Tantangan KEK di Provinsi Sulut

Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Bitung, Sulut.
Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara (Tribun Manado/Danny Permana) .

PROVINSI Sulawesi Utara ingin memiliki kawasan ekonomi khusus (KEK) guna mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah ini. KEK adalah kawasan khusus untuk industri dengan tawaran insentif khusus dari pemerintah kepada investor yang menanamkan modalnya dalam kawasan tersebut.

Insentif dimaksud adalah keringanan Pajak Penghasilan (PPh),  penangguhan bea masuk impor bahan baku produksi, dan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM). Fasilitas lainnya adalah pengurangan pajak, seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), termasuk fasilitas pertanahannya. Investor yang menanamkan modal dalam KEK juga diberi kemudahan memperoleh hak atas tanah, demikian pula badan usaha yang telah memperoleh tanah di lokasi KEK.

Aneka insentif tersebut guna meningkatkan daya tarik daerah sebagai tujuan investasi sekaligus merangsang investor asing maupun nasional untuk datang. Dengan masuknya banyak investor, tentu bakal meningkatkan daya serap tenaga kerja serta menghidupkan berbagai sektor jasa sebagai supporting bagi industri dalam KEK. Sektor-sektor seperti perhotelan, perdagangan, dan jasa lainnya akan bertumbuh. Akan banyak pula usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ikut bertumbuh.

KEK diharapkan menjadi lokomotif perekonomian nasional. Lantaran itu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pusat mensahkan Rancangan Undang- Undang KEK menjadi UU pada Selasa 15 September 2009 lalu. UU KEK merupakan amanat dari UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Sulut termasuk dalam 22 daerah di Indonesia yang mengajukan diri kepada pemerintah pusat untuk mengembangkan KEK di Bitung dan Minahasa Utara. Kendati Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan bahwa KEK di 22 daerah tersebut belum bisa diterapkan lantaran masih harus menunggu

dua Peraturan Presiden (Perpres) dan enam Peraturan Pemerintah (PP) sebagai dasar pelaksanaan.

Meski begitu, pemerintah daerah harus bergerak cepat mempersiapkan diri.  Pemerintah Provinsi Sulut bersama para anggota DPRD Sulut perlu sejak dini memikirkan barbagai strategi penerapan KEK sejak sekarang. Sebaiknya sudah mulai mempelajari berbagai mekanisme terkait penerapan KEK.

Juga mempelajari mengenai lembaga pengelola KEK, peran dan tanggungjawab lembaga tersebut bagi pengembangan

Kawasan industri di Bitung, Sulawesi Utara
Kawasan industri di Bitung, Sulawesi Utara (Tribun Manado/eddy mesakh)

daerah ekonomi khusus dimaksud. Juga mulai mengkaji peraturan-peraturan daerah yang dinilai bakal menghambat pelaksanaan KEK di Sulut, agar dipangkas. Pemerintah perlu melibatkan berbagai pihak, misalnya asosiasi pengusaha, akademisi dari perguruan tinggi, hingga mempelajari sistem yang telah diterapkan oleh daerah lain yang sudah duluan menerapkan KEK, yakni Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Demikian pula mengenai persiapan lahan untuk KEK yang kebutuhannya mencapai 500 hektare. Sebab, menurut pelaksana tugas (Plt) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulut, Ronny Lumempouw, hingga kini Sulut baru memiliki 24 hektare lahan hak guna usaha (HGU) di Bitung, yang dimiliki PT Bitung Intranusa.

Artinya pemerintah harus berupaya keras menyiapkan lahan tambahan seluas ratusan hektare lagi. Proses pembebasan lahan sudah harus dimulai sejak sekarang. Misalnya menyusun peraturan daerah (perda) pembebasan lahan, termasuk masterplan KEK itu sendiri.

Apalagi, sebagaimana penjelasan Kadin, Sulut pernah gagal dalam menerapkan sistem yang mirip KEK, yakni kawasan berikat  di Kauditan- Bitung-Kema (Kabima). Hambatan ketika itu adalah lahan yang dipersiapkan adalah milik masyarakat, yang mana harus melalui proses ganti rugi. Tentu saja investor tidak berani menanamkan modalnya bila lahan yang ditawarkan kepadanya ternyata masih bermasalah.

Semua itu merupakan tantangan bagi Pemerintah Provinsi Sulut dan DPRD Sulut. Jika memang kita serius hendak mengembangkan KEK di Sulut, maka kita harus segera mulai mempersiapkan diri. Sanggupkah kita menjawab tantangan itu?(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s