Mati Sia-sia di Jalan Raya

Lakalantas di jalur Ring Road Manado, Sulawesi Utara.
Lakalantas di jalur Ring Road Manado, Sulawesi Utara.

KECELAKAAN lalu lintas kembali merenggut nyawa  manusia.  Seorang ibu meninggal dunia akibat mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil lain di jalur Ring Road, Kota Manado, Senin 5 Oktober 2009. Kematian korban menambah daftar korban meninggal di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Kota Manado.

Catatan Satuan Lalu Lintas Kepolisian Kota Besar Manado, sepanjang Januari-September 2009, tercatat 47 orang meninggal dunia akibat lakalantas. Dan kita bisa memastikan bahwa angka kematian akan terus bertambah hingga akhir tahun ini.

Untuk skala Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), menurut data Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sulut, angka lakalantas terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebut saja dua tahun terakhir. Tahun 2007, kasus lakalantas mencapai 389 kasus dan merenggut 319 jiwa. Tahun 2008, meningkat menjadi 588 kasus dan merenggut 218 jiwa!

Terlihat di situ, tahun 2007, angka kematian akibat lakalantas mencapai 82 persen. Sedangkan tahun 2008  turun menjadi 37 persen. Kendati jumlah korban meninggal berkurang dibanding tahun sebelumnya, namun jumlah kasus lakalantas meningkat tajam dari tahun 2007 ke tahun 2008, yakni mencapai 66,15 persen!

Menurut data PT Jasa Raharja Cabang Sulut, sepanjang Januari-Juli 2009, sudah 516 korban lakalantas diberi santunan senilai lebih dari Rp 4,7 miliar.  Sebanyak 267 korban (51,74 persen) di antaranya adalah pengendara kendaraan bermotor dan 112 (21,70 persen) pembonceng, dan 104 korban (20,15 persen) adalah pejalan kaki.

Lakalantas di jalur Ring Road Manado, Sulawesi Utara.
Lakalantas di jalur Ring Road Manado, Sulawesi Utara.

Angka-angka tersebut jelas bukan sekadar statistik. Bukan angka-angka semata. Mengingat kematian satu orang saja, menimbulkan dampaknya yang sangat luas. Demikian pula lakalantas yang mengakibatkan korban menderita cacat permanen. Apalagi korban meninggal atau cacat berada di usia produktif. Catatan Ditlantas Polda Sulut, korban kecelakaan terbanyak adalah orang-orang pada usia produktif.

Lakalantas yang menimbulkan korban, meninggal maupun cacat,  menimbulkan dampak berantai ke berbagai sektor yang lain. Apalagi korban lakalantas merupakan sandaran hidup bagi orang lain, minimal keluarganya. Lakalantas juga menimbulkan kerugian materil.

Kami ingin mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa lakalantas adalah persoalan serius. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), merasa perlu ikut ambil bagian dalam upaya menekan angka

Lakalantas di jalur Ring Road Manado, Sulawesi Utara
Lakalantas di jalur Ring Road Manado, Sulawesi Utara

lakalantas. Lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu telah mengeluarkan laporan berjudul “World Report on Road Traffic Injury Prevention”, yang memprediksi lakalantas akan menjadi pembunuh nomor 3 di dunia pada 2020 mendatang. Khusus di Indonesia, lakalantas sudah menempati posisi tersebut sejak tahun 2005.

Indonesia memiliki Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. UU tersebut juga mengatur tentang tata tertib berlalu lintas dan syarat-syarat bagi pengendara. Namun pada prinsipnya bukan sekadar menegakan aturan perundang-undangan. Hal yang paling mendasar adalah ketertiban berlalu lintas demi keselamatan semua pengguna jalan raya.

Dari catatan kasus yang dimiliki Polda Sulut dan Jasa Raharja, faktor dominan penyebab lakalantas di Sulut adalah berkendara dengan kecepatan tinggi dan pengemudi yang mabuk akibat menenggak minuman keras (miras). Di samping itu, banyak pengendara kendaraan bermotor yang ugal-ugalan di jalan raya.  Akibat tindakannya itu, bisa merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Kemacetan yang mencapai sekitar satu kilometer akibat kecelakaan lalu lintas di jalur Ring Road, Manado, Sulawesi Utara.
Kemacetan yang mencapai sekitar satu kilometer akibat kecelakaan lalu lintas di jalur Ring Road, Manado, Sulawesi Utara.

Harus kita akui, kelakuan pengendara kita di jalan raya, merupakan potret peradaban bangsa dan daerah kita sendiri. Bahwa ternyata kita belum termasuk bagian dari orang-orang yang berbudaya tertib dan berbudaya malu.  Maka percuma saja negara mengatur kita melalui undang-undang, apabila kita sendiri tidak mengindahkannya.

Ketika petugas melakukan penegakan UU, kita melawan sekuat tenaga. Tapi ada juga oknum petugas yang “rela” menerima sogokan dari pelanggar lalu lintas, atau bahkan berusaha mendapatkannya dari pengendara kendaraan bermotor.

Maka dari itu, kami mengajak kita sekalian warga Sulut, untuk lebih berbudaya ketika berkendara di jalan raya. Jangan mau mati sia-sia di jalan raya. Kasihanilah diri kita dan orang-orang yang kita kasihi.(*)

Iklan

2 thoughts on “Mati Sia-sia di Jalan Raya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s