Paha Sari Terhimpit Jenazah Temannya

* 42 Jam Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan

Sari Selamat setelah tertimbuh selama 42 jam di bawah reruntuhan gedung akibat gempa bumi 7,6 skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat, Rabu (30/9/2009)
Sari Selamat setelah tertimbuh selama 42 jam di bawah reruntuhan gedung akibat gempa bumi 7,6 skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat, Rabu (30/9/2009)

PAHA Ratna Kurnia Sari (18) terhimpit antara tiang beton dan jenazah seorang temannya. “Saya tidak merasakan sakit. Yang ada hanya cemas dan rasa takut mati. Saat itu pula saya langsung bertekad tidak boleh mati. Saya harus hidup,”tutur Sari saat ditemui di Ruang Perawatan 1B Rumah Sakit Tentara Reksodiwiryo, Jalan Proklamasi, Jumat (2/10).

Sari sadar ajal sudah di depan mata. Tapi sejak awal di bertekad untuk tetap hidup demi menyenangkan kedua orangtuanya. Selama 42 jam gadis ini berjuang keras agar tetap sadar.  “Saya tidak pernah tidur. Saya takut kalau saya tertidur saya akan mati. Saya sudah merasa ada yang akan membawa saya. Makanya saya berusaha untuk terus terjaga,” tutur Sari.

Dia adalah satu di antara korban selamat dari reruntuhan bangunan Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga di Jalan Veteran, Padang, Sumatera Barat, akibat gempa 7,6 skala Richter yang mengguncang Sumbar, Rabu (30/9/2009).

Selain Sari, dosennya bernama Suci Revika Wulan Sari (25), juga selamat. Sari pertama kali dievakuasi dari balik reruntuhan sekitar pukul 11.30 WIB.  Mahasiswa semester tiga jurusan Sastra Inggris, ini  terjebak bersama Suci dan empat rekannya. Namun hanya mereka berdua yang selamat. Empat lainnya meninggal.

Sari terjebak di bawah tangga menuju ke lantai tiga Kampus STBA Prayoga. Ketika gempa mengguncang, mereka tengah mengikuti kuliah Listening 3 yang disampaikan Suci, di ruang kelas lantai III. Sebanyak 25 mahasiswa dan dosen berhamburan menuju tangga turun. Sari bersama empat rekan dan Suci adalah kelompok terakhir yang turun.

Setibanya di lantai dua, tiba-tiba tangga beton yang baru mereka lewati ambruk menimpa mereka. “Waktu itu semuanya panik. Saya juga panik dan ingin cepat turun. Tapi karena semua berebut ingin duluan, kami akhirnya jadi kelompok yang terakhir turun,” tutur Sari.

Reruntuhan tangga beton itu mengakibatkan mereka luka berat. Listrik  tiba-tiba padam. Ruangan gelap gulita. “Saya tidak tahu apa teman-teman saya masih hidup atau tidak, karena gelap. Hanya saya bisa mendengar suara Ibu Suci merintih kesakitan, dia ada di dekat saya,” ujarnya.

Terhimpit jenazah
Beton-beton itu menghimpit keras, karena menjadi tumpuan lantai empat gedung itu.  Sari merasakan kakinya terhimpit

Personel TNI mengevakuasi jenazah dari reruntuhan bangunan yang ambruk akibat gempa bumi 7,6 skala Richter di Padang, Sumatera Barat.
Personel TNI mengevakuasi jenazah dari reruntuhan bangunan yang ambruk akibat gempa bumi 7,6 skala Richter di Padang, Sumatera Barat.

benda berat di bagian lutut ke bawah. Ia tak bisa menggerakkan kakinya. Dia merasakan tubuh seorang temannya terbaring di pahanya, namun tidak bergerak. “Saya tidak merasakan sakit. Yang ada hanya cemas dan rasa takut mati. Saat itu pula saya langsung bertekad tidak boleh mati. Saya harus hidup,” tuturnya.

