Jadikan Lasiana Kampung Wisata

Pemandangan sunset dari Pantai Lasiana, Kupang, NTT.
Pemandangan sunset dari Pantai Lasiana, Kupang, NTT.

PANTAI  Lasiana di Kota Kupang dikenal sebagai destinasi wisata utama, setidaknya bagi masyarakat di daratan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak tahun enam puluhan hingga kini, pantai berpasir putih dengan lambaian nyiur dan jejeran pohon tuak (lontarBorassus flabellifer ) yang menawan itu senantiasa menjadi tempat melepas penat. Terlebih di akhir pekan maupun hari libur nasional, warga berbondong-bondong ke sana untuk menikmati panorama alam nan indah alami sembari menceburkan tubuh penat mereka di antara deburan ombak yang tak bosan membelai bibir pantai berpasir putih itu.

Pantainya yang landai dengan dasar berpasir yang lembut, membedakan Pantai Lasiana dengan pantai lainnya di daratan Timor yang umumnya berbatu dan berlumpur.  Hanya di sepotong teluk itu pula masyarakat nelayan bisa menempatkan bagan tancap – alat penangkap ikan tradisional –  yang memberi keindahan tersendiri di kala malam tiba. Kilauan lampu-lampu petromaks dari bagan-bagan tancap itu berpendar, berkilau bak berlian  di permukaan laut, membentuk garis-garis indah dan elok dipandang mata.
Tak jauh dari bibir pantai, terdapat kebun dan sawah yang menghijau. Ada juga masyarakat yang memelihara ternak seperti sapi, kambing, dan sebagainya. Ada pula penyadap lontar sekaligus pengrajin gula lontar dalam kawasan yang sama.

Toh, sudah berpuluh tahun Pantai Lasiana begitu-begitu saja. Berkali-kali sentuhan demi sentuhan dari pemerintah guna memoles dan mempercantik lokasi wisata itu seperti menebar garam di lautan. Pengembangan pariwisata seolah tanpa tujuan. Tidak ada program-program pemberdayaan yang memadai bagi masyarakat setempat. Pengembangan objek wisata terlihat berjalan terpisah dari pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

Dinas Pariwisata NTT yang merasa sebagai “pemilik” objek wisata, hanya membangun segelintir fasilitas penunjang, tapi kemudian tak dirawat dan akhirnya hancur dihantam angin dan gelombang, bahkan digerogoti rayap dan ngengat. Berbagai fasilitas itu menjadi lebih cepat rusak lantaran warga setempat tak merasa memilikinya. Mereka tak peduli ketika aneka fasilitas itu rusak.

Lantaran itu, sudah saatnya Dinas Pariwisata NTT mengembangkan objek wisata Pantai Lasiana dengan pendekatan program berbasis masyarakat. Toh, pada akhirnya tujuan pengembangan pariwisata untuk kepentingan masyarakat setempat pula, di samping sebagai penambah pundi-pundi bagi pemerintah daerah.

Program dimaksud, yakni Dinas Pariwisata NTT perlu lebih sering terlibat dalam rembug warga (misalnya musrenbang dan pertemuan lain sejenis), guna membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih mendalam bagi warga setempat agar berpartisipasi aktif dalam pembangunan pariwisata di sana.

Alangkah bagusnya bila Dinas Pariwisata mampu berembug bersama warga setempat untuk menunjuk beberapa fasilitator andal dari antara warga sendiri. Selanjutnya, petugas dari Dinas Pariwisata harus menjadi pendamping bagi para fasilitator, senantiasa membangun kesadaran terus-menerus bagi warga Lasiana agar berperan aktif mengelola pariwisata di daerah mereka sendiri.

Tentu saja Dinas Pariwisata tak bisa bekerja sendiri. Mengingat masyarakat di sekitar Pantai Lasiana juga adalah para petani, peternak, dan nelayan, maka alangkah bagusnya bila mereka mau mengajak Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, dan Dinas Perikanan-Kelautan, untuk terlibat di sana. Dengan demikian, ada banyak sumber dana dan tenaga yang bisa dikerahkan untuk “mengeroyok” pembangunan dan pengembangan pariwisata di Pantai Lasiana.

Membangun pariwisata Pantai Lasiana bukan semata dilakukan di sekitar objek wisata itu saja. Kelurahan Lasiana secara keseluruhan harus dibangun sebagai “kampung wisata”. Artinya, warga di seantero kelurahan itu harus dilibatkan secara aktif sebagai masyarakat pariwisata.

Bila semua bisa bersinergi secara baik, niscaya Pantai Lasiana tidak saja menjadi destinasi wisata alam biasa, tetapi

Pelancong di Pantai Lasiana
Pelancong di Pantai Lasiana

akan menjelma menjadi destinasi wisata yang komplit. Selain wisata alam dan budaya, ada juga agrowisata  dengan kebun,  sawah, dan aneka ternak sebagai daya tarik, ada pula wisata perikanan dengan segala aspeknya.

Alangkah indahnya bila lima atau sepuluh tahun lagi setiap warga di Pantai Lasiana dan sekitarnya menjadikan rumah, kebun, dan ladang mereka sendiri sebagai objek wisata. Artinya, mereka secara sadar dan mandiri menata rumah, kebun, dan lingkungannya masing-masing sedemikian rupa sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pelancong yang datang berkunjung. Ini hanya akan tercapai bila pemerintah dan instansi terkait memiliki program yang jelas, terencana, dan terarah, bukan asal mampu menyerap habis anggaran yang tersedia. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s