“Bangsat” Yang Terhormat

SIKAP wakil rakyat yang terhormat kian tak mencerminkan sopan santun dan etika sebagai manusia yang bermartabat. Beberapa wakil rakyat di DPR Pusat bahkan sangat bobrok dan jauh dari karakter bangsa Indonesia.

Ruhut Sitompul, anggota Panitia Khusus Bank Century dari Partai Demokrat, memuntahkan kata “bangsat” kepada Pimpinan Pansus, Gayus Lumbuun, dari PDIP. Gayus juga melontarkan kata “kurang ajar” kepada Ruhut yang ngotot melakukan interupsi. Umpatan “bangsat”  dan “kurang ajar” sangat tidak pantas, apalagi dilontarkan dengan penuh emosi di tengah rapat Dewan yang terhormat.

Sikap kedua wakil rakyat tersebut, terutama Ruhut, jelas membuat risih rakyat Indonesia. Rapat yang semestinya untuk mengurai benang kusut kasus pengucuran uang rakyat senilai Rp 6,7 triliun kepada Bank Century, justru dijadikan ajang saling memaki. Dinamika politik yang sangat aneh Ini justru kian melenceng dari substansi dibentuknya pansus tersebut.

Selain membuat risih, sikap tak beretika yang ditunjukkan di forum yang terhormat itu membuat kecewa rakyat. Wakil rakyat yang terhormat justru menjadikan diri mereka sendiri sebagai “bangsat” dan “kurang ajar” yang terhormat.

Tak hanya melontarkan kata-kata kasar. Ruhut, politisi Partai Demokrat, justru terlihat bersikap arogan dan menyatakan the loser (pihak yang kalah pemilu) jangan ada yang main api dengan pemenang pemilu. The loser jangan angkuh, harus tahu diri. Ruhut menyatakan tak takut dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) DPR. Dia bahkan siap dibawa ke surga atau neraka sekalipun karena dirinya tak pernah keliru!

Ruhut juga seringkali “berbalas pantun” dengan anggota Dewan lainnya dalam rapat. Seringkali melontarkan interupsi yang justru memecah konsentrasi anggota Pansus yang tengah mendalami suatu masalah. Akibatnya kinerja pansus menjadi tidak fokus, rapat menjadi tidak bisa berjalan efektif. Padahal kerja pansus kasus Century ada batas waktunya sehingga dituntut bekerja secara efektif membuka tabir dugaan korupsi terhadap triliunan rupiah uang rakyat.

Kita (rakyat) perlu mempertanyakan sikap Partai Demokrat yang tidak mempersoalkan sikap tidak beretika dari kadernya. Demokrat sebagai parpol pemenang pemilu, bahkan menyatakan selalu mengutamakan politik santun dan beretika, justru  membela kadernya dan menganggap itu sikap yang wajar.

Ketua Fraksi Demokrat Anas Urbaningrum juga menyatakan fraksinya menilai tak perlu menegur Ruhut ‘hanya’ karena umpatan “bangsat” kepada sesama anggota Dewan yang terhormat di forum rapat resmi. Anas menilai itu sebagai “bukan persoalan serius”. Hanya sebuah dinamika yang “agak panas”  sehingga tidak perlu dibawa ke Badan Kehormatan DPR

Sikap tersebut terkesan menganggap remeh etika bagi seorang anggota Dewan yang terhormat. Sebab, kata “bangsat” jelas bahasa jalanan dan itu bukan argumentasi yang baik dalam perdebatan di forum resmi menyangkut kepentingan rakyat Indonesia. Mereka adalah para wakil yang terhormat, sehingga tidak pantas memaki dan mengumpat sesama mereka.

Semestinya partai politik memerhatikan dan memberi teguran keras kepada kadernya yang telah bersikap mempermalukan institusi Dewan yang terhormat, sekaligus mempermalukan bangsa Indonesia di mata dunia, apalagi sikap tidak terpuji itu dipertontonkan di depan publik. Kader seperti itu harus diproses oleh komisi etik di parpolnya. Dan sebagai anggota Dewan, harus menjalani proses etik di Badan Kehormatan DPR.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s