Selama 42 jam di bawah reruntuhan, dia senantiasa menguatkan diri untuk tetap hidup meski tanpa makan dan minum. “Rabu tengah malam itu saya mulai yakin kalau teman-teman saya yang lain meninggal, karena mereka tidak lagi ada yang bersuara. Tidak ada yang bergerak, termasuk sosok yang terbaring di atas paha saya, tidak bergerak lagi dan terasa dingin. Hanya Ibu Suci yang kadang-kadang masih saya dengar ada gerakannya sedikit-sedikit. Berarti Ibu Suci masih hidup,” tutur Sari.

Harapan hidup Sari makin besar ketika mendengar suara ketukan pada reruntuhan bangunan.  Dia sadar ketukan itu berasal dari tim penyelamat. Dia pun berusaha keras tetap menjaga matanya agar tidak tertidur. “Sebenarnya saat itu saya ingin sekali tidur. Rasanya akan sangat nyaman kalau tertidur. Tapi saya tahu saya akan mati kalau sampai tertidur. Makanya saya juga selalu mengingatkan Ibu Suci agar tidak tertidur. Saya selalu bilang ‘Bu, jangan tidur’ atau dia saya panggil-panggil terus dalam jangka waktu tertentu supaya jangan sampai tertidur. Saya ingin selamat dan saya juga tidak ingin Ibu Suci yang saya tahu masih hidup akhirnya mati seperti teman-teman saya,” tuturnya.

Jumat (2/10/2009) pagi, sebuah lubang menganga di bagian atasnya. Lubang itu dibuat oleh tim penyelamat. Seorang regu penyelamat, anggota TNI, terus berkomunikasi dengannya. “Waktu saya melihat cahaya masuk, saya langsung teriak minta tolong walau sudah tidak kuat lagi. Tapi ternyata suara saya terdengar, karena saya kemudian mendengar ada orang yang berteriak ‘ada yang masih hidup’ di atas lubang,” kenangnya.

Langsung minta roti

Gedung ambruk akibat guncangan gempa 7,6 skala Richter di Padang, Sumatera Barat, Rabu (30/9/2009).
Gedung ambruk akibat guncangan gempa 7,6 skala Richter di Padang, Sumatera Barat, Rabu (30/9/2009).

Ketika lubang diperbesar, akhirnya tim penyelamat bisa berkomunikasi dengannya.  Seorang petugas penyelamat langsung menanyakan namanya. Setelah menyebut nama, Sari langsung minta air minum dan roti. “Saya lapar dan haus sekali. Makanya begitu ada yang menemukan saya, langsung saja minta air sama roti,” ujar Sari dengan wajah ceria, kendati masih terbaring di ranjang rumah sakit.

Setelah mengetahui indentitasnya, tim evakuasi langsung mengumumkan kepada warga yang berkerumun, dan meminta keluarganya datang ke lubang untuk berkomunikasi dengan Sari. Saat itu, ayah Sari langsung maju dan mendekati lubang. Saat itu, Sari kembali mengajukan permintaan roti dan air minum.

“Saat rasanya saya benar-benar dapat mujizat karena ternyata Sari masih hidup di balik reruntuhan itu. Saya langsung minta keluarga yang lain mencarikan roti dan air minum. Karena Sari minta saya untuk tidak jauh-jauh darinya,” ujar ayah Sari, Sofyan Virgo (62) yang ditemui saat menemani anaknya di RST Reksowidiryo Padang, Jumat sore.

Dokter yang merawat Sari menyarankan untuk mengamputasi kaki kanannya yang cedera berat akibat terhimpit beton dalam waktu cukup lama. Betis kanannya menciut dan belum bisa digerakkan. Kata dokter, darah di kaki Sari sudah membeku karena terlalu lama terhimpit, sehingga jika tidak diamputasi bisa mengakibatkan kondisi yang lebih buruk. Kaki kirinya pun terancam diamputasi. Namun dokter juga mengatakan, opsi amputasi bisa dihindari jika keluarganya bisa mendapatkan obat pengencer darah, sehingga darah beku yang ada di kakinya bisa mencair dan darah kembali mengalir normal.(persda network)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s