Risiko Rakyat Tomohon Memilih Epe

Jefferson Soleiman Montesqieu Rumajar. Pria gagah ini adalah Wali Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang baru terpilih kembali untuk masa jabatan periode kedua. Sang incumbent yang akrab disapa  Epe,

Jefferson Rumajar
Jefferson Rumajar

berpasangan dengan Jimmy Eman, memenangkan Pemilukada pada 3 Agustus 2010 lalu. Sebelumnya dia bersama Syenie Watoelangkow memimpin Kota Bunga periode 2005-2010.

Pasangan Jefferson-Jimmy kemungkinan besar


tidak bisa berduet dalam memutar roda pemerintahan di Kota Tomohon hingga lima tahun ke depan, lantaran Epe sudah dijebloskan ke Rutan Cipinang, Jakarta, sejak 22 September 2010. Itu artinya Jimmy lah yang akan sendirian memimpin Kota Bunga.

Epe berstatus tersangka sejak 14 Juli 2010 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi penggunaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tomohon tahun 2006-2008. KPK menduga Ketua DPD II Golkar Tomohon itu telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 19,8 miliar.

Saya tahu betul soal proses Pemilukada serentak di seantero Sulut, tak terkecuali di Tomohon. Dan ketika hiruk-pikuk proses dan persiapan pemungutan suara, tiba-tiba belasan penyidik KPK muncul di Tomohon. Mereka secara serentak menggeledah kantor dan beberapa rumah milik Epe guna mencari bukti-bukti terkait dugaan korupsi tersebut. Rumah beberapa pejabat daerah setempat tak luput dari penggeledahan.

Kendati sudah berstatus tersangka kasus korupsi, Epe tetap melaju dalam proses kembali memimpin Kota Tomohon. Bahkan dukungan masyarakat bagi dia terlihat begitu kuat. Terbukti Epe akhirnya kembali terpilih sebagai Wali Kota Tomohon.

Kini, Epe dan pasangannya sedang menunggu pelantikan sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tomohon. Namun, KPK tak mengizinkan dia dilantik di daerah kekuasannya karena masih bertatus tahanan KPK. Lembaga antikorupsi itu membolehkan pelantikan tetapi harus di dalam penjara atau minimal di kantor Departemen Dalam Negeri (Depdagri) di Jakarta. Hal ini dilontarkan Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono, Jakarta, Kamis (9/12/2010).

Terlepas dari terbukti atau tidaknya Epe sebagai pelaku korupsi, namun hal mengherankan bagi saya adalah soal risiko yang diambil masyarakat Kota Tomohon dengan kembali memilih Epe, mengingat orang yang mereka pilih itu sedang berurusan dengan KPK.

Kita tahu bahwa jika KPK sudah membidik seorang pejabat publik, maka hampir dipastikan dia tak akan luput dari jeratan hukum. Apa gunanya mereka memilih pemimpin jika akhirnya yang bersangkutan dijebloskan ke dalam penjara karena tersangkut kasus korupsi? Akibatnya, hampir bisa dipastikan, pilihan rakyat Tomohon menjadi sia-sia, mengingat sosok pemimpin yang mereka pilih tak bisa menghasilkan karya apapun bagi kemajuan daerah dan demi kesejahteraan rakyat yang sudah memilihnya.

Oh ya, masuknya Epe sebagai tahanan KPK, menambah daftar pejabat dari Sulawesi Utara yang menjadi korban lembaga antikorupsi itu. Sebelumnya KPK pernah menahan Bupati Minahasa Utara Vonnie Anneke Panambunan dan Wali Kota Manado Jimmy Rimba Rogi di Rutan Cipinang. Vonnie sudah selesai menjalani masa tahanan, sehingga tinggal Epe dan Jimmy alias Imba yang kini bereuni di Cipinang. (*)

Batam, 9 Desember 2010, persis di Hari Antikorupsi Sedunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s