Paranoid Politik

PARANOID adalah  ajektiva, kata sifat, untuk penderita paranoia. Paranoia didefinisikan sebagai penyakit mental di mana seseorang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya.

Penderita paranoid mengalami delusi atau waham, yakni keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika. Dia terus berprasangka, penuh curiga.

Berdasar kamus Webster yang dikutip Wikipedia, paranoia didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan kecurigaan yang tidak rasional atau tidak logis.

Penderita paranoid juga memiliki waham bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau berencana membahayakan dirinya. Waham ini menjadikan penderita paranoid selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti, serta diawasi. Dia merasa bahwa ada kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya.

Akibatnya, sang penderita menarik diri dari lingkungan sosial (social withdrawl). Pada umumnya tidak menyukai orang lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya sehingga dia hanya memiliki sedikit teman.

Paranoid terjadi akibat adanya gangguan kepribadian yang disebabkan oleh respon pertahanan psikologis (mekanisme pertahanan diri) yang berlebihan terhadap berbagai stres atau konflik terhadap egonya dan biasanya sudah terbentuk sejak usia muda.

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar, membaca di media massa, dan menonton di televisi, pernyataan- pernyataan penuh kecurigaan sebagian pemimpin negara terhadap rakyat. Selalu mencurigai gerakan sosial, termasuk aksi para penentang korupsi, sebagai upaya penggalangan massa untuk mendongkel kekuasaan.

Pemerintah mencurigai adanya rencana menggulingkan pemerintah dengan menunggangi peringatan Hari Antikorupsi se-Dunia pada 9 Desember 2009 mendatang. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan telah mengantongi dokumen berisi rencana penggulingan kekuasaan. Pernyataan presiden berdasar data intelejen yang diklaim A1 alias valid.

Kita tahu dari pemberitaan bahwa dokumen dimaksud merupakan resume dari pertemuan sejumlah tokoh di Hotel Darmawangsa yang beredar luas di sejumlah mailing list (grup surat elektronik). Adapun tokoh yang diberitakan hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Surya Paloh, Syafii Maarif, Din Syamsuddin, Yudi Latief, Fadjroel Rahman, dan Ray Rangkuti.

Namun, tokoh-tokoh tersebut membantah adanya pertemuan tersebut. Din Syamsuddin dan Syafii Ma’arif menyatakan tak ada pertemuan semacam itu. Jusuf Kalla bahkan menyatakan, tidak menghadiri “pertemuan” itu dan justru sedang berada di Makassar, Sulawesi Selatan,

Pernyataan Kepala Negara bahwa gerakan sosial pada peringatan Hari Antikorupsi memiliki motivasi politik tertentu dan tak berhubungan dengan semangat pemberantasan korupsi, justru dianggap sebagai ancaman secara halus.  Menurut pengamat politik UI, Arbi Sanit, masyarakat justru `diancam’ dengan informasi akan ada keributan. Ini menimbulkan ketakutan sendiri terhadap masyarakat.

Pernyataan SBY juga dinilai tidak pro gerakan antikorupsi. Padahal, SBY selalu mengatakan bahwa dirinya akan berada di barisan paling depan dalam upaya pemberantasan korupsi. Apalagi di tengah hiruk-pikuk kasus pengucuran dana talangan senilai Rp 6,7 triliun kepada Bank Century.

Harapan kami, tidak ada ‘pembisik’ tidak profesional yang menyampaikan informasi tidak valid kepada presiden. Semoga pernyataan presiden bukan sebagai bentuk paranoid politik, sebagaimana dugaan Syamsudin Haris, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s