Jangan Pelit soal IMB

Pemandangan Kota Manado
Pemandangan Kota Manado

MASYARAKAT Sulawesi Utara harus selalu waspada karena termasuk daerah rawan gempa bumi vulkanik, tektonik, dan tsunami. Kapan gempa datang? Tidak ada yang bisa memprediksi. Manusia belum mampu menciptakan alat untuk meramal gempa. Namun manusia sudah mengetahui daerah-daerah rawan gempa dan tsunami.

Misalnya penelitian pergerakan lempeng dengan sistem global positioning system (GPS), oleh peneliti Indonesia dan Eropa dalam proyek Geodyssea (1991),  menjelaskan bahwa Pulau Sulawesi berada di atas pertemuan tiga lempeng, yaitu Australia, Filipina, dan Sunda.

Khusus Sulut dikelilingi lima lempeng rawan gempa, yakni Pasifik, Laut Maluku, Halmahera, Sangihe dan Lempeng Eurasia. Juga empat patahan, yakni patahan Amurang, Bolaang Mongondow, Manado, dan Gorontalo. Sewaktu-waktu lempeng dan patahan itu bisa melepas energinya dan terjadilah gempa.

Terutama bagian utara Pulau Sulawesi yang tersusun dari banyak blok atau lempeng mikro yang saling mendesak dan cenderung membentuk rotasi pada beberapa bloknya. Didesak lempeng makro di sekitarnya, blok-blok yang dinamis ini kerap mengalami gempa besar dan berpotensi terjadi tsunami (Kompas, 19/11/2008).

Kita tidak bisa mengelak dari fenomena alam. Namun kita bisa menghindari dampak bencana bila setiap orang di Sulut, pemerintahan maupun masyarakat, sadar bahwa kita hidup di daerah rawan bencana. Pemerintah melalui instansi terkait pun harus senantiasa siaga melalui early warning system atau sistem peringatan dini berjalan dengan baik.

Tak hanya peringatan dini. Kita juga harus menjalankan sistem mitigasi secara baik. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Terutama di daerah perkotaan padat penduduk seperti Manado. Tingkat kerentanan (vulnerability) masyarakat perkotaan akan semakin tinggi sehingga bisa jatuh banyak korban jiwa bila kita tidak senantiasa siap.

Dalam konteks itu, kita (Sulut) bisa belajar dari gempa 7,6 skala Richter di Sumatera Barat (Sumbar). Banyak korban tewas dan luka-luka akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Itu menggambarkan bahwa bangunan-bangunan yang ada di kota-kota di Sumbar sangat rentan.

Demikian pula di Sulut. Banyak bangunan yang dibangun tanpa izin mendirikan bangunan (IMB). Siapa menjamin bangunan tanpa IMB itu memenuhi syarat teknis dan tahan gempa? Ini sangat penting, karena dengan mematuhi IMB berarti kita telah mengurangi kerentanan ambruknya bangunan ketika terjadi gempa.

Namun demikian, terkadang publik enggan mengurus IMB karena terbentur mahalnya biaya yang harus dikeluarkan.

Rumah kayu bernuansa etnik Minahasa. Rumah kayu seperti ini lebih tahan gempa dan relatif lebih aman bagi penghuninya bila terjadi gempa bumi.
Rumah kayu bernuansa etnik Minahasa. Rumah kayu seperti ini lebih tahan gempa dan relatif lebih aman bagi penghuninya bila terjadi gempa bumi.

Menurut kami, ada baiknya pemerintah daerah mulai dari provinsi hingga kabupaten/kota memberikan keringanan pengurusan IMB. Selain mempermudah urusan, dari segi biaya pun diringankan.

Bahkan sebaiknya biaya IMB ditiadakan saja sehingga masyarakat tidak keberatan mengurus IMB. Sebab, bila dibandingkan, pendapatan daerah dari IMB tidak akan sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan bila gedung-gedung dan rumah-rumah mudah ambruk lantaran dibangun tanpa IMB. Jangan lantaran “pelit” soal IMB, kita justru mengorbankan jiwa manusia.

Persoalan IMB ini sebenarnya merupakan bagian dari sistem mitigasi bencana sebagaimana diatur dalam UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dan dalam UU tersebut  disebutkan bahwa kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.

Selain IMB, kita melihat jaringan infrastruktur seperti kabel telepon dan kabel listrik silang-menyilang di atas kepala kita. Bila ada faktor berbahaya (hazard) seperti gempa bumi kuat, bukan tak mungkin tiang-tiang listrik atau telepon ambruk lantas kabel-kabelnya menimpa manusia di sekitarnya. Ini juga bisa menyebabkan hubungan arus pendek dan memicu kebakaran yang bakal menimbulkan korban lebih besar lagi.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s