Masyarakat Sadar Bencana

Gedung ambruk akibat gempa Sumbar (30/9/2009)
Gedung ambruk akibat gempa Sumbar (30/9/2009)

GEMPA bumi di Padang, Sumatera Barat, merenggut ratusan jiwa manusia,  kerugian materil, bahkan psikologis terhadap korban yang selamat. Peristiwa ini terjadi tak lama berselang setelah gempa mengguncang Tasikmalaya, Jawa Barat, dan merenggut banyak jiwa manusia.

Indonesia merupakan wilayah rawan bencana, termasuk Sulawesi Utara. Gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, tanggul ambrol, dan sebagainya. Dan setiap kali terjadi bencana, hampir dipastikan merenggut korban jiwa dalam jumlah besar. Pertanyaannya, apakah itu kesalahan alam? Lantas, bisakah kita menyalahkan alam? Atau bahkan menggugat Tuhan?  Tentu saja tidak. Alam tak mungkin  salah, apalagi Tuhan.

Kita manusia diberi akal dan kemampuan berpikir untuk bisa meminimalisir dampak bencana alam. Kita bisa belajar dari alam agar mampu menyesuaikan diri supaya ketika terjadi bencana alam, gempa misalnya, tidak banyak korban jiwa yang ditimbulkan. Demikian pula kerugian materil.

Kita perlu menyadari betul bahwa bencana berikut terjadi karena bencana sebelumnya terlupakan. Bila kita tidak menyadari hal ini, maka pada bencana berikutnya, korban jiwa takkan terelakkan. Sebaliknya, bila kita sadar, maka kita bisa meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah menyadari hal itu. Terbukti dengan lahirnya Undang-Undang  No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pada Pasal 1 ayat 1 UU tersebut mendefinisikan, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Pada ayat 5 UU itu pula disebutkan mengenai penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Ayat (6) menyebutkan, kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.

Kemudian ayat 7 dan 8  menjelaskan, kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi

Petugas SAR dan TNI mencari korban dari balik reruntuhan
Petugas SAR dan TNI mencari korban dari balik reruntuhan

bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Dan peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. Sedangkan mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

UU tersebut terlihat sangat hebat, karena sudah memikirkan semuanya. Bahwa kita sudah menyadari bahwa Indonesia merupakan wilayah rawan bencana.Namun kita lemah dalam implementasi. UU tersebut merupakan produk politik yang dihasilkan oleh para politisi kita (DPR). Namun dalam praktiknya, kita seperti mengabaikan semua itu. Kita belum membangun budaya sadar risiko bencana (Jonatan Lassa, Kompas 2 Oktober 2009).

Berbagai infrastruktur hingga permukiman yang kita kembangkan masih belum sepenuhnya dibangun atas kesadaran tersebut. Kita perlu belajar dari bangsa Jepang yang kerap dilanda gempa bumi namun tidak banyak merenggut korban jiwa, sebagaimana terjadi di Indonesia. Mereka senantiasa melakukan riset mengenai bencana dan terus meningkatkan pengetahuan tentang berbagai mitigasi bencana yang dalam implementasinya berhasil menekan jumlah korban dan kerugian akibat gempa bumi. Masyarakat di Jepang begitu sadar akan bahwa bencana dan senantiasa “sedia payung sebelum hujan.”(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s