Jangan Sepak Harapan Pecinta Bola Indonesia

Ketua Umum PSSI Nurdin Halid langsung menyambut tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menciumnya sambil membungkuk setelah Indonesia mengalahkan Filipina 1-0, Kamis (16/12/2010). (FOTO: RUMGAPRES/ABROR RIZKI)

NURDIN Halid, Ketua Umum PSSI saat ini, masih sangat bernafsu kembali memimpin organisasi tersebut untuk periode ketiga.   Pria asal Sulawesi Selatan ini sudah hampir delapan tahun menakhodai PSSI, sejak 2003.

Pengaruh Nurdin di PSSI masih sangat kuat. Terlihat dari posisi dukungan yang ada agar Nurdin kembali memimpin organisasi sepakbola kita itu melalui Kongres yang akan berlangsung di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, 19 Maret 2011 mendatang.  Ketua Umum PSSI tidak memiliki pembatasan masa jabatan.

Nurdin paling berpeluang kembali terpilih lantaran sudah mengantongi dukungan 81 suara.  Para penantangnya, masing-masing Goerge Toisutta hanya didukung 12 suara, Nirwan Bakrie (dua suara), dan Arifin Panigoro (satu suara).

Dengan begitu, harapan sebagian besar publik pecinta sepakbola di Indonesia agar ada pergantian pucuk pimpinan PSSI bakal tak terwujud. Mudah- mudahan ini tidak berarti prestasi sepakbola Indonesia (baik tim nasional maupun klub-klub) masih akan terus berjalan di tempat dalam empat tahun ke depan.

Pernyataan skeptis di atas mengingat, selama dua periode memimpin PSSI (2003-2007 dan 2007-2011), Nurdin dan jajarannya belum mampu memberikan prestasi membanggakan. Timnas Indonesia masih saja paceklik prestasi. Klub-klub yang berlaga di Indonesia Super Liga (ISL) pun seolah hanya sebagai pelengkap ketika tampil di Liga Champions Asia.

Di era Nurdin, Timnas Indonesia pernah sekali merengkuh prestasi dengan menjuarai Piala Kemerdekaan tahun 2008 setelah “mengalahkan” Libya di babak final. Prestasi yang tak bisa dibanggakan, mengingat Indonesia cuma menang WO. Libya dinyatakan kalah 3-0, lantaran enggan melanjutkan pertandingan babak kedua, kendati mereka sudah memimpin 1-0 pada babak pertama. Mereka “ngambek” setelah ofisial Indonesia menghajar pelatih Libya, Gamal Adeen Nowara, seusai babak pertama.

Di penghujung tahun 2010, Timnas Indonesia nyaris merengkuh prestasi di Piala AFF. Tampil impresif sejak babak penyisihan hingga semifinal, Indonesia akhirnya dipecundangi Malaysia yang keluar sebagai juara. Indonesia kalah 0-3 pada final leg pertama lalu menang 2-1 di leg kedua (kalah agregat 4-2). Banyak analisis seputar kegagalan tersebut. Di antaranya campur tangan berlebihan terhadap skuad Merah Putih dan upaya mendompleng kecemerlangan Firman Utina dkk demi kepentingan politik pihak tertentu.

Itulah sebabnya jutaan penggemar sepakbola di Indonesia mendesak perlunya pembaruan di tubuh PSSI, mengingat masyarakat Indonesia sangat merindukan sebuah kebanggaan melalui prestasi sepakbola nasional. Harapan itu mungkin saja tergapai bila ada penyegaran kepengurusan PSSI saat ini, di antaranya mengganti ketua umum.

Nurdin Halid dan jajarannya sudah mendapat kesempatan delapan tahun untuk membuktikan kemampuannya. Toh mereka terbukti gagal mengelola PSSI. Mereka terbukti gagal mengemban harapan publik pecinta sepakbola di negeri ini dengan menghadirkan prestasi.

Jika mereka (Nurdin Cs) juga mencintai sepakbola, semestinya mau berbesar hati untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang mungkin saja lebih mampu. Jangan karena ambisi pribadi atau demi kepentingan politik, mereka tega “menyepak” harapan pecinta sepakbola Indonesia akan prestasi yang telah dinanti sejak puluhan tahun silam.  (*)

Iklan

One thought on “Jangan Sepak Harapan Pecinta Bola Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s