Asal Tidak Ciptakan Mudarat

RATUSAN nelayan tradisional yang bermukim dan menggantungkan hidupnya dari kemurahan Tuhan melalui kekayaan laut, menolak kebijakan reklamasi perairan di pesisir pantai Kota Manado. Mereka menilai reklamasi sebagian laut menjadi daratan bisa merusak ekosistem di daerah pesisir. Sikap mereka diwujudkan dengan menggelar demonstrasi di Teluk Manado, sekaligus memperingati “Hari Nusantara”. (Tribun Manado, Minggu 13 Desember 2009).

Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Reklamasi tersebut bisa mengubah atau bahkan merusak ekosistem.

Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan, organisme dan non organisme lain serta proses yang menghubungkannya dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas. Gangguan pada satu atau lebih dari kesatuan tersebut, akan mengubah dan atau merusak keseimbangan dalam ekosistem. Yang pertama mengalami dampak dari gangguan ekosistem itu adalah masyarakat yang merupakan bagian dari kesatuan ekosistem itu sendiri.

Sesungguhnya praktik reklamasi tak selalu merugikan. Tentu saja bila dilakukan berdasar pertimbangan untung rugi secara matang. Menimbang manfaat dan mudarat secara teliti melalui analisis dampak lingkungan (Amdal) yang dilakukan secara benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Apabila studi Amdal menunjukkan lebih besar manfaat dari mudaratnya, bolehlah kita melakukan reklamasi.

Banyak contoh reklamasi yang memberikan lebih banyak manfaat daripada mudarat. Seperti yang dilakukan di Pulau Macau sejak tahun 1972,  reklamasi di Malaysia untuk perluasan Pelabuhan Tanjung Pelepas, perluasan Kansai International Airport di Osaka, Jepang, hingga reklamasi yang dilakukan Singapura untuk memperluas Changi Internaional Airport dan daerah industri. Masih banyak lagi contoh reklamasi di berbagai belahan dunia,  tak terkecuali Amerika Serikat, yakni membangun Kota Washington DC di atas lahan reklamasi yang sebelumnya rawa-rawa.

Karena itu, menurut kami, ketika melakukan reklamasi, pemerintah harus berjanji bahwa mereka mampu menekan seminimal mungkin dampak ekologis yang ditimbulkan. Di samping itu,  reklamasi tersebut tidak memarginalkan atau membuat para nelayan terpinggirkan. Karena melihat pengalaman yang terjadi di Indonesia, ketika lahan reklamasi menjadi pusat bisnis yang modern, justru membuat para nelayan terlempar dari habitatnya. Bagi yang bertahan, umumnya hidup di bawah garis kemiskinan. Dan lantaran miskin serta memberikan pemandangan kumuh, akhirnya para kapitalis menjadikan kaum miskin itu target utama untuk disingkirkan. Mereka dituding “merusak pemandangan”.

Tuntutan lain dari para nelayan adalah pencabutan Undang-Undang No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Definisi wilayah pesisir dalam UU tersebut adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.

Para nelayan tradisional mempersoalkan pengaturan zonasi dalam UU tersebut. Pengaturan zonasi, termasuk pengkavlingan terhadap wilayah laut, bertujuan konservasi terhadap wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan.

Persoalannya, pengkavlingan tersebut telah mempersempit wilayah operasi dan membatasi akses para nelayan tradisional terhadap kekayaan alam yang menjadi hak seluruh rakyat Indonesia. Zonasi telah menurunkan hasil tangkapan para nelayan. Sementara mereka hanya menggunakan alat tangkap sederhana sehingga tak memiliki akses untuk mencari ikan di perairan yang lebih dalam atau lebih jauh dari daratan.

Para nelayan tradisional merasa kian terpinggirkan, semakin tak berdaya secara ekonomi, dan menjadi lebih miskin. Mereka tidak bisa secara leluasa menikmati kekayaan laut. Apalagi ketika mereka tidak diberdayakan, justru merasa dipersulit ketika hendak menikmati kekayaan laut untuk meningkatkan kesejahteraannya.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s