Memberangus Markus

DALAM Injil, Perjanjian Baru, sosok Markus sangat mulia. Dia adalah penulis Injil Markus yang berkisah tentang kerahasiaan Yesus Kristus sebagai Mesias. Dia adalah tokoh penting bagi umat Kristiani. Tapi ada Markus lain yang sangat dibenci sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menempatkan pemberantasan Markus di urutan pertama dari 15 program utama yang akan dibereskan dalam 100 hari pertama pemerintahannya.  Markus yang dimaksud SBY adalah akronim dari makelar kasus. Sosok tersebut terbukti sangat merusak sistem peradilan di Indonesia, bahkan menjadi sumber malapetaka yang menyebabkan negeri ini selalu tertinggal dan terus tersandera kemiskinan.

Pekerjaan mereka adalah menyuap, memeras, memperjualbelikan perkara, mengancam saksi, hingga menjadi pelaku pungutan liar. Markus memiliki hubungan khusus dengan para petinggi penegak hukum, mulai dari kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Memiliki pengaruh kuat terhadap para pejabat pemerintahan, mulai dari daerah sampai ke pusat. Mampu mengintervensi kebijakan di departemen-departemen, badan-badan, tak terkecuali di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Kasus dugaan kriminalisasi terhadap dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, sangat terasa adanya peran Markus, demi meloloskan Anggoro Widjojo, bos PT Masaro Radiokom, yang menjadi buronan KPK dalam kasus korupsi pengadaan alat komunikasi di Departemen Kehutanan.

Dalam kasus itu, mencuat nama Ong Yuliana Gunawan. Perempuan ini aktif dalam berbagai pembicaraan telepon dengan Anggodo Widjojo (adik Anggoro) maupun dengan sejumlah oknum petinggi penegak hukum.  Tapi Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Didiek Darmanto, membantah ada Markus di Kejaksaan Agung terkait kasus kriminalisasi dua pimpinan KPK tersebut.

Kita masih ingat ketika penasihat KPK, Abdullah Hehamahua, mengungkapkan bahwa antara 2005-2009 KPK telah menangkap 10 orang Markus. Mereka meminta imbalan pada orang yang tengah berkasus di KPK, dengan janji akan menutup atau menyudahi kasus mereka. Konteks pembicaraan Hehamahua, terkait kasus Anggoro. Ada dua nama yang disebut-sebut, yakni Eddy Sumarsono dan Ary Muladi. Dua nama tersebut, kini selalu disebut dalam kasus Anggoro.

Kita tarik ke belakang. Dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang menyeret Jaksa Urip Tri Gunawan, juga tercium peran Markus  untuk meloloskan Sjamsul Nursalim, bos Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI). Ketika itu, nama Artalyta Suryani alias Ayin mencuat, setelah KPK menangkap basah Jaksa Urip ketika menerima uang tunai 660 ribu dolar AS (sekitar Rp 6 miliar) dari perempuan itu. Kini Artalyta dan Urip sedang menjalani hukuman di balik jeruji besi.

Para Markus berada di berbagai lapisan institusi penegak hukum maupun lembaga peradilan, mulai dari daerah sampai pusat. Pertengahan 2008, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus)  Marwan Effendy pernah mengeluarkan surat edaran berisi perintah pembasmian Markus di jajaran jaksa. Dia mewajibkan setiap kejaksaan memasang papan pengumuman anti makelar kasus. Pengumuman serupa juga terpasang di Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Kejagung).

Melihat daya rusak para Markus, mari kita belajar dari Markus, sang penulis Injil Markus. Demikian mulianya pekerjaan Markus, terutama bagi umat Kristiani. Tulisan-tulisannya menumbuhkan dan memperkuat iman Kristen agar semakin percaya dan yakin kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Bukan “Markus” si makelar kasus yang menghancurkan sistem hukum dan peradilan.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s