Penegakan HAM Hanya di Mulut

SUDAH 61 tahun dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM). Merujuk Deklarasi Universal HAM yang disepakati Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948.

Namun, sepanjang puluhan tahun itu pula, pelanggaran HAM senantiasa berlangsung di berbagai penjuru dunia, bahkan semakin memprihatinkan. Mereka yang lemah secara ekonomi dan politik, paling sering menjadi korban perampasan hak-hak paling mendasar yang dimiliki manusia. Nyawa kaum lemah pun menjadi tak ada nilainya.

Di Indonesia, keadilan tidak berpihak pada orang kecil. Hukum hanya untuk kepentingan orang berkuasa dan mereka yang punya banyak uang untuk menyewa pengacara-pengacara, ketika berurusan dengan hukum.

Harus diakui bahwa pelanggaran HAM umumnya dilakukan oleh kalangan elite, penguasa, dan pengusaha tamak. Karena hanya kelompok inilah yang  menguasai alat-alat kekuasaan, misalnya penegak hukum. Terbukti bahwa institusi kepolisian menempati peringat satu pelaku pelanggaran HAM. Metode pemaksaan dalam penanganan perkara merupakan satu contoh pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penegak hukum tersebut.

Berdasar catatan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta saja, dalam setahun terdapat 1.200 kasus pelanggaran HAM. Sekitar 100-150 laporan pelanggaran HAM dilakukan oleh polisi dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Ini berdasar data Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Pelanggaran HAM dalam penegakan hukum memang tercatat paling tinggi di negeri ini. Sepanjang 2009 saja, mencapai 1.374 pengaduan atau 33 persen dari seluruh aduan kepada Komisi Nasional HAM.

Catatan Komnas HAM, tahun ini terdapat 1.106 pengaduan (27 persen) pelanggaran HAM oleh polisi. Sedangkan total pengaduan mencapai 4.142 kasus. Institusi pelanggar HAM berikutnya adalah perusahaan (748 pengaduan) dan pemerintah daerah (550 pengaduan). Ini menggambarkan secara jelas bahwa pelanggar HAM terbesar dilakukan oleh penguasa dan alat-alat kekuasaan.

Indonesia telah membentuk Komnas HAM sejak tahun 1993. Kita juga punya perangkat undang- undangnya, yakni UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, sebagai tindak lanjut Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR) Nomor  VII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Itu terbit di zaman Presiden BJ Habibie yang memerintah hanya seumur jagung.  Tapi apa daya komisi itu bila berhadapan dengan penguasa dan alat kekuasaan yang hobi melanggar HAM? Demikian pula undang- undang. Percuma!

Selain perilaku aparat tersebut, para pekerja migran kita (TKI/TKW) di berbagai negara, terus diperbudak dan mengalami siksaan keji oleh majikan mereka di jiran.  Sumber persoalan sebenarnya berasal dari dalam negeri. Ini lantaran pemerintah seolah-olah kehabisan akal menghadapi perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).

Berdasar data organisasi buruh internasional (ILO), setiap tahun Indonesia mengirimkan sedikitnya 750 ribu pekerja migran ke luar negeri. Jumlahnya bisa empat kali lipat bila TKI tak berdokumen juga masuk hitungan. Tapi pemerintah tak mampu memberikan perlindungan kepada mereka, sehingga sering terjadi para TKI bisa bertemu dengan keluarganya ketika sudah menjadi mayat. Untuk Sulawesi Utara, tentu kita masih ingat kasus yang menimpa Upriyanti Kasim, TKW asal Minahasa Utara yang bekerja di Malaysia.

Para TKI menjadi korban kekerasan di luar negeri lantaran pemerintah tak sanggup memberikan penghidupan yang layak kepada mereka. Sehingga kaum miskin yang rentan ini harus rela ke luar negeri agar bisa memenuhi kebutuhan mendasar seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan jaminan sosial. Dan ketika menjadi babu di luar negeri itulah mereka menjadi sangat rentan terhadap pelanggaran HAM.

Banyaknya kasus pelanggaran HAM di Indonesia, maupun terhadap warga negara Indonesia, menunjukkan bahwa selama ini, penegakan HAM di Indonesia hanya di mulut alias “omdo” alias omong doang.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s