Atur Harga Cengkih

PETANI cengkih di Sulawesi Utara akan memasuki panen raya pertengahan tahun ini, antara Mei hingga Agustus. Saat ini harga cengkih berkisar Rp 45 ribu hingga Rp 46 ribu per kilogram. Para petani berharap bisa menikmati harga sekitar Rp 50 ribu per kilogram.

Saat panen raya, produksi cengkih Sulut diperkirakan mencapai 13-15 ribu ton. Sesuai hukum ekonomi, manakala penawaran tinggi, harga akan turun. Biasanya harga cengkih anjlok menjadi hanya Rp 20 ribu per kilogram.

Lantaran itu, pemerintah diharapkan bisa mengatur harga cengkih agar tidak melorot sehingga merugikan petani. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Gemmy Kawatu, sangat menyadari hal tersebut.

Usulan Disperindag Sulut patut diapresiasi, yakni meminta pemerintah pusat agar memfasilitasi pabrik rokok dan pembeli cengkih lainnya dapat mempertahankan harga di tingkat yang wajar bagi petani. Selain upaya pemerintah daerah, kami juga berharap para wakil rakyat di daerah maupun di DPR RI, ikut memperjuangkan hal tersebut.

Sebab, apabila harga merosot tajam, para petani pasti merugi. Jika kita mampu mempertahankan harga di level wajar, jelas pendapatan petani lebih tinggi dan akan berdampak langsung terhadap perekonomian daerah ini. Daya beli petani dipastikan naik sehingga membuat perekonomuan lebih berdenyut.

Hal krusial lain yang patut menjadi perhatian kita bersama adalah permainan harga di level pedagang pengumpul. Petani kita tidak bodoh, sehingga seringkali mereka menyimpan stok atau tidak langsung menjual hasil panen sembari menunggu harga membaik. Namun para pedagang pengumpul tertentu memiliki aneka cara untuk mengendalikan harga.

Pengalaman menggambarkan, harga tetap saja rendah ketika petani menyimpan stok. Harga justru melonjak ketika stok berpindah ke tangan pedagang. Di sinilah perlunya pengaturan oleh pemerintah pusat menjadi penengah antara industri rokok dan petani sehingga mereka mau membayar petani dengan harga yang wajar itu tadi.

Kita tidak bisa menempatkan petani di level lebih rendah dari pedagang dan produsen rokok. Semuanya harus berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Perlu diingat bahwa peran petani cengkih di Sulut cukup penting. Dari 100-200 ribu ton kebutuhan cengkih nasional, petani Sulut memasok 15-20 persenya.

Sistem ijon juga menjadi persoalan klasik. Para petani cengkih seringkali telah terikat pengijon, sehingga setinggi apapun harga cengkih di pasaran, mereka tak bisa ikut menikmati. Tidak sedikit dari petani kita biasanya sudah menjaminkan cengkihnya kepada pengijon akibat terlilit utang atau kebutuhan mendesak lainnya. Tentu saja pengijon menawar dengan harga terendah karena berada di posisi ‘berkuasa’.

Tak mudah melepaskan para petani dari pengijon. Tapi tidak berarti jalan keluar sudah tertutup sama sekali. Peran pihak perbankan bisa menjadi solusi. Butuh kemauan dan keberanian perbankan menyalurkan kredit kepada petani.

Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian, terbukti mampu melakukannya melalui Grameen Bank di Bangladesh. Dia berani memberikan kredit kepada kaum miskin melarat, tapi banknya tetap tumbuh sehat. Pengembalian kredit oleh orang-orang miskin bahkan mencapai 99 persen. Tentu saja petani cengkih di Sulut memiliki kemampuan mengembalikan kredit lebih baik dari para nasabah Grameen Bank. Bukankah kita tidak ingin petani cengkih justru miskin ketika panen raya?(*)

Manado, 25 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s