Merampas Masa Depan Remaja

PERBUATAN bejat. 12 Pria secara bergiliran memperkosa seorang remaja yang baru berusia 14 tahun. Lebih miris lagi, perbuatan keji ini diawali oleh teman dekat korban, kemudian ‘menyerahkan’ kepada sebelas temannya untuk melakukan tindakan serupa terhadap korban yang masih katagori anak di bawah umur.

Kekerasan seksual tersebut terjadi setelah pelaku mencekoki korban dengan minuman keras dicampur obat perangsang. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, para pemuda itu meninggalkan korban tergeletak di lokasi kejadian. (Tribun Manado, 14 Desember 2009).

Apakah kita akan menyalahkan minuman beralkohol “Cap Tikus” sebagai penyebab perbuatan biadab itu? Menurut kami, minuman keras tersebut sama sekali tidak ‘bersalah’. Cap Tikus justru merupakan sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat di Sulawesi Utara. Minuman beralkohol hanya mengakibatkan orang yang mengonsumsinya lepas kendali, tapi bukan penyebab terjadinya pebuatan bejat tersebut. Bukan tak mungkin para pelaku telah menyusun rencana sebelumnya.

Perbuatan para pelaku boleh dikata lebih buruk dari perilaku binatang. Sekalipun dalam dunia hewan berlaku hukum rimba, tapi binatang tak pernah memperkosa sesama binatang. Padahal, Tuhan mengaruniakan akal budi dan hati nurani kepada manusia untuk membedakan makhluk ini dari binatang. Tapi kini, manusia bahkan lebih keji dari binatang buas sekalipun.

Dampak psikologis yang diderita korban pemerkosaan, terlebih masih di bawah umur, sangat mendalam. Dia bisa menderita trauma berkepanjangan sehingga membahayakan masa depannya. Apalagi, menurut psikolog Elis Ratnawati, usia 14 tahun termasuk masa pencarian jatidiri seorang remaja putri yang akan beranjak dewasa.

Remaja belia yang  mengalami kekerasan seksual, bisa menarik diri dari pergaulan dan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan. Dia akan kehilangan jatidiri, hilang harga diri, merasa malu, terhina, dan kotor. Korban  bisa juga menjadi sangat frustasi dan marah, sehingga bisa saja melakukan hal-hal yang lebih buruk dalam hidupnya yang masih panjang.  Bahkan bisa nekat mengakhiri hidupnya sendiri.

Korban dan keluarganya telah melaporkan kasus tersebut kepada polisi. Para pelaku telah melanggar Pasal 82, UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal tersebut berbunyi, “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat tiga tahun dan denda paling banyak Rp 300 juta dan paling sedikit Rp 60 juta.”

Sebagai perbandingan, peristiwa serupa pernah terjadi terhadap remaja 18 tahun oleh tiga pria di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, tahun 2007. Hakim di Pengadilan Negeri Rantauprapat menjatuhkan vonis 23 tahun penjara plus denda Rp 100 juta terhadap ketiga pelaku.

Ketiganya divonis melanggar pasal 81 ayat (1) UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dalam dakwaan kesatu. Dakwaan kedua melanggar pasal 285 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Harapan kami, penegak hukum di Manado juga memberikan hukuman seberat-beratnya terhadap para pelaku kekerasan seksual terhadap anak bawah umur. Ketegasan aparat dan hukuman setimpal kiranya menimbulkan rasa jera terhadap semua orang agar tidak berani melakukan tindakan serupa. Apalagi perbuatan keji itu tak hanya merenggut kehormatan korban yang masih remaja, tetapi sekaligus merampas masa depannya yang masih panjang.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s