Masaro Century Gate

DUGAAN kriminalisasi terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah bergulir liar. Kasus ini bermula dari kasus korupsi pengadaan alat komunikasi di Departemen Kehutanan oleh PT Masaro Radiokom dan pemberian dana talangan (bailout) Rp 6,72 triliun ke Bank Century, melebihi usulan DPR yang hanya Rp 1,2 triliun. Kedua kasus itu mulai diberi sebutan “Masaro Century Gate”.

Kata “Gate” sangat menakutkan bagi para pemimpin negara. Sebut dua contoh. Pertama skandal Water Gate di Amerika Serikat yang memaksa Presiden Richard Nickson secara tragis jatuh dari kekuasaannya. Kedua, Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang jatuh akibat skandal Bulog Gate.

Sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Tamagola, menyebutkan sejumlah ciri “gate”, yakni melibatkan petinggi negara, yaitu presiden, melibatkan orang dalam istana, dan selalu terbongkar dari peristiwa yang sepele.  Kasus Water Gate dimulai dengan polisi menangkap orang yang masuk ke dalam gedung Water Gate di Amerika. Sedangkan Bulog Gate terungkap dari tukang pijatnya Gus Dur. Sedangkan  Masaro Century Gate, dimulai dari cinta segitiga Ketua KPK Antasari Azhar, Rani Juliani, dan Nasrudin Zulkarnaen yang berujung pembunuhan terhadap Nasruddin.

Ciri lain “gate”, yakni saat kasus tersebut terbongkar, maka semua yang terlibat di dalamnya akan tergopoh-gopoh melakukan komunikasi intensif untuk membangun suatu rekayasa. Rekayasa tersebut sewaktu-waktu berubah karena panik. “Gate” juga memiliki ciri adanya rekaman yang membuktikan kasus tersebut, di mana tidak ada keraguan di dalamnya.

Terakhir, “gate” selalu disandingkan dengan pers. Dan apabila kasus saat ini berubah menjadi Masaro Century Gate, kita telah melihat betapa besarnya peran pers, karena kasus ini berada di ranah publik, opini publik.

Apabila skandal kriminalisasi terhadap KPK menguat menjadi Masaro Century Gate, bisa menjadi ancaman serius bagi kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apalagi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh rakyat dari berbagai lapisan, mahasiswa, dan akademisi/pengamat, semakin masif. Pers pun semakin lantang meneriakkan kasus tersebut.

Kondisi tersebut bisa mengarah ke situasi yang lebih buruk. Bukan tak mungkin terjadi pengerahan massa secara lebih besar lagi kemudian berubah menjadi gerakan menjatuhkan pemerintah oleh kekuatan rakyat (people power). Indonesia memiliki sejarah yang masih muda mengenai hal itu, manakala kekuatan rakyat berhasil melengserkan Presiden Soeharto tahun 1998 silam. Tahun 1986, Presiden Filipina Ferdinand Marcos juga tumbang digoyang kekuatan rakyat.

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, juga mengingatkan SBY untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya people power.  Sebab, dari berbagai pengalaman, kekuatan rakyat tak mungkin dihadapi dengan kekuasaan. Kekuasaan hanya bisa memperlambat jatuhnya sebuah rezim, sebagaimana saat ini terjadi di Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi.

Peringatan bakal terjadi people power juga dilontarkan mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais. Dia  mengingatkan, SBY bisa tumbang apabila penyelesaian pertikaian cicak lawan buaya berlarut-larut.  Amien Rais mendapat julukan Bapak Reformasi saat menumbangkan rezim Soeharto dan merupakan aktor tumbangnya Gus Dur dalam kasus Bulog Gate.

Kita melihat makin banyak pengerahan massa menentang kekuasaan. Semakin sering menyebut SBY berada di balik kasus dugaan kriminalisasi terhadap KPK. SBY dinilai terlalu banyak pidato dan lebih suka menjaga image dalam penuntasan kasus KPK vs Polri  alias  Cicak vs Buaya.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s