengalami pendarahan lantaran dicocok menggunakan jari. Penderitaan korban semakin menjadi-jadi karena dia juga tidak diberi makan.

Perlakuan yang sungguh tidak manusiawi terhadap pahlawan devisa kita itu.  Lantaran tidak tahan, Upriyanti minta agar segera dipulangkan. Dia rela tidak digaji asalkan bisa kembali ke Indonesia. Sang suami melaporkan ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Minahasa Utara agar mengurus istrinya kembali ke Indonesia, tapi dia justru disuruh menandatangani pernyataan bahwa istrinya tetap ingin melanjutkan kontrak.

Sikap perusahaan yang mengirimkan Upriyanti ke Singapura pun sama saja.  Bahkan mereka menyuruh korban menelepon keluarganya, mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja di Singapura. Bahkan ada telepon (entah dari siapa) yang mengaku dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), lagi-lagi menyatakan Upriyanti baik-baik saja.

Faktanya terbalik 180 derajat. Upriyanti justru meninggal dunia dan hanya mayatnya yang dikirim pulang.  Apa artinya perusahaan menanggung biaya pemulangan korban kalau hanya jenazahnya yang sampai ke tangan keluarga?  Sungguh keji perlakuan terhadap Upriyanti. Di mana rasa kemanusiaan kita? Mengapa kita memperlakukan manusia lebih buruk dari binatang? Bagaimana nasib suami dan ketiga anaknya?

Negara juga terbukti sangat kejam terhadap rakyatnya, terutama para TKI. Lihat, sampai hari ini, kasus demi kasus kekerasan, penyiksaan, bahkan pembunuhan terhadap pahlawan devisa kita tetap saja terjadi. Padahal ada begitu banyak lembaga/instansi yang menangani masalah tersebut. Ada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), Departemen Luar Negeri, Imigrasi, Departemen Dalam Negeri, dan Pemerintah Daerah. Percuma saja negara membuang-buang uang rakyat untuk mengongkosi berlapis-lapis lembaga tersebut di atas.

Sejak tahun 2007, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda berjanji untuk memberikan perlindungan berlapis bagi TKI di negara-negara ASEAN, sama sekali tak terbukti. Bahkan kita melihat, ada begitu banyak perusahaan pengerah tenaga kerja ke luar negeri yang lebih mementingkan keuntungan dibanding membela hak-hak para TKI/TKW.  Para TKI disamakan dengan komoditas yang bisa diperdagangkan. Dunia sudah semodern ini, tapi praktik-praktik perbudakan masih saja terjadi. Di mana hati nurani kita?(*)

Iklan

One thought on “Kenapa Terus Memperbudak TKI?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s