Impikan Bank “Grameen” Sulut

Muhammad Yunus
Muhammad Yunus

ADA usulan pemikiran terlontar saat rapat dengar pendapat antara Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Utara dengan jajaran manajemen Bank Sulut, Kamis (3/12/2009). Anggota komisi yang membidangi sektor perekonomian itu mengusulkan agar Bank Sulut sebaiknya dijual saja. (Tribun Manado, 4/12/2009; hal 4).

Yang dimaksud “menjual” dalam konteks ini adalah mendaftarkan Bank Sulut ke pasar modal. Taksasi nilai penjualan bank milik Pemprov Sulut itu berkisar Rp 900 miliar. Bila  separoh sahamnya dilepas ke pasar modal, pemerintah bisa meraup dana Rp 450 miliar yang dapat dimanfaatkan untuk membangun pembangkit listrik. Sisanya dapat dinikmati dalam bentuk dividen. Dividen adalah pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki.

Usulan menjual Bank Sulut sebenarnya bukan ide buruk. Apalagi Bank Sulut sedang membutuhkan tambahan modal yang tidak sedikit guna memenuhi syarat Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yakni modal minimal Rp 5 triliun pada tahun 2010. Bank Sulut baru memiliki modal sekitar Rp 3,5 triliun. Artinya masih butuh Rp 1,5 triliun lagi.

Mendapatkan modal Rp 1,5 triliun bukan perkara mudah. Sedangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sulut ‘hanya’ sebesar Rp 1,1 triliun. Itupun masih kurang untuk kebutuhan pokok, yakni membiayai berbagai sektor pembangunan. Namun demikian, bukankah masih ada pemerintah kabupaten/kota yang bisa diajak untuk menambah modalnya di Bank Sulut?

Apabila pemerintah provinsi dan manajemen Bank Sulut sendiri mampu mengajak pemerintah kabupaten/kota untuk menambah modal ke Bank Sulut, tambahan modal Rp 1,5 triliun bisa lebih ‘mudah’ terpenuhi. Apalagi sejumlah kabupaten di Gorontalo juga sudah memastikan akan menambah modalnya di Bank Sulut.

Usulan menjual Bank Sulut mendapat reaksi penolakan dari anggota Komisi II lainnya. Direktur Utama Bank Sulut, Jeffry Wurangian, juga tidak setuju.  Ada keyakinan bank tersebut mampu mencukupi modal tersebut, jika melihat dari kinerjanya. Bank Sulut bukanlah bank bobrok. Kinerjanya cukup baik dan terbukti tiap tahun mampu menambah aset sebesar Rp 700 miliar.

Bank Sulut bahkan mendapat penghargaan “Platinum Award” dari Majalah Infobank pada September 2009 dengan predikat “sangat bagus”. Predikat seperti itu dicapai selama 10 tahun berturut-turut. Sekarang, tinggal bagaimana kita memperkuat bank kebanggaan masyarakat Sulut yang telah berdiri sejak tahun 1961 (48 tahun), ini agar benar-benar memberikan manfaat seluas-luasnya bagi perbaikan ekonomi masyarakat, tak terkecuali masyarakat di  pedesaan.

Tentu kita pernah mendengar nama Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006. Dia juga mendapat lebih dari 30 penghargaan internasional dan sekitar 27 gelar kehormatan dari berbagai perguruan tinggi di dunia. Penghargaan itu atas jasanya mendirikan Grameen Bank tahun 1983 dengan konsep yang sama sekali bertentangan dengan prinsip bank konvensional.

Ketika bank-bank di seluruh dunia sangat mengutamakan asas prudent atau kehati-hatian dalam menyalurkan kredit, Muhammad Yunus selaku pendiri sekaligus direktur Grameen Bank justru menyalurkan kredit tanpa jaminan untuk masyarakat miskin di pedesaan, terutama kaum perempuan miskin, untuk wiraswasta. Tujuannya untuk mengeluarkan mereka dari kubangan kemiskinan.

Grameen Bank tetap bertumbuh pesat kendati ‘nekat’ menyalurkan kredit tanpa surat perjanjian dan tanpa sanksi apapun seandainya ada nasabah yang menunggak kredit. Hanya mengutamakan “trust” atau kepercayaan. Terbukti dari kucuran kredit sebesar 6 miliar dolar AS (Rp 60 triliun), tingkat pengembaliannya mencapai hampir 99 persen dan disetor tepat waktu!

Hasilnya, kendati baru berumur 26 tahun, Grameen Bank telah memiliki 2.431 cabang yang menyediakan kredit bagi 7,2 juta rakyat miskin di 78.659 desa di Bangladesh. Bank ini menerapkan sistem perbankan yang adil, pro rakyat miskin, dan pro perempuan. Bunga yang diterapkan pun sangat rendah.

Ketika berkunjung ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Muhammad Yunus menyatakan bahwa sistem Grameen Bank bisa diterapkan di Indonesia, karena sistem tersebut bersifat visibel. Kita bermimpi, suatu ketika Sulut memiliki Bank “Grameen” Sulut. (Grameen adalah pedesaan). Lantaran itu, daripada mendesak penjualan Bank Sulut, bukankah lebih baik mendorong bank tersebut agar bisa menerapkan sistem seperti Grameen Bank?(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s